[Oneshot] It’s Okay, Oppa…

winxiao

It’s okay, Oppa by Mingi Kumiko

♦ WJSN Xiao & NCT Winwin ♦ romance, fluff, school life ♦ PG-17 ♦ Oneshot ♦

 “Oppa cuek saja aku masih sayang, kok…”

.

.

.

Kaki yang ia angkat terasa berat di tiap langkahnya. Dengan beberapa lembar kertas yang direngkuh di depan dada, gadis brunette itu menyusuri koridor seorang diri untuk sampai ke ruang Student Council.

Sesampainya di tempat tujuan, Xiao – nama gadis itu – sontak menghentikan laju tungkainya kala suara terbahak seorang gadis menginterupsi pendengarannya. Penasaran, ia pun menjulurkan sedikit kepalanya untuk mengintip apa yang sedang terjadi dari balik pintu.

Pupilnya melebar tatkala ia mendapati Chaeyeon – senior yang berada satu tingkat lebih tinggi darinya – sedang asyik bersenda gurau dengan seorang pria gingsul yang benar-benar tak ingin ia lihat.

“Kawan-kawanmu memang gila, Win!” kata Chaeyeon dan masih tak bisa menghentikan tawanya. Mungkin kau juga akan melakukan hal yang sama dengan gadis berkulit mulus itu apabila berpikir bahwa memberi seseorang minuman yang telah terkontaminasi dengan ludah itu lucu.

“Aku, sih, tidak ikut-ikutan. Habisnya murid baru itu sombong sekali, jadi mereka cuma mau memberinya sedikit pelajaran.” ujar lelaki yang barusan dipanggil ‘Win’ oleh Chayeon itu.

Si gadis pengintip mendengus kesal diam-diam. Perlahan ia memundurkan langkahnya dan urung memasuki ruangan. Masa bodoh dengan proposal yang harus ia serahkan saat ini juga, Xiao tidak peduli. Hatinya terlanjur kalut setelah menyaksikan pemandangan memuakkan di hadapannya itu.

Guguran daun maple mengiringi embusan napas dari sepasang muda-mudi yang tengah saling bungkam. Dua pasang manik yang saling bersirobok itu seakan menjadi isyarat dari akhir kisah yang telah lama mereka rangkai.

“Aku sudah memikirkan semuanya…” ujar si pria mantap.

“Apa aku sama sekali tak ada artinya bagi oppa?” pekik gadis manis yang mengepang rambutnya menyerupai ekor ikan itu dengan sedikit tertahan. Deraian air mata sudah berancang-ancang lolos dari ujung matanya.

“Kalau kita terus-terusan bersama, malah enggak baik untukmu. Aku terlalu sibuk dan hampir tak pernah mempedulikanmu. Aku enggak mau menyakitimu lebih jauh lagi.”

“Omong kosong! Kau hanya memikirkan dirimu sendiri!”

“Tolong terima keputusanku. Selamat tinggal, Xiao…”

Namanya Win Win, perawakannya jangkung, memiliki garis wajah dan rahang tegas yang semakin menambah kesan sempurna yang melekat pada dirinya. Bermodal sedikit kepribadian yang ulet dan kemampuan bersosialisasi yang cukup baik, ia berhasil meraih suara terbanyak pada pemilihan ketua Student Council di SMA Monzen yang dilaksanakan beberapa bulan lalu.

Siang ini ia tengah dibuat kelimpungan karena proposal yang harusnya telah sampai di tangannya pagi tadi tak kunjung ia temukan.

“Jaehyun-a, apa kau tahu siapa yang bertanggung jawab membuat proposal untuk diserahkan pada Kepala Sekolah?” tanya Winwin pada rekan satu angkatannya itu.

“Siapa lagi kalau bukan gadis yang seminggu lalu kau ajak putus,” celetuk Jaehyun.

“Maksudmu… Xiao?”

“Iya. Kau bodoh sekali karena sudah menyia-nyiakan gadis semanis dia.”

“Apakah penting membicarakan hal semacam itu di saat seperti ini?”

“Kau terlalu sibuk mengurus organisasi sampai-sampai jalan pikiranmu sempit.”

“Hentikan, Jaehyun-a!”

“Oke, oke… aku tak akan bicara lagi.”

Ujaran Jaehyun barusan tak sama sekali diindahkan oleh pria bermanik obsidian itu. Ia bergegas mengambil langkah seribu untuk menyelesaikan urusannya. Andai saja Xiao menyerahkan proposal itu padanya tepat waktu, pasti Winwin sudah memiliki banyak sekali waktu longgar yang bisa ia manfaatkan untuk istirahat.

Di sisi lain…

“Xiao…, kau kenapa? Kok, sedari tadi diam saja?” Yein mulai khawatir pada teman sebangkunya yang sedari tadi membenamkan wajah di atas meja. Xiao pun bangkit dengan sedikit lemas.

“Yein-a, aku punya masalah,” ucap Xiao yang membuat Yein bergegas menoleh dan memasang raut sarkatis.

“Apa? Ceritakan padaku! Kau diapakan oleh Winwin sunbae? Kalau dia macam-macam biar kutampar mukanya!” decak Yein menggebu-gebu.

Mwoya… bukan itu. Kemarin aku sama sekali enggak makan, tapi aku tak merasakan apa-apa. Terus tadi siang aku membeli roti gandum di kantin, baru kumakan sedikit rasanya mau muntah. Sekarang jadinya aku agak pusing.”

Omo, Xiao! Kenapa kau sampai enggak makan, sih? Mau mati muda, ya?”

“Aku berpikir keras sekali untuk merampungkan proposal. Enggak tahu kenapa, padahal biasanya kata-kata yang aku pikirkan tersusun begitu saja saat mengetik. Jadi lupa makan, deh! Kurasa maagku kambuh.”

“Jangan bilang penyebab hilangnya konsentrasimu itu karena kau terus memikirkan mantan kekasihmu?” tukas Yein. “Ayo kuantar kau ke ruang kesehatan…” kata Yein sambil membantu Xiao berdiri.

Belum sempat kedua gadis itu mengambil langkah pertama, namun panggilan dari seseorang telah menginterupsi.

“Xiao, Winwin sunbaenim mencarimu, tuh!” kata Shinbi. Si empunya nama pun mendongakkan kepalanya ragu. Ternyata benar, Winwin sudah ada di ambang pintu kelasnya dengan tangan bersedekap.

“Lepaskan aku, Yein-a… aku masih kuat, kok, untuk jalan sendirian. Terima kasih, ya…” pinta Xiao seraya melepas rengkuhan Yein pelan-pelan.

“Yakin enggak apa-apa?” cemas Yein setengah tidak tega membiarkan Xiao menghampiri Winwin.

“Ada perlu apa, op…, ah, sunbaenim?” tanya Xiao lirih. Hampir saja ia kelepasan memanggil pria jangkung itu dengan panggilan ‘Oppa’.

“Ikut aku,” kata Winwin dengan sedikit penekanan yang ketus.

“Baiklah…” ujar Xiao tanpa menunjukkan raut kesalnya pada si bekas pacar. Berhubung ia ingat kalau Winwin adalah senior yang harus ia hormati, di samping itu ia juga ingin menjaga hubungan baiknya dengan Winwin.

Xiao mengekori langkah pria itu dari belakang dengan rasa nyeri di kepala yang tak kunjung mereda. Kurioritasnya mulai membesar saat Winwin tak kunjung memberitahu apa tujuan ia menyuruh Xiao mengikutinya.

Sebenarnya ia cukup kecewa dengan sikap Winwin. Bagaimana bisa ia tega membiarkan seorang gadis berjalan sendirian di belakangnya seperti orang tidak berguna? Walaupun sudah memutuskan berpisah, bukan berarti Winwin berhak memperlakukan Xiao seenaknya, ‘kan? Namun apalah daya Xiao yang hanya bisa menahan segala decakan kesalnya di ujung kerongkongan.

Mereka akhirnya sampai di ruang Student Council, Winwin memasuki ruangan tersebut diikuti dengan Xiao di belakangnya. Berhubung sedang tak ada jadwal rapat, jadinya ruangan tersebut tak dihuni oleh anggota lain.

“Sebenarnya ada perlu apa sunbae mengajakku kemari?” tanya Xiao.

“Kau pura-pura bodoh dan melupakan tugasmu atau bagaimana, sih?” sahut Winwin.

“Proposalnya sudah selesai, kok…”

“Kenapa kau tidak segera menyerahkannya padaku? Itu, kan, penting sekali!”

“Tolong turunkan intonasi suaramu saat bicara padaku. Kurasa sunbae sudah keterlaluan.” ujar Xiao yang telinganya mulai memanas karena ocehan Winwin.

“Kalau kau becus bekerja, aku tak akan mungkin bersikap sekasar ini!” semprot Winwin tanpa sekalipun menggubris permintaan sederhana Xiao.

Pelupuk mata gadis itu beranak sungai, pipinya basah oleh buliran-buliran kristal yang telah susah payah ia bendung.

“Tapi dulu kau tidak pernah seperti ini…” ujarnya dengan sesenggukan. Pening di kepalanya makin tak tertahankan, begitu pula dengan nyeri yang ia rasakan di area lambung. Kakinya mulai gemetar dan tak sanggup menjaga keseimbangan. Kesadaran Xiao perlahan-lahan berkurang, dan ia pun ambruk saat itu juga.

Untungnya Winwin mempunyai refleks tubuh yang cukup bagus. Ia meraih tubuh Xiao sebelum gadis itu tergolek lemas di atas lantai.

“Kau bercanda, ya? Cepat bangun, hei!” panik Winwin sambil menggugah Xiao, namun gadis itu tak kunjung bangun. Ia pun mengangkat tubuh Xiao dan menggendongnya ke sofa yang ada di ruangan tersebut.

Winwin merutuki sikapnya yang terlalu kasar barusan. Tak seharusnya ia memperlakukan Xiao dengan tindakan seenak jidat seperti itu. Namun terlambat, Xiao sudah keburu pingsan karena ulahnya. Sebenarnya ia telah menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan sang mantan kekasih. Nada bicaranya sangat lirih, tak seperti biasanya. Sorot matanya saat menatap Winwin pun tak seberapa fokus dan terlihat lemas.

Apa ucapan Jaehyun bahwa jalan pikirannya terlalu sempit itu benar? Kalau Guinness World Record mengadakan polling untuk orang paling bodoh seantero jagat raya, maka boleh jadi Winwin termasuk satu dari segelintir orang yang akan masuk ke dalam daftar itu.

Masa iya Winwin cuma menjadikan kata ‘sibuk’ sebagai alibinya agar bisa putus dengan Xiao? Apakah sebenarnya Winwin cuma cari alasan karena ia tak lagi memendam perasaan pada gadis manis itu? Demi kehangatan musim panas dan keindahan musim semi, sungguh tidak. Winwin mencintai Xiao, dan Xiao adalah satu-satunnya bagi Winwin. Ia teramat mencintai gadis itu hingga tak tega membiarkannya terluka apabila terus berada di sisinya.

Namun sepertinya keputusan sepihak yang ia ambil itu amat menyakiti hati Xiao melebihi bayangannya sendiri. Kenapa pula ia harus bersikap sekasar itu untuk menutupi seluruh rasa bersalah yang ia pendam? Sudah kubilang, Winwin memang pantas dinobatkan menjadi orang paling bodoh sedunia.

Kakinya melangkah keluar dari ruang Student Council untuk mengambil beberapa obat-obatan. Saat hendak kembali untuk menjaga Xiao yang sedang tak sadarkan diri, wajahnya tertoleh ke arah kantin. Benar juga, keadaan Xiao jadi lemas pasti karena ia belum makan. Winwin pun berinisiatif untuk membelikannya sekotak susu dan sepotong roti untuk Xiao.

Winwin bersendeku di depan sofa sekembalinya ia dari kantin. Ditatapnya lamat-lamat setiap sudut dari wajah gadisnya, ralat, mantan gadisnya yang terpahat sempurna itu.

“Hai sayang… apa kabar? Kenapa kau jadi tambah cantik setelah kita berpisah?” gumam Winwin lirih seraya mengelus pipi bulat milik Xiao dengan lembut.

Ia mengoleskan minyak aroma terapi di samping jari telunjuknya, perlahan ia dekatkan jari yang telah ia olesi minyak itu ke hidung Xiao. Ia meniru cara tim kesehatan untuk menyadarkan murid yang pingsan karena tidak sarapan sebelum upacara.

Perlahan mata Xiao mengerjap karena indra penciumannya mulai mengendus minyak aroma terapi. Langit-langit ruangan warna putih adalah hal yang pertama kali ia lihat. Ia memutar kepala perlahan meskipun sedikit berat, manik obsidiannya langsung terbelalak saat bersirobok dengan milik Winwin.

“Kenapa aku bisa tiduran di sini?” heran Xiao.

“Kau pingsan tadi… apa maagmu kambuh?” tanya Winwin coba memberi sedikit perhatian untuk menebus rasa bersalahnya.

Bukannya terbawa perasaan, Xiao malah lebih ingin memuntahkan seluruh isi perutnya saat itu juga. Sebenarnya dia kerasukan apa, sih? Xiao ingat betul kalau tadi Winwin bersikap seenak jidat padanya. Namun sekarang kenapa tingkahnya jadi berbeda seratus delapan puluh derajat?

Eum…, aku minta maaf sekali karena tak segera menyerahkan pada op…, ah, sunbaenim –”

“Panggil saja sekenanya, kalau terbiasa dengan panggilan Oppa, tidak masalah, kok…” sahut Winwin sebelum Xiao merampungkan kalimatnya.

“Akan aku coba membiasakan diri. Kalau begitu akan aku ambilkan proposalnya di kelas,” ucap Xiao tak acuh seraya mencoba beranjak dari sofa empuk yang sedari tadi memangkunya.

Usaha untuk segera enyah dari ruangan berdominan warna kuning itu pun gagal saat Xiao mendapati sebuah tangan mencegahnya pergi.

“Yakin enggak bakal pingsan lagi?” Winwin menaikkan sebelah alisnya, memberikan tatapan remeh pada Xiao. Secara tiba-tiba ia menarik gadis itu agar kembali terduduk di atas sofa. Yang ditanyai pun hanya balas mengatupkan bibir. Sejujurnya Xiao juga tidak yakin ia bisa sampai ke kelas karena badannya masih sangat lemas.

Winwin meraih sebotol susu pisang dan roti isi kacang merah yang tergolek di meja komputer.

Nih, buatmu…” ujar pria itu seraya menyodorkannya pada Xiao.

“Tidak, terima kasih… untuk sunbae saja.” tolaknya halus. Meskipun gratis, mana sudi Xiao menekan gengsi untuk menerima pemberian pria yang telah menyakiti hatinya itu.

“Kumohon jangan menyiksa diri sendiri. Kau butuh asupan nutrisi, Xiao…” cara Winwin mengucap namanya terdengar begitu lembut. Atau mungkin itu hanya efek kerinduannya yang tak lagi sanggup terbendung? Ini adalah konversasi terpanjang mereka paska putus.

Diraihnya kedua tangan Xiao dan menyodorkan barang pembeliannya itu dengan paksa. “Aku akan merasa sangat bersalah kalau keadaanmu semakin parah,”

“Baiklah, aku terima… kamsa hamnida.” Xiao pun akhirnya tunduk. Ia mulai membuka botol susu pisang pemberian Winwin dan meminumnya tanpa menggunakan sedotan.

“Kau tetap sama…” Winwin terkekeh saat melihat Xiao meneguk susu pisangnya.

Sore hari memang jadi waktu yang paling tepat untuk menikmati semilir angin menyejukkan di sekitaran Sungai Han.

“Maaf, ya, rencana kencan kita baru kesampaian sekarang. Padahal aku sudah menjanjikannya bulan lalu.” terdengar ujaran seorang pria dengan penuh sesal. Yang di ajak bicara pun sontak menoleh sambil tersenyum.

“Tidak masalah, yang penting urusan oppa dengan organisasi sudah beres semua.” ujar Xiao yang membuat hati si pria terenyuh. Winwin mengelus puncak kepala gadisnya itu dengan lembut. “Gomawo…”

 

“Minumnya pelan-pelan saja, pakai sedotan…” ujar Winwin pada Xiao yang begitu semangat mengosongkan botol susu pisang pemberiannya.

“Ini enak sekali,” tandas Xiao setelah ia selesai meminum cairan berkalsium itu.

“Ada bekas susu di sekitar bibirmu, tuh…” kata Winwin yang membuat Xiao refleks menyeka ujung bibirnya dengan punggung tangan.

“Bukan di situ,”

“Lalu di mana?”

 

Tangan Winwin menggeladik untuk meraba bibir Xiao yang mungil. “Di sini…” ujarnya seraya menyeka bagian atas bibir si gadis. Selang beberapa waktu kemudian, Xiao dikejutkan dengan bibir Winwin yang sudah menimpali bibir miliknya dan perlahan pria itu menggeladik lebih liar dan sedikit menggunakan lidahnya untuk menyeka bekas susu pisang yang ia bilang menempel di bibir Xiao.

 

Ini pertama kalinya bagi Xiao mendapati seorang pria memagut bibirnya. Pertama kali pula bagi Winwin memberanikan diri untuk mencium seorang gadis. Semuanya terasa baru dan teramat asing, termasuk perasaan nyaman dan tak saling ingin lepas yang dirasakan keduanya.

 

Sekelabat memori tentang pengalaman ciuman pertama terlintas sesaat di pikiran mereka. Namun Xiao dan Winwin segera menampik bayang-bayang itu agar tak terjebak nostalgia lebih lama lagi.

“Maafkan aku, ya, Xiao…” celetuk Winwin pada gadis yang telah berhasil meneguk susu pisangnya sampai habis.

“Untuk apa?”

“Semuanya…”

Hm, sayangnya aku ini sedikit pendendam, tak mudah lupa dengan kesalahan seseorang.”

“Aku menyesali semuanya, Xiao… terutama keputusan bodohku untuk meninggalkanmu tempo hari dan membiarkanmu menangis sendirian.”

“Sudah tahu itu melukai hatiku, kenapa baru sekarang Oppa minta maaf?”

“Di dalam hatiku cuma ada dirimu, aku bersumpah tidak ada yang lain. Aku sangat menyayangimu, Xiao…”

“Bohong!”

“Sungguh!”

“Kalau sayang padaku kenapa meninggalkanku? Oppa ragu padaku, huh? Mau oppa secuek apapun juga, aku akan tetap sayang, kok! Aku akan sabar menunggumu pulang dan memberi kabar. Enggak masalah kalau kau membatalkan janji kencan karena tugasmu belum selesai. Kau membuatku kesal! Rasanya aku ingin menamparmu saja!” Kristal bening kembali lolos dari pelupuk mata Xiao. Entah mengapa ia jadi begitu cengeng paska kepergian Winwin dari sisinya.

Winwin senang kalau Xiao jujur dengan segala hal yang ia rasakan. Mengetahui bahwa gadis itu sungguh tak mau kehilangannya membuat degupan jantung Winwin membuncah. Ia bahagia bukan kepalang. Pria jangkung itu kemudian berdiri dan sekonyong-konyong menarik tubuh Xiao ke dalam pelukannya. Jadilah kini terdapat sepasang muda-mudi yang tengah menyalurkan kehangatan di atas sofa ruang Student Council.

“Aku tidak akan lagi berbuat bodoh seperti waktu itu, Xiao… percayalah,” bisik Winwin seraya mengendusi aroma apel yang menguar dari rambut kecoklatan milik Xiao.

“Yakin?” Xiao memberi tatapan remeh pada Winwin.

“Kau meremehkan oppa?”

“Aku mau berlagak sulit didapatkan. Setidaknya supaya oppa lebih memperjuangkanku, wlek ~”

“Kau memang sungguh pendendam, Xiao!” tukas Winwin kesal karena sedari tadi Xiao sama sekali tak mengindahkan usaha untuk terlihat baik di depannya.

“Meskipun begitu Oppa sayang, ‘kan?” Skak mat dari Xiao untuk Winwin begitu ampuh hingga bibir lelaki itu hanya terkatup rapat, tak tahu lagi harus menimpali dengan ujaran seperti apa. Winwin menyibak beberapa helai rambut yang menutupi wajah Xiao, sebuah kecupan manis ia layangkan di kening kekasihnya dengan penuh hasrat. Oh sungguh, kebahagiaan yang Winwin rasakan benar-benar tak bisa didefinisikan dengan istilah apapun.

 

– END –

To be honest anak dua ini adalah couple yang paling aku suka akhir-akhir ini. First, karena mereka sama-sama dari China, kedua sama-sama jago salto, dan ketiga mereka imut banget >///<

 

3 thoughts on “[Oneshot] It’s Okay, Oppa…

  1. Lah, Winwin bisa salto, kak? Baru tau aku..
    Fanfic nya bagus! Suka deh! Cuma agak kurang ga ada feel-nya. Mungkin gara2 ceweknya itu Xiao. Kan biasku di WJSN itu Eunseo, Seol A, Bona, Xuan Yi, sama Dawon. Haha! Tapi ga papa. FF nya bagus kok.

    Suka

  2. Lah, Winwin bisa salto, kak? Baru tau aku..
    Fanfic nya bagus! Suka deh! Cuma agak kurang feel-nya(buat aku). Mungkin gara2 ceweknya itu Xiao. Kan biasku di WJSN itu Eunseo, Seol A, Bona, Xuan Yi, sama Dawon. Haha! Tapi ga papa. FF nya bagus kok.

    Suka

    • Yaelah itu bias apa asrama putri kok banyak banget wkwkwk /bercanda deng/
      Biasku Eunseo loh :3 aku suka bentuk wajahnya, tapi hidungnya agak kaya cowo ya? Temen2ku liat dia aja pda ngira dia banci… pdhl menurutku dia cantik
      Iyaaaaa winwin mah expertnya salto, kamu coba tonton deh debut NCT U di cina dia jumpalitan :3
      Makasih ya udah mau baca & komen…. ^^

      Suka

Comment Is Free of Charge (*^▽^*)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s