[Ficlet] When Mermaid Meets Genie

13139237_574793809360678_3997108643929416251_nAuthor : Mingi Kumiko

Cast : [SMROOKIES] Jaemin & Hina

Genre : Fantasy, Fairytale, Comedy

“Apa kau bisa membuatku memiliki kaki? Aku ingin melompat, menari, berjalan-jalan, dan banyak hal lain yang bisa aku lakukan dengan kaki.”

.

.

Biarkan aku bertanya. Menurutmu, apa hidup yang kaujalani telah sesuai dengan harapan? Maksudku, semua yang kauinginkan, apa telah terwujud? Ah, biar kubuat jadi lebih sederhana. Apa kau sudah mendapat semua yang kaubutuhkan? Kalau kalian menanyaiku demikian, maka akan kujawab; belum.

Aku sempat berpikir bahwa aku adalah gadis yang beruntung. Aku bisa menjelajah samudra, berkelana dari hulu ke hilir, bahkan aku pernah menyantap zooplankton terlezat seantero lautan.

Lalu, apa masalahnya? Hei, ini sungguh masalah besar karena aku adalah Mermaid yang selalu penasaran dengan hal baru. Sering kujumpai kelasi yang berlalu-lalang mengitari bahtera di tengah laut selebu. Mereka terlihat begitu bebas saat memiliki sesuatu yang sering mereka gunakan untuk berjalan. Dengan kata apa mereka menyebutnya? Oh, kaki.

Hari ini aku kembali menemui kapal yang singgah di tengah laut. Tiba-tiba seorang matros menenggelamkan sesuatu dari pesiar yang ia naiki.

Itu benda dari daratan! Segera kulongokkan kepala untuk kembali masuk ke dasar laut. Pokoknya aku harus mendapatkannya! Meskipun tak ada relasinya dengan keinginanku memiliki kaki, namun aku tetap meletakkan atensi berlebih pada benda apa saja yang berhubungan dengan manusia.

Aku menelisik ke seluruh penjuru laut terdalam. Bahkan ibu kepiting yang tengah terlelap aku bangunkan tanpa sungkan hanya untuk bertanya apakah dia tahu keberadaan benda itu. Aku terus mencarinya, hingga netraku menangkap sosok mencurigakan di dekat terumbu karang.

Demi Neptunus, kau akan melongo – seperti aku saat ini – kalau sudah melihat pergerakan anehnya. Ia berputar-putar dan tubuhnya sempat terhuyung arus air. Dan, hei, dia punya kaki! Apakah dia manusia tenggelam?

Terhitung sudah lima belas tahun aku bertengger hingga hampir muak di dalam lautan, namun baru kali ini kulihat orang yang reaksinya seaneh itu saat kesulitan bernapas.

Tanpa tedeng aling-aling aku segera menolongnya. Biasanya para Mermaid akan memberikan jasa antar gratis menuju tepi teluk agar manusia yang tenggelam bisa segera mendapatkan udara.

Belum sempat aku meraih lengannya untuk kutopang, pria itu kembali memamerkan tarian aneh. Wajahnya pun berubah konyol; bola matanya melirik ke atas dan tersenyum lebar, menunjukkan deretan gigi putihnya.

Akhirnya kubiarkan pria itu bersandar di bebatuan koral. Lekas aku mengerahkan kecepatan berenangku yang paling dahsyat menuju Cavern untuk memetik beberapa helai gagang ungu – tumbuhan yang berkhasiat membuat manusia bernapas di dalam air.

Beruntunglah pemuda itu mendapatkan aku sebagai yang pertama kali melihatnya berdansa di bawah laut. Tak sembarang orang boleh masuk ke Cavern. Berhubung aku adalah anak dari kepala penjaga goa itu, jadi aku mengetahui mantra untuk membuka gerbangnya.

Sekembali dari Cavern, buru-buru aku jajalkan gagang ungu ke mulut lebarnya. Sekujur tubuhnya pun bergetar setelah gagang ungu itu masuk ke kerongkongannya. Ia memposisikan tubuhnya dengan sigap lantas berujar, “Katakan yang Tuan inginkan, maka hamba akan kabulkan.”

Sontak kususul ujaran itu dengan dahi mengernyit dan mata memicing. “Apa yang kaubicarakan?” tanyaku.

“Ah, biarkan aku bercerita sebentar. Tadi, saat aku sedang tertidur, tiba-tiba tempat tinggalku kebanjiran. Karena panik, jadi aku langsung keluar. Dan ternyata aku ada di dasar lautan.”

“Tempat tinggal? Aku yakin yang jatuh tadi cuma benda yang bisa diraup genggaman tangan. Bukan benda sebesar rumah!”

Otot matanya ditarik ke samping dan menunjuk sebuah benda yang tergeletak di atas pasir. Aku tidak tahu itu namanya apa, yang jelas bentuknya lebar, berwarna keemasan, serta memiliki bagian kecil berbentuk silinder sebagai tempat masuknya air.

“Kau tinggal di sana? Yang benar saja!” hardikku menimpali leluconnya.

“Serius, aku ini jin yang tinggal di teko itu!” pekiknya.

“Oh, jadi benda itu namanya teko?” balasku kikuk.

Kalau dilihat dari penampilannya, sih, memang terlihat berbeda dari beberapa manusia yang sempat tenggelam. Celana gombor warna mentereng dan hiasan kepalanya yang bulat itu, loh, yang membuatku jadi mempercayai ucapannya.

“Jadi, siapa namamu, Nona?” tanyanya.

“Namaku Hina, dan seperti yang kaulihat… aku seorang Mermaid. Kalau kau?”

“Aku Jaemin, jin yang akan mengabulkan semua permintaanmu.”

“Kau sungguh bisa mengabulkannya? Apapun itu?”

“Tentu, Nona. Katakan saja apa yang kauinginkan.”

Aku tidak mau kegirangan dulu. Bisa saja, kan, dia cuma membual? Meskipun tadi aku sempat berpikir untuk mempercayainya.

“Apa kau bisa membuatku memiliki kaki? Aku ingin melompat, menari, berjalan-jalan, dan banyak hal lain yang bisa aku lakukan dengan kaki.” ujarku penuh semangat.

Jaemin bersenggut dagu, kepalanya manggut-manggut seakan memahami apa yang kuucapkan. “Baiklah, permintaanmu akan segera kukabulkan. Sekarang, tutuplah matamu, Hina-ssi.”

“Sungguh?!” mataku terbelalak. Namun tak berlangsung lama karena aku segera memejamkan mata seperti apa yang ia perintahkan.

“Satu… dua… tiga…”

TRING!!!

Hawa dingin menyapa tengkukku. Aku mengerjap karena belum berani membuka mata sepenuhnya. Namun keraguanku terkalahkan oleh rasa penasaran yang makin membuncah.

Manik kelamku menangkap sebuah ruangan yang asing. Saat ini di hadapanku telah ada tiga orang yang tengah memasang raut tegang – mendekati sarkatis.

“Jadi, bakat apa yang bisa kautunjukkan, Nona?” tanya seseorang yang ada di tengah.

“Ba… kat? Maksudnya?” aku memiringkan kepalaku, tidak mengerti dia bicara apa.

“Segera tunjukkan pada kami, mau menyanyi atau menari, terserah. Kalau kau tetap bergeming di situ, lebih baik coba saja audisi tahun depan.” tandasnya. Audisi itu apa? Duh, kenapa banyak bahasa manusia yang asing di telingaku, sih?

Tapi katanya aku cuma perlu menyanyi dan menari. Tentulah menyanyi adalah perkara mudah untukku. Kalian pasti tahu kalau Mermaid adalah makhluk yang terkenal dengan senandung indahnya. Namun kalau menari… please, aku punya kaki saja baru beberapa menit yang lalu.

Dasar Jaemin! Maksudku meminta kaki, kan, ingin menyusuri jalanan luas dan menikmati angin daratan. Bukan mendapat situasi membingungkan semacam ini. Dia berpengalaman jadi jin enggak, sih?

Pandangan tajam mereka membuatku kelimpungan. Meskipun tak yakin, aku mulai menggerakkan anggota tubuh baruku itu. Berputar, bergerak ke depan, belakang, dan samping sambil menyanyikan lagu lautan kesukaanku.

Setelah selesai bernyanyi dan menghentikan gerak tubuh, tepukan tangan langsung dilayangkan oleh tiga orang itu.

“Kau bernyanyi dengan baik meskipun tarianmu sangat lincah. Selamat, kau berhak mendapat kesempatan berlatih di naungan SM Entertainment.”

Meskipun tidak tahu apa yang mereka bicarakan, namun sepertinya itu tidak terdengar seperti hal buruk. Omong-omong, di mana si Jaemin? Tidak mungkin, kan, dia seenak jidat membiarkan aku sendirian hidup di tempat asing ini?

– END –

2 thoughts on “[Ficlet] When Mermaid Meets Genie

Comment Is Free of Charge (*^▽^*)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s