[Fan Fiction] You’re My Actor

Main Cast: Park Chan Yeol and OC (Maybe You?)

Genre: Romance, fluffy

Lenght: Ficlet /gagal .-.

Rating: Teen (PG-15)
Ruang-Keluarga-Penuh-Warna-Cheerful_idea641

          Semerbak aroma vanilli menusuk hidung. Kubuka mesin oven yang telah ter-setting sedemikian panasnya dan menarik loyang berisikan kue-kue kering buatanku. Warna coklat yang sempurna dengan potongan buah kelapa dan butiran coklat chips di atasnya benar-benar tampak menggoda.

          Saat hendak menatanya di atas piring, tiba-tiba bel rumahku berbunyi. Aku pun urung mengambil kue dari loyang dan segera berlari menuju pintu untuk menyambut tamuku.

          Setelah menekan beberapa angka dari tombol, pintu akhirnya terbuka. Kudapati seseorang berpakaian layaknya deliveryman. Gelagatnya misterius karena ia mengenakan topi dan enggan menunjukkan wajahnya.

“Kiriman paket, nona.” Celetuknya.

“Maaf, namun tampaknya Anda salah alamat, aku tak memesan paket apapun.” Balasku sambil sedikit terkekeh.

          Tak tahan melihat tingkah kocaknya, setelah celingukan ke segala arah untuk memastikan kalau keadaan aman, aku pun segera menariknya untuk masuk ke apartemenku.

“Penyamaran yang bagus, Park-gun!” pujiku. Ia lantas melepas topinya dan mengembuskan napas perlahan.

“Aku benar-benar merindukanmu.” Tandasnya dan langsung memelukku.

Mwoya…,” aku tersipu malu dengan tingkahnya.

          Namanya Park Chan Yeol, pria yang penuh dengan karisma dan mampu menggairahkan para kaum hawa yang melihatnya. Perawakannya jangkung dan sudah jelas ia sangat tampan. Jika kalian sering menonton TV, dapat dipastikan juga kalau kalian akan sering melihatnya berakting atau mempromosikan produk melalui iklan. Dia adalah simbol dewa sex abad ini.

          Dan kau tahu apa fakta menarik lainnya? Dia adalah kekasihku. Ya, aku. Aku yang notabenenya hanya seorang model beberapa produk pakaian dan hanya sekedar menjadi pemeran pembantu dalam partisipasiku di sebuah drama. Aku tidaklah begitu terkenal, soundtrack drama yang kunyanyikan pun tak begitu banyak ditelusuri pada search engine. Jadi bisa didefinisikan kalau aku adalah gadis beruntung yang mampu menaklukkan hati seorang aktor muda kebanggaan Korea Selatan bernama Park Chan Yeol.

“Aroma apa ini? Harum sekali!” serunya saat perlahan pelukan eratnya pada tubuhku ia lepaskan. Belum sempat aku menjawab, ia sudah langsung menghampiri dapurku yang memang langsung terhubung dengan ruang tengah. Aku lantas berjalan mengikutinya.

“Baru saja matang ya? Masih hangat, pasti enak sekali!” katanya.

“Ya sudah, kau duduk saja dulu di depan TV dan aku akan menatakan ini untukmu.”

“Aku mau kita menatanya bersama.” Sahutnya.

I can do it by myself, Chanyeol-ssi.”

“Ayolah~” rengeknya manja dan terlihat lucu sekali.

Gwaenchana, awalnya aku ingin menjadikan ini sebagai kejutan, namun ternyata kau datang lebih awal dari perkiraanku.”

“Hehehe, maaf. Geurae, aku tunggu di depan TV.” tukasnya sambil mengacak pelan poniku.

          Seketika terdengar suara keras dari subwoofer tatkala ia menyalakan TV.

Chagi-ya, palli…, dramaku sudah mau mulai!” serunya dari ruang tengah.

“Iya, sebentar.” Balasku seraya dengan cepat menyelesaikan garnish di piring berisi cookies kelapa ini.

          Aku pun datang dari dapur untuk menemaninya menonton episode terakhir dramanya serta menyuguhkan sepiring kue kesukaannya.

“Apa kau menonton episode yang kemarin?” celetuknya seraya mengambil sebuah cookies. “Omo! Ini enak sekali, sangat lembut dan gurih, tak terlalu manis, seperti seleraku.” Ocehnya padahal baru saja aku hendak menjawab pertanyaannya.

“Makan saja, jangan berkomentar. Memangnya kau juri masterchef?” ujarku.

“Aku sedang memujimu, nona manis.” Celetuknya.

“Hehehe, mian. Terima kasih.”

“Kau pasti sudah berusaha keras.” Ucapnya sembari mencoba meraih sela-sela jemariku untuk ia genggam. “Aw!” Aku sontak meringis menahan sakit.

Chagi, kau kenapa?” tanyanya panik.

“Aku tidak apa-apa.” Seutas senyum mengulum di bibirku.

          Kemudian ia kembali mengincar tanganku dan tampak olehnya sebuah goresan merah di jari kananku. “Kenapa bisa sampai begini?” tanyanya dengan sorot mata yang susah untuk didefinisikan artinya.

“Aku tidak apa-apa Chanyeolku sayang…,” aku tetap kukuh meyakinkannya.

“Dasar keras kepala!” ia menjitak kepalaku saking emosinya.

“Chanyeol!!!” sentakku karena tak terima dengan perlakuannya barusan.

“Panggil aku “oppa”. Sudah berapa kali aku mengatakannya padamu?”

“Chanyeol-ssi!” aku menyangkal.

“Ah, terserah kau saja!” ia nampak kesal karena aku…, hm, baiklah aku memang keras kepala.

          Ia memalingkan muka dengan wajah muram. Matanya terfokus pada TV tapi aku tahu itu pandangan yang kosong. Aku sontak menarik-narik lengannya dan menggelayut manja padanya. “Oppa-ya…, mianhae. Chanyeol oppa~”

          Lelaki tampan di hadapanku ini tetap terdiam, usahaku sia-sia. Dalam kondisi seperti ini aku selalu ingin memeluknya, menyampaikan padanya bahwa aku menyesal lantas menangis sejadi-jadinya.

Oppa…., mian!!” ucapku dan air mata benar-benar mengalir di pipiku, membasahi kemeja deliveryman yang ia kenakan.

“Aku janji deh tidak akan keras kepala lagi, aku juga tidak akan kurang ajar padamu. Aku akan membuatkan biskuit kelapa yang paling enak untukmu walaupun luka yang aku dapatkan akan lebih parah dari ini, tidak masalah. Aku akan memastikan kelapa yang kuparut menghasilkan biskuit yang sangat gurih.” Titahku tanpa henti.

          Chanyeol, oops…, maksudku Chanyeol oppa pun akhirnya merengkuh punggungku dengan tangan kanannya. “Kau ini apa-apaan sih, aku tidak suka gadis cengeng.” Ujarnya. “Habisnya kau marah, aku kan takut.” Balasku.

“Sebentar ya, aku akan mengambilkanmu plester.” Ucapnya seraya mencoba beranjak. Dengan gerakan cepat aku mencegahnya. “Tak apa, kau di sini saja.”

Wae? Kalau tidak diobati nanti bisa infeksi.”

“Tak apa, sungguh tak apa. Aku ingin lebih lama memelukmu, aku masih merindukanmu. Tak akan kurelakan sedetik pun untuk menyia-nyiakan pertemuan singkat ini. Sebentar lagi kau akan kembali pergi dan menyelesaikan killer schedule-mu itu, ‘kan? Kemudian berbagi waktu bersama fans-mu di Jeju dan 5 kota besar lainnya. Aku ingin menikmati kebersamaan ini, walaupun hanya sebentar. Oppa…,” Rintihku padanya dengan intonasi rendah dan mengeratkan rengkuhanku di pinggangnya.

“Baiklah, aku akan tetap di sini.” Ucapnya dengan seutas senyum mengembang di wajahnya. Ia meraih tanganku dan mengecupnya. “Apa sekarang lukamu sudah baikan, chagi?” tanyanya. “Ne, gomawo.

          Kami pun mengalihkan pandangan ke layar TV. Karena percakapan panjang barusan, tanpa sadar kami telah melewatkan banyak scene drama. Hingga munculah scene di mana Chanyeol oppa tengah berbicara serius dengan seorang gadis yang tidak lain adalah tokoh utama wanitanya. FYI, drama ini bercerita tentang;

Gil Na Mi (Kim Yoo Jung) seorang gadis yang menjadi satu-satunya siswi di sebuah sekolah menengah atas kejuruan. Ia sering dikerjai dan dikucilkan oleh anak laki-laki yang sekelas dengannya karena kemampuan akademik yang payah. Walau begitu, ia tak pernah merasa bahwa dirinya mendapat perlakuan deskriminasi secara verbal. Karena keunikannya itu Lee Chan (Park Chan Yeol) seorang siswa paling terkenal di sekolah tersebut menaruh perhatian lebih padanya dan berusaha mendekatinya.

          “Aku tak mengerti kenapa bocah itu begitu cantik walaupun wajahnya dipenuhi dengan kotoran hitam yang berasal dari uap mesin.” Seruku sangat antusias menonton drama tersebut dan direspon dengan gelengan kepala oleh Chanyeol Oppa. “Dia baru berusia 17 tahun, ‘kan?” timpalku. “Iya, chagi…” ujarnya singkat.

          Hingga munculah scene yang paling mendebarkan, adegan berciuman. “Omo! Omo! Omo! Lihatlah tokoh utama pria itu, caranya menciumnya benar-benar lembut dan sangat manis.” Reaksiku histeris, padahal pemain aslinya berada tepat di sampingku. Chanyeol oppa pun sontak membekap mulutku dan membenamkan wajahku di dadanya.

“Kenapa kau malah menonton adegan itu dengan amat serius?” herannya. Seketika aku pun berusaha melepaskan diri dari bungkamannya.

“Karena kau ingin melihat akting kelas duniamu, oppa.”

“Apa kau baik-baik saja?” tanyanya dengan wajah teduh

“Kenapa aku harus tidak baik-baik saja? Itu memang sudah tuntutan skenario, bukan?” tukasku. “Gomawo, ne?” ucapnya seraya menyibak rambut yang menutupi wajahku.

“Toh kalau sudah populer aku juga akan melakukan adegan ciuman yang lebih panas darimu.” Gumamku tanpa sadar.

“APA KAU BILANG?!” Chanyeol oppa dengan refleks tersentak.

Ani…, eobsseoyo. Mungkin oppa salah dengar.” Tukasku dan langsung memalingkan wajah dan berusaha untuk tak menatapnya. Ia lantas menarik daguku dan memaksaku mendongak menatap matanya yang tajam. “Coba kau ulangi sekali lagi, nona manis…” katanya.

“Aku hanya bercanda. Tapi kan walaupun begitu aku juga ingin mengalami kemajuan pada karirku. Aku ingin mendapat peran utama di sebuah film atau drama, maka dari itu aku selalu berusaha keras dalam menjalani setiap tawaran casting yang aku dapatkan. Memangnya kau saja yang boleh sukses dan mendapat adegan ciuman dalam drama?!” titahku panjang lebar. Aku tak mengerti raut apa yang kutunjukkan padanya saat ini. Antara kesal, takut, menyesal, dan cemberut, aku tak tahu yang mana.

          Chanyeol oppa tertegun setelah mendengar apa yang kuucapkan. Ia bungkam dengan tatapan yang masih sama. Tiba-tiba dan tanpa kuduga, ia malah mencengkram bahuku dan mendorongku hingga membentur tangan sofa.

“Aku memang mencium gadis itu, namun yang kupikirkan ialah dirimu. Karena hanya dengan cara itu aku akan mendapatkan perasaan yang begitu nyaman dan adegan yang sempurna. Jika suatu hari kau berciuman dengan pria lain karena tuntutan skenario…, apa kau akan menganggap lawan mainmu itu diriku, atau malah dirinya sendiri?” tukasnya dan membuat mataku terbelalak.

“Aku tahu arti perilakumu barusan. Kau tak suka melihat adegan ciumanku di TV. Namun kau bersikeras melihatnya agar apa yang kau rasakan tak ketahuan, ‘kan?” tambahnya lagi dan kali ini aku benar-benar tak bisa berkutik dibuatnya.

Ne, mian…,” jawabku lesu dengan pandangan yang terus menatap ke bawah.

          Tangannya menggeladik merengkuh pinggangku, serta tangan lainnya ia gunakan untuk meraup pipiku yang bulat. Perlahan aku mengangkat kepalaku seiring gerakan tangannya.

“Akan kuberikan ciuman termanis yang tak pernah dirasakan wanita lain kecuali kamu…,” bisiknya. Ia mulai memejamkan mata dan mempersempit jarak wajah kami. Perlahan ia meraup bibirku dengan sentuhan yang lembut. Aku membalas sapuan halus itu dengan membulatkan bibir. Sekujur tubuhku mulai menegang, larut terlalu dalam akan ciumannya itu. Tanganku yang awalnya menumpu tubuhku sendiri mulai menjalar untuk merengkuh tengkuknya. Aku meraup bibirnya, sedangkan ia terus saja melumat bibirku, membuat penjelajahannya makin jauh, dan sesekali gigi kami saling berbentur.

          Hingga pertautan oleh satu sama lain ini pun berakhir karena kami mulai kehabisan pasokan oksigen. Wajahnya perlahan-lahan menjauh, namun aku tetap merengkuhnya, tak membiarkan ia pergi. Begitu pula ia, tangannya masih berada di pinggangku, bahkan sekarang ia melingkarkannya lebih kuat.

“Terima kasih sudah menyempatkan waktumu untukku.” Ucapku lirih.

“Terima kasih juga karena telah menyambutku dengan sangat baik. Aku benar-benar tak ingin pergi. Bisakah aku membatalkan jadwal hingga besok? Aku ingin bersamamu sepanjang malam.” Timpal Chanyeol oppa.

“Apa yang oppa bicarakan? Jangan macam-macam! Bukannya saat kau masih merintis karir, memiliki jadwal yang padat ialah impian terbesarmu?”

“Tapi itu dulu, sebelum aku mengenalmu.” Ujarnya dan lantas mengecup bibirku sekilas.

Oppa mwoya…,” aku dibuatnya salah tingkah dan kujamin kini wajahku tengah bersemu merah.

– END –

Finally, I’m done with this again-fluffy-fanfiction.
Ngga tahu kenapa ya, selalu aja kalo bikin FF yang chaptered itu jadinya lama dan ngga telaten. Tapi sekalinya niat bikin ficlet, pasti malah kepanjangan dan jatuhnya ke oneshot atau vignette.

But so far I’m fine by myself and this fanfiction.
So sorry if you have no feel with this fanfiction. But surely I’ve do my effort so hard. Nulis nih ff tuh kaya mengumpulkan serpihan memori yang sempat hilang karena otak ini telah terkontaminasi dengan hafalan skrip pemrograman dan fungsi-fungsi power tools, bwahaha~!

I’d like to say big thanks to all my good readers who don’t judge me with speaking shit or speaking turtle. Kalau ngga suka kasih tau saya salahnya di mana, jangan asal jeplak kalo nih FF jelek lah, gak jelas, dsb. Kalau mau sequel bisa kali ya kasih saran alurnya gimana. Insya Allah akan saya tampung.

Btw itu sinopsis dramanya Chanyeol aku ngarang lho guys, seadanya aja yang ada di otak aku wkwk~

Comment Is Free of Charge (*^▽^*)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s