#SelfChallenge2k16 : Lovasket

lovasket

Lovasket by Mingi Kumiko Starring iKON Bobby & TWICE Nayeon

| Teenage | Ficlet |

Prompt from mintulmint : “Karena usaha tak akan pernah mengkhianati hasil.”

Untuk pertama kalinya aku mendapat sebuah keajaiban dari ketidakberuntungan.

.

 

.

.

Mendapati warna merah yang mentereng sangat cerah di kolom Pelajaran Olahraga membuat pikiranku kalut seharian. Agar problematikaku ini dapat teratasi, maka aku harus melakukan remidial. Tadi pagi aku sudah menemui guru pengajar, katanya remidial akan diadakan besok. Dan kau tahu apa materi yang akan diujikan agar siswa remidial dapat meraih nilai di atas ketuntasan? Sebuah hal yang kurasa mustahil untuk dapat kulakukan (berhubung aku memang tak pernah tertarik untuk melakukannya, omong-omong).

Dengan tubuh sekecil ini, mana bisa aku melakukan lay up dan memasukkan bola ke dalam ring? Memegang bola basket saja masih sering merosot.

Mari kita katakan pepatah ‘Usaha Tidak Akan Menghianati Hasil’ adalah benar. Saat ini aku tengah duduk di lapangan basket seorang diri. Dan benda bundar yang terbuat dari karet tengah ada di atas pahaku. Peduli setan dengan badan kecil dan pengalaman yang belum sama sekali kumiliki. Aku akan berlatih lay up sampai bisa agar aku terhindar dari tiupan sangkakala ayah.

WUSS!

JDUG!

Percobaan pertama meleset, dan nahasnya bola terlempar begitu jauh dari pusat lapangan. Kuambil langkah seribu untuk memungut bola basket itu. Setelah itu aku kembali melakukan percobaan kedua. Kuangkat tungkaiku dan mengayunkan lengan. Sial, aku gagal lagi.

Aku heran bagaimana para atlet itu dengan mudah melakukan lay up hingga menghasilkan three point. Caraku melempar bola pun tak jauh berbeda dengan Midorima Shintaro, tapi mengapa tembakanku tak kunjung masuk? Ayolah, aku hanya butuh satu lemparan saja masuk ke ring agar aku bisa segera pulang.

Rasanya tempurungku sudah mau patah saja, begitu juga dengan bahuku yang sedari tadi terus kukerahkan untuk mendorong lenganku. Ternyata lay up itu susah sekali.

“Nayeon-a?” sebuah suara berat yang kurasa tak berasal dari jarak yang jauh menginterupsi konsentrasiku. Aku sontak menoleh ke arah seseorang yang barusan memanggilku. Sedikit terkejut, aku mendapati seorang pria jangkung berkostum jersey tengah berdiri tepat di belakangku.

“Bobby… kok kamu ada di sini?” tanyaku kikuk. Jujur ini pertama kalinya memiliki sela yang begitu sempit antara aku dan dirinya.

“Sekarang, kan, jadwal tim basket untuk latihan.” ujarnya yang langsung kusambut dengan raut terkejut.

“Oh begitu ya…” tandasku lantas buru-buru berjongkok untuk menutup ritsleting tasku yang tergolek asal di lapangan.

“Lo, mau ke mana?” tegur Bobby. Aku pun mendongak, menatap air muka herannya dengan tingkah gelapanku.

“Kan, lapangannya mau digunakan untuk latihan basket, sebaiknya aku segera pergi.” aku beralibi.

Memang benar, sih, aku merasa tidak enak hati kalau menggunakan lapangan yang sebentar lagi digunakan untuk latihan basket. Namun di samping itu sebenarnya aku juga merasa tidak nyaman ada di dekat Bobby. Bukan karena aku membencinya, sungguh bukan. Sejujurnya, meskipun tidak terlalu akrab, aku diam-diam memperhatikannya saat di kelas. Dan kurasa dia menyadari tatapanku yang tak bisa lagi dihitung intensitasnya. Maka dari itu aku langsung salah tingkah saat tiba-tiba dia mendekatiku seperti ini.

“Kok, tumben kamu bermain basket? Biasanya hanya terdiam serius membaca buku pelajaran. Mangkanya kaca matanya sampai tebal begitu, hahaha.” ucapnya dengan nada bergurau. Aku refleks menaikkan bingkai kaca mataku yang sedikit mengendur. Entah mengapa aku senang saat ia mencoba membuatku larut dalam guyonannya.

“Aku berlatih untuk remidial besok. Tapi kalau latihannya sudah mau dimulai, aku pulang saja.”

“Masa, sih, murid sepintar kamu bisa sampai remidial? Bohong!”

“Kan, pelajaran olahraga memang menitikberatkan pada praktik. Aku payah dalam hal olah tubuh.”

“Masih ada lima belas menit sebelum waktu latihan dimulai. Lagi pula anggota lain juga belum datang. Mau kubantu?” Bobby menawarkan bantuan sambil memamerkan bulan sabit yang indah di sepasang maniknya kala tersenyum.

Dengan kata apa aku harus menjawab? Kenapa di dalam benakku tiba-tiba terjadi kontradiksi? Benar, sih, aku menyukai Bobby. Dan kesempatan semacam ini sangat mustahil apabila terjadi dua kali. Tapi aku ini orangnya kikuk, kalau nanti aku jadi salah tingkah dan malah melakukan hal memalukan bagaimana?

Ah, apa yang aku pikirkan? Terima saja tawarannya. Yang terpenting sekarang, kan, nilai raporku harus terbebas dari warna merah.

“Kalau kamu enggak keberatan, tolong ajari aku… kamu, kan, jago basket.” ujarku memohon dengan sangat tulus.

“Itu terdengar berlebihan, Im Na Yeon. Tapi oke, pertama-tama, kau harus tahu cara memegang bola yang benar.” kelakarnya sambil mempercontohkan posisi tangan yang benar saat memegang bola. Diam-diam aku tertawa, merutuki kebodohanku sendiri. Caraku memegang bola barusan sungguh berbeda dengan apa yang ia contohkan. Pantas saja dari tadi usahaku gagal terus.

“Fokuskan pandangan pada ring… satu, dua, hap!” Bobby pun menarik tungkainya saat melakukan shooting. Aku sontak menepuk tangan saat kudapati bolanya masuk ke ring.

Omo, jjang!” seruku kagum.

“Mudah, ‘kan? Ayo sekarang kamu coba.” katanya seraya menyodorkan bola padaku. Aku pun mengambilnya dan segera memposisikan tanganku seperti apa yang telah ia contohkan.

“Nah, begini…” aliran darahku serasa berhenti saat tiba-tiba ia menyentuh lenganku untuk meluruskannya. Tangannya menggeladik, mencengkeram kedua bahuku saat aku hendak melakukan lay up. Bukannya konsentrasi, yang ada aku malah gemetaran karena Bobby berada terlalu dekat denganku.

“Sekarang, shoot!” seru Bobby dan aku pun melemparkan bolanya ke arah ring.

SYUNG!

Omo, kau lihat? Itu hampir masuk, Bob!” ucapku girang. Ia pun berlari mengambil bola yang barusan kulempar.

“Coba sekali lagi, sampai kamu bisa…” katanya seraya memberikan bola yang baru saja ia ambil.

“Oke…” tanpa banyak bicara, aku kembali memfokuskan pandanganku ke ring. Kali ini Bobby tak lagi memberikan sentuhannya, jadi aku bisa berkonsentrasi penuh.

HAP!

Bolanya masuk ke ring.

MANSAE!!!” pekikku dengan lantang. Bobby pun bertepuk tangan. Oh sungguh, nampaknya setelah ini aku harus lebih mengeksplorasi bakatku di bidang olahraga. Kalian lihat, kan, aku langsung bisa setelah dua kali percobaan!

“Terima kasih, Bob… kamu jadi MVP-ku hari ini.” ujarku tanpa dengan air muka sumringah.

“Hanya terima kasih?” ia mengangkat sebelah alisnya.

“Ah, aku akan membelikanmu kopi setelah ini.”

“Tidak, aku cuma bercanda…” Bobby mengibaskan sebelah tangannya di depan wajahku.

“Serius, katakan apa yang kamu inginkan. Nanti kubelikan.”

Bobby pun bersenggut dagu, seperti memikirkan apa yang setelah ini hendak ia katakan. “Hm, bagaimana kalau kita lihat hasilnya besok? Kalau kau berhasil di remidial, baru belikan aku kopi. Atau mungkin, kita bisa nongkrong bersama di cafe? Rasanya lama tidak ngopi bersama seorang gadis.”

Perlakuan macam apa ini? Apakah ia sedang berusaha mengajakku jalan? Gosh, sungguh… untuk pertama kalinya aku mendapat sebuah keajaiban dari ketidakberuntungan.

 

– END –

Halo kak Nada, sebelumnya terima kasih karena udah mau kasih aku prompt untuk dikembangkan. Dan aku juga minta maaf apabila cerita yang aku tulis enggak sesuai ekspektasi kakak😦

Untuk penyumbang prompt lainnya, maafkan karena aku belum nemu idenya, tapi janji bakal digarap secepatnya, seriusan!!! >///<

2 thoughts on “#SelfChallenge2k16 : Lovasket

  1. AM I THE 1ST???
    OHMYGODNESSS INI SLAAAYYY BANGEEEET LECIII ><

    TRUSS ITU BOBBY BANGET AAAHH NGAJAKIN KELUAR LAGI DUUHH BOBNAY IS REAL JEBAL T___T
    btw aku suka sama gaya nulismu yg pelan dan gak bertele-tele. pertahanin yaaaaa :3

    SEMANGAT NULISSS! MAKASIH BANYAAKK CINCAAAA :*❤

    Disukai oleh 1 orang

    • Iya kaaakk blog aku mah sepi kalo buat post ff😄
      Iya aku liat yoo hee yeol sketchbook bobby suka bilang “we should go out” ke cewe yg pengen dia ajak kencan😄
      ahh masa gak bertele2 kak? Jadi malu :3 makasih juga kakak udah kasih prompt ini ke aku.. maaf klo ffnya ga sesuai ekspektasi

      Suka

Comment Is Free of Charge (*^▽^*)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s