You Look Yummy (Chapter 1)

coveryujudkjaeyeon2

“You Look Yummy” by Mingi Kumiko

Main Cast : [NCT] Jaehyun, [DIA] Chaeyeon, [17] DK, [Gfriend] Yuju

Genre : School Life, Friendship, Romance

Rating : PG-17

Jung Chae Yeon hampir putus asa karena tak mendapatkan sambutan yang baik di sekolah baru. Suatu ketika ia bertemu dengan pria yang sangat mirip dengan sahabat masa kecilnya. Saat Chaeyeon coba menyapa, ternyata ia salah orang. Kendati demikian, Chaeyeon masih penasaran dengan siapa lelaki itu sebenarnya.

.

.

Saat ini, hampir seluruh pasang manik yang ada di kelas 3 – 2 terarah ke titik fokus yang sama. Di muka kelas, tengah berdiri seorang gadis dengan kepala yang menelungkup. Rasanya benar-benar tak nyaman menjadi pusat perhatian. Namun itu adalah risiko yang harus ia hadapi di hari pertamanya memasuki sekolah baru dengan status murid pindahan.

“Halo, semua… Namaku Jung Chae Yeon. Mohon bantuannya,” ucapnya seraya membungkuk agak lama. Surai panjangnya pun ikut menjuntai menutupi dahi. Senyum lebar ia kembangkan dari kedua sudut bibir untuk menutupi ketidaknyamanannya diselimuti tatapan penuh intimidasi oleh seluruh penjuru kelas.

Kecanggungan yang ia rasakan sedikit terminimalisir setelah wali kelas mempersilakannya duduk. Dengan kepala yang tetap menunduk, gadis berkulit pucat manai itu melangkahkan tungkainya menuju bangku yang terletak di sebelah jendela.

Annyeong haseyo…” sapa Chaeyeon pada seorang murid yang tak sengaja kedapatan membalikkan badan untuk menengoknya. Beberapa anak gadis yang berada di kelas pun saling melempar pandang, kemudian menutup bagian samping mulut mereka dengan sebelah tangan dan berbisik pelan.

“Dia melakukan bleaching, ya? Putihnya enggak wajar banget!” cibir salah seorang murid dan dibalas dengan endikan bahu oleh yang diajak bicara.

“Iya, wajahnya jadi seperti hantu.”

“Dan juga, hidungnya aneh. Pasti dia operasi implan!” imbuh si tukang cibir.

“Semuanya harap tenang, jangan bergaduh!” sebuah celetukan menginterupsi aktivitas bergosip para gadis. Karena penasaran, Chaeyeon pun mendongak untuk mengetahui siapa yang barusan bicara dengan gesture tegas itu.

Didapatinya sesosok pria bersurai hitam mengkilat, kulitnya sangat bersih – biarpun tak sampai pucat seperti miliknya, dan sepertinya perawakannya jangkung. Kuriositasnya tentang identitas pria itu pun semakin meningkat. Tapi apa yang bisa ia lakukan sekarang? Mengingat sambutan teman-teman barunya di kelas pun juga tak sebegitu baik, ia pun jadi pesimis duluan.

Aku yakin itu dia, tapi… kenapa perangainya terlihat agak berbeda?

Pernah dengar istilah aura? Kata itu biasa dideskripsikan dengan perasaan subjektif atau fenomena motorik yg mendahului dan menandai permulaan suatu serangan paroksismal. Diberi tatapan sengit oleh para gadis karena warna kulit yang kelewat kinclong, atau tak diacuhkan dengan alasan yang tak pernah ia tahu. Perlakukan semacam itu sudah biasa ia terima sejak memasuki bangku SMP. Ia tak mengerti apa yang salah. Sejauh ini ia merasa dirinya baik-baik saja – dalam arti tak melakukan hal nyeleneh apapun selama ia hidup.

Padahal ia sudah berharap akan mendapat perlakuan yang lebih baik setelah kepindahannya ke kota kelahiran dan belajar di sekolah baru. Tapi lihatlah kondisi yang dialaminya sekarang, tak seorang pun penghuni kelas yang meletakkan atensi atas kehadirannya. Di mana ia biasa melihat anak baru yang dikerubungi untuk diajak berkenalan di drama-drama yang biasa ia tonton. Hingga akhirnya Chaeyeon pun hanya bisa memaknai apa yang terjadi sebagai takdir; dijauhi hanya karena auranya yang tak begitu baik sejak orang lain melihatnya untuk pertama kali.

Bel istirahat berbunyi, segera Chaeyeon pindahkan buku dan alat tulis yang tersampir di mejanya ke dalam laci. Ia pun membuka tasnya, mengambil kotak bekal yang sudah ia rsiapkan sebelum berangkat ke sekolah.

Chaeyeon tidak tuli, namun ia hanya memilih untuk tidak peduli. Disingkirkannya rasa takut dan minder setelah ia mendengar cemoohan beberapa anak gadis di kelas. Dengan perasaan yakin ia menepuk pelan sebelah punggung murid yang duduk di depannya. Si empu dari punggung pun menoleh.

“Permisi, aku membawa kimbap tuna. Apa kau mau?” tawarnya ramah. Beberapa jenak kemudian, kedua sudut bibir gadis itu pun tertarik. “Terima kasih, tapi aku alergi seafood, hehehe.”

“Oh, kalau begitu… lain kali akan aku bawakan kimbap beef,” ucap Chaeyeon.

By the way, sori karena tak mengajakmu berkenalan lebih dulu. Namaku Sujeong,” gadis berpipi bulat itu menjulurkan tangannya dan langsung dijabat oleh Chaeyeon dengan raut sumringah.

“Senang berkenalan denganmu, Sujeong-a!” tandas Chayeon dan keduanya pun saling melempar senyum.

Sujeong kembali menghadap depan dan membiarkan Chaeyeon menikmati bekalnya seorang diri. Hingga tiba-tiba sepasang manik obsidiannya menangkap refleksi seseorang yang tengah berjalan menuju ambang pintu seraya memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Titik fokus Chaeyeon otomatis terpaku pada lelaki itu. Dengan sigap Chaeyeon berdiri dan menghampirinya. Ia pun bergegas mempercepat langkahnya saat pria itu sudah berada di luar kelas.

Jeogiyo!” pekik Chaeyeon di sela langkah tungkainya yang serasa tak mampu menjangkau jarak pria berpundak bidang itu. Seketika langkahnya terhenti dan Chaeyeon pun bergegas mengambil langkah seribu ke arahnya.

“Jung Yun Oh, apa itu kau?” tukas Chaeyeon saat ia sudah berhadapan dengan pemuda tersebut.

Kyaaaaa, sudah lama sekali sejak kita tak lagi main bersama, ya! Kau banyak berubah, tapi untungnya aku tetap bisa mengenalimu. Aku tidak menyangka kita akan satu sekolah,” Chaeyeon terus mengoceh kendati pria di hadapannya itu belum sama sekali menimpali ujarannya.

Mata Chaeyeon pun berotasi pada area dadanya. Seketika ia terperanjat saat membaca huruf yang tertulis pada nametag pria yang ia duga sebagai teman masa kecilnya itu.

“Jadi… kau bukan Yunoh? Ah, maafkan aku! Sepertinya aku salah orang. Habis kalian mirip sekali, maafkan aku!” Chaeyeon terus membungkukkan badan. Serasa ia ingin berdoa pada Tuhan agar dibuat pingsan sekarang juga. Karena tak kunjung mendapat tanggapan dari pria yang kini ia ketahui bernama Jung Jae Hyun itu, Chaeyeon pun segera berbalik dan melangkah pergi dengan mengantungi rasa malu.

“Lama tidak berjumpa, ya, Chaeyeon-a…” langkah Chaeyeon terhenti saat mendengar namanya dipanggil. Tubuhnya diputar untuk menghadap Jung Jae Hyun lagi. Sejurus kemudian ia pun mendapati senyum disertai lesung pipi yang dikulum pria itu. Chaeyeon bingung bukan kepalang. Kalau pria itu bukanlah Jung Yun Oh mengapa ia juga memiliki lesung pipi yang mirip dengan sahabat masa kecilnya itu?

Belum sempat Chaeyeon mengambil langkah seribu menghampiri Jung Jae Hyun untuk kedua kalinya, ia sudah melenggang pergi entah ke mana. Sebuah gesture yang mengisyaratkan bahwa ia tak ingin berinteraksi dengan Chaeyeon lebih jauh lagi. Ya sudahlah, apa boleh buat. Lebih baik ia kembali ke kelas untuk menyantap bekal yang ia tinggal.

.

.

“Jadi, sejak kapan aku bisa mencerna Americano masuk ke dalam kerongkonganku?” oceh seorang pria sembari membolak-balikkan gelas plastik berisi kopi yang ada di genggamannya.

“Kemarin kau mengeluh karena hipotensi, jadi kubelikan kopi agar tekanan darahmu naik. Lihatlah, aku bahkan sangat perhatian padamu, Seokmin-a!” sahut si lawan bicara.

Pemuda bernama lengkap Lee Seok Min itu sontak mengatupkan bibir mendengar ulasan gadis di sebelahnya. Sekarang ia tahu alasannya mengganti jus buah kemasan yang biasa ia minum dengan kopi kalengan.

“Apa kau yakin ini aman untuk lambung?” tanya Seokmin.

“Akan aku bayar berapa pun tagihan rumah sakitnya kalau sampai terjadi apa-apa!” tandas Yuju – nama gadis itu – dengan air muka ketus.

Mereka – Yuju dan Seokmin – memang selalu berada di gedung olahraga tiga puluh menit sebelum latihan basket dimulai. Sebagai seorang manager klub yang paling banyak menyumbangkan piala untuk sekolah itu, Yuju harus selalu datang tepat waktu dalam mempersiapkan kebutuhan seluruh anggota tim. Sedangkan Seokmin merupakan anggota klub basket yang paling disiplin. Ia suka menghabiskan waktunya menunggui Yuju dengan melakukan pemanasan kecil atau bersalto sana-sini.

Namun sebenarnya ada alasan lain bagi Seokmin untuk selalu bersama Yuju. Mereka adalah sahabat sejak kecil dan hanya pada satu sama lain mereka berbagi kisah sedih maupun bahagia. Bagi Seokmin, Yuju adalah yang terpenting di hidupnya selain keluarga. Lelaki itu tak akan membiarkannya kelelahan membawa cool box berisi air mineral. Dan Seokmin tak pernah tega melihat gadis berperawakan jangkung itu sendirian memunguti bola-bola basket yang berserakan seusai latihan.

You guys are just sweet as always…” sebuah celetukan yang diiringi dengan suara pantulan bola basket itu menggema. Menginterupsi Seokmin dan Yuju yang tengah asyik bersenda gurau.

“Hai, Yun! Tumben sekali jam segini sudah datang?” tegur Seokmin pada seseorang yang barusan bicara menggunakan bahasa Inggris itu.

Belum sempat pria yang dipanggil dengan sebutan Yun itu melontarkan sapaan kepada Yuju, gadis berperawakan jangkung itu tiba-tiba beranjak dari bangku yang ia duduki. “Berhubung Yunoh sudah datang, jadi kau enggak akan sendirian di sini. Aku mau mengantarkan laporan bulanan ke ruang tata usaha dulu, ya,” Yuju melambaikan tangannya asal kepada dua kawannya itu dan segera melenggang keluar dari gedung olahraga.

Yuju menutup pintu lokernya setelah berhasil menemukan secarik kertas yang berada di tumpukan koleksi novel dan komik yang ia miliki. Setelah mengunci gemboknya dengan benar ia segera bergegas ke ruang tata usaha yang merupakan tujuan awalnya.

Baru beberapa langkah ia tapaki, namun tiba-tiba Yuju mendengar suara bising dengan samar. Perlahan ia mundur untuk mengetahui dari mana sumber suara itu berasal.

“Aku enggak bermaksud, kupikir dia adalah orang yang aku kenal… Maaf,” Yuju merasakan rintihan di sela kalimat yang dipenggalkan orang yang sedang bicara itu. Kalau ditilik dari bunyinya, ia rasa suara ribut itu berasal dari ruang 200 – di mana Yuju perlu berjalan lurus kemudian belok kanan untuk sampai ke sana. Karena kuriositasnya sudah membuncah, tanpa ragu ia segera berlari ke sana.

Gadis bersurai ikal itu pun menghentikan langkahnya saat sudah sampai di belokan. Ia mengendap-endap menyusuri lorong menuju ruang 200. Berkat kaki panjangnya, Yuju tak perlu repot-repot berjinjit untuk mengintip jendela. Seketika matanya terbelalak saat mendapati seorang gadis sedang dipukuli kepalanya oleh teman-temannya.

Tanpa pikir panjang segera ia mengambil langkah seribu untuk menghentikan pertengkaran yang masih belum tahu siapa penyulutnya itu.

“Kalian ini mau jadi Yakuza, ya?!” sentak Yuju yang langsung membuat aktivitas bullying yang sedang berlangsung jadi terhenti. Pekikan tegas itu berhasil melepaskan surai kelegaman seorang gadis yang menjadi bahan jambakan. Sekilas Yuju melihat bahwa gadis yang yang ia asumsikan sebagai korban penyiksaan itu meringis kesakitan.

“Ini tidak ada urusannya denganmu!” sentak siswi yang memiliki mata paling besar.

“Jadi urusanku karena aku wajib menghentikan perbuatan semena-mena kalian pada sesama siswa di sini!” sahut Yuju.

“Kalau mau berorasi, di depan podium saat upacara penerimaan siswa baru saja, sana!” salah satu dari gerombolan tukang bully itu mencibir.

Aish, ayo pergi… toh, urusan kita juga sudah selesai dengan Nona Bleaching ini.” tandas si alis tebal seraya menyedekapkan tangan di depan dada, berlagak jumawa dengan raut yang membuat Yuju ingin mencakarnya saat ini juga. Langkah tegap gadis itu pun dibuntuti oleh tiga kawannya.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Yuju pada gadis yang terduduk lemas di bangku paling depan itu. Sayup-sayup ia mendengarnya mendesis. Yuju sedikit melongokkan kepalanya untuk melihat wajah gadis malang itu. Sontak Yuju terkejut saat mendapati cairan merah pekat bertengger di samping bibirnya.

“Apa mereka juga menamparmu, eoh?” Yuju mendadak panik. Beberapa jenak kemudian, gadis itu pun meraih punggung tangan Yuju untuk ia genggam.

“Aku baik-baik saja. Terima kasih banyak karena sudah datang. Kalau tidak ada kau, mungkin aku sudah botak.” ungkapnya dengan intonasi rendah yang terdengar serak, sepertinya gadis itu telah banyak menangis.

Wajah yang sedari tadi ia tundukkan pun perlahan diangkat ke atas, membiarkan iris milik Yuju merefleksikan parasnya yang sembap sehabis menangis. Saat mata mereka bersirobok, keduanya pun terbelalak hebat.

“Chaeyeon!”

“… Yuju!”

To be continued…

Oke, jangan lupa tinggalkan review… please, mohon banget jangan males karena itu sumber kekuatan buat penulis.

Sampai jumpa di chapter selanjutnya ^^

2 thoughts on “You Look Yummy (Chapter 1)

  1. halooo
    salam kenal sebelumnya, aku Liana 95line, aku iseng searching pake keyword dk-yuju-jaehyun buat research ff baruku eeeeeh malah lengkap di sini ada chaeyeonnya juga hehe
    tulisannya bagus, terus biar topiknya rada2 mainstream tapi aliran dialognya enak dibaca, rapi banget dan menurutku lumayan realistis. shipper jaeyeon dkyuju yaaaaaa ha samaaaaa
    aku follow, ntar aku baca yg lain juga ya! ^^
    keep writing!

    Disukai oleh 1 orang

    • halooo kak Liana, makasih telah memilih ffku dari sekian banyak referensi di google, terharu aduh pengen nangis /oke ini lebay/
      iya kak aku sungguh paham ini ff alurnya mainstream tapi gimana lagi wis kadung kebelet pengen bikin ff cast mereka jadi ya gini deh hasilnya TT
      makasih kak udah sempetin baca ff recehku~~~

      Suka

Comment Is Free of Charge (*^▽^*)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s