[Fan Fiction] Bon Apetite

bon apetiteMain cast: Kim Seok Jin (BTS), Han Yoo Bi (OC)

Genre: Romance, school life

Rating: Teen

Tumpukan buku yang amat tinggi di tangan hingga menutupi wajah itu benar-benar membuat Yoobi tak mampu melihat jalan dengan benar. Berkali-kali ia harus memiringkan kepala untuk memastikan bahwa tak ada orang di hadapannya. Entah sudah berapa kali Yoobi merutuk kesal dalam hati. Ini semua salah Taehyung, harusnya dia yang membawa separuh dari seluruh tumpukan buku yang ada di tangannya saat ini. Tapi dengan alasan yang konyol –kelaparan– ia dengan seenaknya menyuruh Yoobi mengantar buku-buku itu sendiri ke perpustakaan.

Tanpa ia sadari, ada seseorang yang tengah berjalan sambil melamun hingga tak memperhatikan sekitarnya termasuk Yoobi yang juga tak bisa berjalan dengan benar.

BRAKK!

Tabrakan yang begitu keras terjadi. Pegangan Yoobi pada buku-buku itu terlepas dan langsung mengenai orang yang barusan bertabrakan dengannya itu. Tapi ternyata tidak hanya terluka karena buku-buku yang sudah jelas berat, ia juga jatuh dengan posisi pantat duluan kemudian punggungnya membentur rak besar yang terbuat dari kayu.

Ia meringis dan meronta kesakitan, dapat dengan jelas Yoobi lihat lebam pada wajahnya serta sedikit darah yang mengucur dari pinggir bibirnya. Ia pun sontak terkejut dan langsung berjongkok untuk menolongnya.

“Maafkan aku…, apa kau baik-baik saja?” tanya Yoobi sembari memegangi lengan ‘korbannya’ tersebut. “Aish, sakit!” dengan gerakan cepat Yoobi segera melepas cengkraman tangannya pada lengan lelaki itu.

“Maafkan aku, aku benar-benar tidak sengaja.” Timpal Yoobi.

“Seokjin-a! Apa yang barusan terjadi?” murid-murid di sekitar lokasi kejadian segera berhamburan dan ingin tahu apa yang terjadi. Kalau Yoobi tidak salah dengar, nama lelaki itu adalah Seokjin.

“Ayo, segera bawa dia ke UKS!” celetuk Namjoon. Dengan bantuan Jimin, ia menuntun Seokjin menuju UKS.

Ketiga punggung yang berjalan dengan langkah timpal tersebut makin menjauh dari pandangan Yoobi. Jelas sekali terlihat sekelebat rasa bersalah tersirat di wajahnya. Lelaki yang kini ia ketahui bernama Seokjin itu belum menjawab permohonan maafnya tadi. Ia pun merapikan kembali buku-buku yang berserakan di lantai dan segera membawanya menuju perpustakaan, seperti tujuan awalnya.

Sekembalinya dari perpustakaan, Yoobi langsung berlari menuju UKS. Ia benar-benar khawatir dengan keadaan lelaki yang tadi ia tabrak.

Sesampainya di UKS, tanpa sengaja ia berpapasan dengan Namjoon dan Jimin yang hendak keluar dari ruangan tersebut.

Annyeong haseyo…” sapa Yoobi sambil menunduk dalam-dalam pada kedua kakak kelas yang lebih satu tingkat darinya itu.

“Bagaimana keadaannya?”

“Maksudmu…, Jin? Dia sedang berbaring di kasur.” Jelas Jimin.

“Oh, begitu ya? Hm…, boleh aku menemuinya?” Yoobi menunjukkan ekspresi penuh harap.

“Silakan saja, nona manis!” Namjoon membukakan pintunya dan membiarkan Yoobi masuk seorang diri karena ia dan Jimin harus segera kembali ke kelas.

Yoobi membuka tirai penyekat ruang UKS tersebut dan didapatilah Seokjin yang tengah berbaring sambil menatap langit-langit kamar.

Annyeong haseyo…” suara lirih Yoobi membuat Seokjin tersentak dan langsung menoleh ke arahnya.

“Oh, kau rupanya?”

Dengan penuh keraguan Yoobi coba mendekat dan berdiri tepat di samping ranjang. Ia pun bertanya, “Bagaimana keadaanmu, sunbae?”

“Lenganku yang sebelah kiri tidak bisa digerakkan.”

“Maafkan aku. Tapi setidaknya, tangan kanan sunbae masih bisa digerakkan, ‘kan? Jadi tidak kerepotan saat hendak menulis.”

“Aku ini kidal.”

Ucapan Seokjin yang terkesan datar itu benar-benar membuat Yoobi seakan tersambar petir. Matilah dia, kecerobohannya barusan benar-benar menyusahkan Seokjin.

“Maafkan aku, sunbae…” ucap Yoobi seraya menunduk dan memainkan kuku jemari, pertanda ia benar-benar menyesal.

“Tidak apa-apa. Bukan sepenuhnya salahmu, aku saja yang jalannya tidak pakai mata.”

Aniyo sunbae…, izinkan aku menebus kesalahanku!” ucap Yoobi mantap.

“Sudahlah lupakan, aku baik-baik saja…” Seokjin mengelak sambil mengibaskan tangannya di depan wajah Yoobi, namun tiba-tiba ia berteriak. “ARGH!”

Seokjin langsung mengelus-elus lengannya yang barusan ia gerakkan itu. Sakit sekali rasanya, padahal hanya digerakkan sedikit.

Aigo, sunbae… separah itu kah? Kau tak boleh menolakku, mulai besok aku akan merawatmu sampai kau sembuh.” Hardik Yoobi dan langsung disambut dengan tatapan heran Seokjin padanya. “Merawatku?”

Ne, aku janji. Kesembuhanmu adalah tanggung jawabku.” Yoobi menegaskan sekali lagi. Seokjin menggeleng-gelengkan kepalanya keheranan. Adik kelasnya yang satu ini benar-benar lucu dan polos. Kesembuhannya adalah tanggung jawabnya? Yang benar saja!

“Terserah kau sajalah…”

***

Dengan terpaksa Seokjin berangkat ke sekolah hari ini. Habis, mau bagaimana lagi…, kalau terus-terusan di rumah, ia juga pasti akan merasa bosan.

“Seokjin Sunbae!” suara seorang gadis mengagetkannya. Dan benar saja, saat ia menoleh ke samping, sudah ada Yoobi dengan senyum tercerahnya di pagi ini.

“Kau?” Seokjin menatapnya keheranan –lagi.

“Han Yoo Bi imnida.” Gadis berambut ikal itu memperkenalkan dirinya pada Seokjin karena merasa risih terus-terusan dipanggil “Kau” oleh lelaki berpostur jangkung tersebut.

“Sedang apa kau di sini? Mengagetkan saja!” tanya Seokjin. Namun bukannya menggubris pertanyaan tersebut, Yoobi malah secara tiba-tiba menarik tali tas yang tersampir di punggung Seokjin. “Biar aku yang bawakan tasmu, sunbae!” kata Yoobi.

“Apa-apaan ini? Aku bisa membawanya sendiri.”

“Tidak boleh, lengan sunbae pasti masih sakit. Ayo, aku akan bawakan sampai ke kelasmu!” Yoobi pun meninggalkan Seokjin yang masih terpaku akan sikap anehnya barusan. Memang sih, untuk membawa tas saja Seokjin harus repot-repot menahan sakit.

Gadis itu memang benar-benar tahu ya?

“Bangku sunbae di mana?” tanya Yoobi sesampainya ia di kelas Seokjin. “Di situ.” Jawab Seokjin sambil menunjuk bangku di sudut ruangan.

“Tempat yang tidak terjangkau oleh pandangan para guru? Aigo…, kalau begini, bagaimana cara sunbae dapat menyerap ilmu yang guru ajarkan?”

“Dengarkan itu, uri Seokjinie…” Yoon-gi secara tiba-tiba menyela ocehan Yoobi pada Seokjin.

“Diam kau, pendek!” Seokjin mencibir.

“Yoon-gi oppa, annyeong!” sapa Yoobi. Seokjin pun dibuatnya memicingkan mata. Yoobi dan Yoon-gi, mereka saling kenal?

“Nampaknya ada yang baru saja mendapat pelayan baru…” kata Yoon-gi.

Oppa, aniyo… ini adalah upayaku untuk menebus kesalahan pada Seokjin sunbae. Tangan dan punggungnya susah digerakkan karena aku. Oppa bantu dia juga, eo? Aku mohon.”

“Dia tidak pernah peduli dengan pelajaran,Yoo… jangan terlalu khawatir!”

“Nampaknya mulutmu itu perlu dikuliahkan ya, Tuan Min?” Seokjin mendadak naik pitam.

Kowai ne…, C’mon, Jin! I’m joke,”

“Terserah kau sajalah…” Seokjin menunjukkan ketidakacuhannya.

“Ya sudah, sunbae. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan untuk minta bantuanku, aku akan secepatnya datang!” Yoobi pun segera berlalu keluar dari kelas Seokjin.

“Beruntung sekali kau, uri Seokjinie…” celoteh Yoon-gi seraya memutar tubuhnya ke arah bangku Seokjin yang berada tepat di belakangnya.

“Beruntung bagaimana maksudmu?” tanya Seokjin sembari berusaha menahan nyeri di punggungnya tatkala ia duduk.

“Yoobi itu memang anaknya kelewat baik dan masih sangat polos ya?”

“Kau mengenalnya?”

“Dia juniorku yang paling sopan dan rajin, salah satu yang tercantik juga, hihihi…”

“Oh, dia itu anggota OSIS? Aku malah baru tahu.”

“Apa sih yang kau tahu mengenai sekolah ini? Hampir tidak ada.”

I don’t know because I don’t care.” tegas Seokjin.

“Baiklah, kau bosnya, Jin!”

***

Pada jam istirahat, seperti biasa Seokjin akan selalu berada di loteng. Menghabiskan waktu dengan menghindari keramaian.

“Ternyata benar, sunbae di sini…” Seokjin langsung terlonjak kaget mendengar suara itu memecah lamunannya. “Ya! Untuk apa kau ke mari?” tegur Seokjin.

“Menemui sunbae…, kudengar dari Yoon-gi oppa, kau sama sekali tak pernah ke kantin.”

“Memangnya kenapa kalau aku tidak pernah ke kantin, ada masalah?”

Aniyo…, malah bagus. Kita sama, sunbae. Nah, sekarang aku membawakanmu makanan, kau harus memakannya.” Yoobi pun duduk di bangku panjang yang Seokjin duduki pula. Segera ia buka kotak makanan yang sedari tadi ia pegang erat-erat itu.

“Ayo, sunbae, makanlah ini!” desak Yoobi.

Seokjin menoleh dan memperhatikan isi kotak makanan itu. Komplit sekali, ada olahan dari daging, wortel, tomat, dan selada.

“Ibumu rajin membuatkanmu bekal ya?” celetuk Seokjin.

“Ibuku? Enak saja! Ini semua aku sendiri yang masak.”

“Oh begitu…”

Aish, sunbae! Cepatlah makan, jangan banyak bicara!”

“Aku tidak lapar.”

“Kau harus banyak makan makanan bergizi agar cepat sembuh.”

“Begitukah?” Seokjin tetap kukuh dan tidak mau memakan masakan Yoobi.

Yoobi pun menjadi jengkel. Langsung saja ia mengambil sumpit dan menjumput beberapa potong daging dari kotak makannya kemudian dengan paksa ia sodorkan tepat di depan mulut Seokjin. “Buka mulutmu, sunbae!” ucap Yoobi sambil terus mendesak Seokjin agar mau menelannya.

Mwoya ige? Iya, iya, aku akan makan!” ia pun akhirnya menyerah. Seokjin menyaut sumpit di tangan Yoobi dan memilih sendiri menu yang ingin ia makan dari kotak tersebut.

“Habiskan ya, sunbae…” Yoobi senang sekali melihat Seokjin makan dengan lahap.

“Aku sudah selesai makan.” kata Seokjin seraya meletakkan sumpitnya ke tempat semula. Ia segera berdiri dan beranjak dari bangku, sejenak menatap Yoobi, kemudian berucap, “Terima kasih.”

Sunbae selalu di sini kalau jam istirahat?” tanya Yoobi.

“Iya.” Seokjin mengangguk.

“Oke, besok aku akan menghampirimu ke mari.”

“Besok?”

“Tentu saja. Aku kan sudah bilang, aku akan merawatmu hingga sembuh.”

Eo…, Terserah kau sajalah! Aku pergi dulu.” Seokjin mengambil langkah perlahan untuk kembali ke kelasnya. Ia tatap lekat-lekat punggung yang makin hilang dari pandangannya itu, tanpa Yoobi sadari, seulas senyum terukir di bibirnya.

Ia kembali memfokuskan pandangan pada kotak makanannya, seketika ia menghembuskan napas kecewa. Tidak semua masakannya dimakan oleh Seokjin. Hanya olahan dari daging yang ia habiskan, sedangkan olahan dari tomat dan wortelnya masih utuh.

“Jadi dia tidak suka wortel dan tomat? Baiklah, aku akan bereksperimen dengan kedua bahan ini nanti.” gumam Yoobi seraya merapikan serpihan makanan yang berserakan di sekitaran bangku.

***

Hari kembali berganti, seperti biasa, Seokjin datang ke sekolah menaiki bis umum dan sampai sepuluh menit sebelum jam pelajaran pertama dimulai.

“Seokjin Sunbae!” lagi-lagi ia mendengar suara Yoobi menyapanya. Nampaknya ia mulai terbiasa, jadi reaksinya hanya menoleh dan membalas sapaannya, “Hai…”

“Hari ini aku melarangmu membawakan tasku, mengerti?” sergah Seokjin sebelum Yoobi berhasil meraih tali pada tasnya.

“Tapi…,”

“Bahkan jika kau membangkang, aku tak mau memakan masakanmu nanti siang.”

Yak! Sunbae…, kenapa begitu sih?” rutuk Yoobi sambil mengerucutkan bibirnya.

“Aku bisa melakukannya sendiri kok. Sudah ya, aku ke kelas dulu.” Seokjin segera berjalan meninggalkan Yoobi. Pandangan gadis itu pun terlipat kecewa. Niatnya kan baik, tapi kenapa Seokjin terus menolak dan seakan tak membutuhkannya?

.

.

Bel istirahat berdentang nyaring, Seokjin segera beranjak dari bangkunya dan menaiki tangga menuju loteng –seperti bisanya. Seketika sekelebat pikiran mengenai gadis manis bernama Han Yoobi menari-nari di kepalanya. Gambaran tentang menu masakan yang akan ia suguhkan pada Seokjin benar-benar membuatnya antusias.

***

“Apa? Membersihkan ruangan ini? Kenapa harus sekarang? Nanti sepulang sekolah saja kan bisa. Aku sedang ada janji, nih!” Yoobi mengomel protes pada Nayeon karena menyuruhnya membersihkan ruang OSIS yang akan digunakan untuk rapat oleh para senior.

“Maaf, Yoo… janjinya dibatalkan saja ya? Ayo segera bersihkan, ini tidak akan memakan waktu lama jika kau serius.” elak Nayeon. Yoobi mengerucutkan bibir, memasang ekspresi kecewa yang amat dalam.

Ya sudahlah, apa boleh buat. Ia hanya bisa berharap, semoga Seokjin tidak marah karena Yoobi terlambat mengantarkan makanannya.

***

Sudah sekitar 30 menit Seokjin berkutat dengan kesendiriannya di atas loteng sekolah. Sesekali ia coba menoleh ke belakang, siapa tahu ia akan mendapati Yoobi yang datang membawa sekotak makanan dan berjalan menghampirinya. Namun sedari tadi, ia sama sekali tak menemukan tanda kehadiran adik kelasnya yang aneh itu.

“Tunggu, kenapa aku jadi mengharapkan kedatangannya begini?” heran Seokjin seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Nampaknya ada yang tidak beres denganku.”

Waktu istirahat hanya tersisa 15 menit lagi. Kecil kemungkinannya kalau Yoobi akan datang menemuinya hari ini. “Biarkan sajalah…, lagian aku juga tak seberapa lapar.” Seokjin terus saja menyugesti dirinya sendiri.

SUNBAE!” terdengar suara memekik seseorang gadis dan membuat kepalanya berputar untuk menatap orang yang barusan memanggilnya. Itu adalah Yoobi. Dengan berlari tunggang-langgang, ia menghampiri Seokjin.

Napasnya tersengal, namun tak ia hiraukan. Yoobi menatap Seokjin. “Maafkan aku, sunbae… tadi ada rapat mendadak oleh anggota OSIS. Sudah lama menungguku ya?” ucap Yoobi dengan deru napas yang masih belum bisa ia stabilkan.

“Siapa juga yang menunggumu? Jangan GR ya!” Seokjin mati-matian mengelak. Tapi Yoobi tak mempermasalahkan itu. Ia lantas mengambil posisi duduk dan mengeluarkan kotak makanannya.

“Aku sudah buat masakan spesial untuk sunbae…, cobalah!” kata Yoobi. Seokjin menatap lekat-lekat menu dalam kotak tersebut. Hanya ada satu menu utama di sebelah nasi. Warnanya kemerah-merahan, Seokjin berusaha menebak dari bahan apa masakan itu dibuat. Apa jangan-jangan… wortel dan tomat?

Sunbae, makanlah! Jangan cuma dilihat.”

“Ini…, wortel?” tanya Seokjin. “Ini tumis daging, namun kutambah dengan wortel dan sedikit tomat.” jelas Yoobi. Seokjin pun segera berdiri dan menghindar. “Aku tidak mau makan itu!” tolaknya mentah-mentah.

“Wortel dan tomat kan sehat, sunbae…”

“Kalau aku bilang tidak mau, ya tidak mau!” tegasnya. Ia pun mengambil langkah cepat dan berusaha meninggalkan Yoobi.

Tapi tiba-tiba ia rasakan sebuah tangan mencengkram pundaknya dan membuatnya berbalik secara paksa. Dengan gerakan cepat, Yoobi berjinjit dan menyuapkan sepotong wortel ke mulut Seokjin dengan bibirnya. Wortel itu berhasil masuk ke mulut Seokjin, namun hanya setengah, sedangkan sisanya terpotong oleh gigi Yoobi.

Suhu tubuh Seokjin mendadak meningkat. Matanya terbelalak hebat, tak bisa berkata apa-apa karena terlalu tegang. Apa yang baru saja gadis ini lakukan? Ia ingat betul, rasanya ada sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya tadi. Yoobi menciumnya?

“Aku cuma mau sunbae makan masakanku.” ucapnya seraya menunduk, menyesali hal bodoh yang baru saja ia lakukan. Perlahan Seokjin mengunyah wortel yang terlanjur masuk ke mulutnya itu lantas menelannya.

“Tidak buruk kan, sunbae?” tanya Yoobi, masih dengan suaranya yang ragu-ragu.

“I, iya… enak,” jawab Seokjin.

Wajah muram Yoobi seketika berganti menjadi cerah. Segera ia tarik lengan Seokjin dengan hati-hati dan membawanya kembali menduduki bangku panjang tersebut. “Pelan-pelan dong, sakit tahu!” omel Seokjin. “Maaf, sunbae…”

Yoobi kembali menyodorkan kotak makanannya pada Seokjin. “Dihabiskan ya? Katanya tadi enak…” ucap Yoobi. “Kau…, apa juga sudah makan?” tanya Seokjin tiba-tiba.

Eo, aku? Jangan pikirkan aku, sunbae makan saja itu!”

“Jadi kau menyiapkan ini untukku, tapi kau sendiri tidak makan? Yang benar saja! Aku tidak mau tahu, kita harus menghabiskan ini bersama-sama.”

“Tidak usah…”

“Buka mulutmu!” Seokjin tak mengindahkan Yoobi sama sekali. Yang ada sekarang ia malah menyodorkan sepotong daging tepat di depan mulut Yoobi dan membuat gadis itu dengan terpaksa menurut untuk menerima suapan itu.

“Ini untuk pertama kalinya aku makan wortel dan tomat. Ternyata rasanya tidak buruk ya?” celetuk Seokjin setelah ia menelan potongan terakhir dari lauk yang ada di kotak makanan itu.

“Sekarang jangan ragu lagi untuk memakan apa saja yang sudah kumasak ya, sunbae…”

“Terima kasih, Yoobi…” ucap Seokjin, seulas senyum menghiasi bibirnya. Senyum termanis dari seorang Kim Seok Jin yang tak pernah Yoobi lihat sebelumnya.

***

Hari berganti minggu, selama itu pula lah Yoobi dan Seokjin menghabiskan waktu bersama tiap jam istirahat. Entah mengapa, naik ke loteng dan menunggu kehadiran Yoobi rasanya sudah menjadi rutinitas yang pantang dilewatkan bagi Seokjin. Begitu pula dengan Yoobi, ia yang harusnya lebih sering berkutat dengan data-data pelanggaran siswa di ruang OSIS tiap jam istirahat, malah lebih memilih menemani Seokjin memakan masakannya. Sedikit bersenda gurau mengenai hal yang sebenarnya tidak penting, namun bagi Yoobi, itu sangat mengasyikkan. Awalnya, Seokjin memang terlihat dingin dan kaku, namun semua anggapan itu mendadak sirna setelah ia mengenalnya sampai sejauh ini.

Hari ini, seperti biasa, Yoobi dengan hatinya yang riang akan menaiki tangga menuju loteng sekolah untuk menemui Seokjin. Namun saat ia datang ke sana, loteng itu kosong, tak ada seorang pun di sana. Ia pun coba menanyakan pada Yoon-gi tentang keberadaan Seokjin.

“Dia membolos?” kening Yoobi mengerut setelah mendengar penjelasan Yoon-gi.

“Aku tidak tahu, mungkin orang tuanya sibuk, jadi tidak sempat menghubungi sekolah. Ya, bisa jadi begitu.” tukas Yoon-gi yang tidak ingin Yoobi berpikiran macam-macam mengenai teman dekatnya itu.

“Bisa oppa beritahu aku alamat Seokjin sunbae? Aku ingin menjenguknya.”

***

Yoobi tak main-main dengan niatnya menjenguk Seokjin. Sepulang sekolah, ia langsung menaiki bis untuk menempuh perjalanan.

Ia akhirnya sampai di sebuah rumah yang berada sesuai dengan alamat pemberian Yoon-gi. “Apa benar ini rumahnya ya? Besar sekali!” Yoobi dibuat mlongo oleh bangunan mewah di hadapannya itu. Dengan keberanian penuh, ia coba berteriak dari luar pagar.

“Permisi…, Seokjin sunbae, apa kau ada di dalam?!”

Teriakannya itu tak digubris. Buktinya, tak seorang pun muncul dari pintu untuk mempersilakannya masuk.

“SEOKJIN SUNBAE !!!” Yoobi coba memekik lebih keras dengan harapan ada orang dalam yang mendengarnya.

Tak lama kemudian, keluarlah seorang lelaki berpakaian santai–kaus longgar warna putih polos dan celana hitam selutut–berjalan menuju pagar. “Itu Seokjin sunbae!” Yoobi kelewat gembira.

“Yoobi, ada perlu apa ke mari?” tanya Seokjin dari dalam pagar. Sungguh tidak sopan, harusnya kan terlebih dahulu ia membukakan pagarnya dan mempersilakan Yoobi masuk.

Sunbae tidak masuk hari ini, jadi aku khawatir.” jelasnya.

“Hm…, kalau begitu masuklah dulu.” Seokjin pun membukakan pagarnya.

Ia mempersilakan Yoobi untuk duduk di ruang tamu yang terhubung langsung dengan ruang tengah, tempatnya menghabiskan waktu seharian ini.

“Kenapa suasananya lengang begini? Apa tidak ada orang lain di rumah?” celetuk Yoobi saking penasarannya.

“Aku tinggal sendiri, ayahku kerja di luar negeri, kakakku kuliah di Incheon, mereka semua jarang pulang.” jelas Seokjin.

“Oh begitu… Oh iya, kenapa sunbae tidak masuk hari ini?”

“Hanya sedikit flu, bukan masalah besar.”

“Tapi penampilan sunbae berantakan. Sudah mandi, makan, dan minum obat belum?”

“Aku sudah makan tadi.”

“Makan apa?”

“Ramen dan kimchi.”

YAK! Sunbae… kalau sedang sakit harusnya banyak makan sayur agar kondisimu pulih!”

“Aku sedang malas masak.”

“Akan kubuatkan makanan yang enak untukmu! Sekarang cepatlah mandi, sunbae. Hm…, apa perlu kubantu menyiapkan air hangat dan melepaskan perbannnya?”

“Eh? Tidak, tidak perlu. Aku bisa melepas perbannya sendiri. Tolong siapkan air hangatnya saja.”

“Oke, siap…”

Seokjin tidak mengerti apa gerangan yang menyebabkan sekelebat perasaan aneh berkecamuk di dalam hatinya. Rentetan pertanyaan mengenai alasan mengapa Yoobi begitu peduli menari-nari dalam pikirannya. Karena kesembuhan Seokjin adalah tanggung jawabnya? Apa mungkin hanya karena itu? Agaknya sedikit terasa aneh dan hal semacam ini terlalu asing bagi Seokjin.

Sepeninggal ibunya, ia memang tidak pernah memiliki seseorang yang benar-benar peduli dan memperhatikannya. Ia selalu menyimpan masalahnya sendiri, walaupun sebenarnya ia punya Yoon-gi yang selalu mengatakan bahwa ia siap membantunya kapan saja. Namun kali ini berbeda, Seokjin merasakan dentaman hebat di jantungnya ketika ia dekat dengan Yoobi. Kepeduliannya, tingkah polosnya, apapun yang gadis itu lakukan benar-benar mampu membuatnya terpanah. Apakah perasaan ini boleh disebut…, suka? Entahlah, kepala Seokjin kembali pusing jika sudah memikirkan hal itu.

Seokjin selesai mandi dengan air hangat yang telah Yoobi siapkan. Di samping itu, Yoobi juga telah siap dengan hidangan teristimewanya untuk Seokjin. Walaupun dengan komposisi seadanya –karena bahan makanan di kulkas Seokjin memang sangat minim– namun Yoobi jamin rasa masakan itu enak.

Sunbae, kalau sudah selesai ganti baju, langsunglah ke meja makan, ya?” Yoobi memekik dari meja makan.

Tiba-tiba datanglah Seokjin dengan rambutnya yang masih basah karena habis keramas. Ia mengibas-ngibaskan rambutnya dan tanpa sadar membuat Yoobi terpaku. Sexy sekali…

Namun dengan cepat ia tampik delusi liarnya itu dan kembali fokus menata piring di meja makan.

“Sudah matang, cepat sekali?” heran Seokjin.

“Ini cuma olahan darurat, bahan-bahan di kulkasmu juga sedikit sekali.”

“Tapi kenapa sepertinya apapun yang kau masak akan menggugah seleraku ya?”

“Ah, sunbae bisa saja. Tapi syukurlah kalau begitu. Sunbae makan ya!”

Seokjin melangkah ke meja makan dan segera mengambil posisi duduk. Di hadapannya sudah ada sepiring penuh berisi nasi lengkap dengan lauk yang semua bahannya sayuran.

“Kalau aku makan ini, rasanya aku lupa kalau daging jauh lebih mahal dari sayuran.” puji Seokjin, padahal ia belum menuntaskan aktivitasnya mengunyah. Yoobi menunggu ia menelan makanannya terlebih dahulu, kemudian mambalas, “Sunbae jangan berlebihan, aku jadi malu…”

“Yoobi-ya…”

Ne?”

“Apa kau tidak risih terus-terusan memanggilku ‘sunbae’?”

Eo, bukankah memang itu panggilan yang tepat?”

“Kau boleh memanggilku ‘oppa’, kalau kau mau sih.”

“Be, benarkah?” tanya Yoobi ragu. Seokjin menyambutnya dengan anggukan singkat.

Ne, Seokjin oppa…”

Seokjin pun selesai menyantap masakan Yoobi hingga habis tak bersisa. Yoobi menghampiri Seokjin untuk mengambil piringnya dan segera ia cuci.

“Terima kasih banyak…” ucap Seokjin, Yoobi pun tersenyum sendu sambil mengangguk singkat.

Usai mencuci piring dan membereskan meja makan, Yoobi berbalik lantas menuju ruang tengah. Ia baru ingat kalau Seokjin belum minum obat.

Oppa…” panggil Yoobi pada Seokjin yang tengah duduk santai di sofa depan televisi. Seokjin memutar kepalanya ke arah Yoobi, “Kenapa?”

“Kau harus minum obat dulu…,”

“Hm…, baiklah!” Seokjin mengangguk dan menatap Yoobi yang sibuk mengambilkannya obat flu. Kenapa ia jadi merasa senang jika gadis itu benar-benar memperhatikannya seperti saat ini?

Yoobi memberikan segelas air putih serta sebuah pil untuk Seokjin minum. Ia pun langsung menenggak obat tersebut dan meneguk airnya sampai habis.

“Kalau habis makan dan minum obat harusnya oppa tidur.”

“Aku tahu itu.”

Oppa butuh selimut?”

“Kurasa begitu.”

“Baiklah, akan kuambilkan untukmu.”

Atas seizin Seokjin, Yoobi pun memasuki kamarnya. Ia nyalakan terlebih dahulu lampunya, kemudian segera meraih selimut yang ada di atas ranjangnya. Tak sengaja ia melihat sebuah foto berbingkai yang sangat besar. Di foto itu, terlihat Seokjin yang memeluk seorang wanita–yang Yoobi duga adalah ibunya–sambil tersenyum begitu hangat.

“Pasti dia benar-benar menyayangi ibunya…” gumam Yoobi tanpa sadar.

Yoobi menutup kembali pintu kamar Seokjin setelah mematikan kembali lampu kamarnya. Ia berjalan menuju ruang tengah untuk memberikan selimut itu pada Seokjin. Saat hendak memberitahu kalau ia telah mengambil selimut, tiba-tiba Yoobi urung melakukan itu.

Dilihatnya kini Seokjin yang sudah tertidur pulas di atas sofa. Nampaknya sakit flu tersebut benar-benar membuat tubuhnya lemas. Yoobi bergerak perlahan untuk melapisi tubuh Seokjin dengan selimut tebal yang ia bawa. Saat tubuh Seokjin sudah terhangatkan oleh selimut, perlahan Yoobi berjongkok. Ia tatap wajah damai Seokjin ketika tertidur dari samping.

“Aku pulang dulu ya, oppa? Semoga cepat sembuh…” bisiknya lembut di telinga Seokjin, walaupun ia tahu kalau Seokjin tak akan mendengarnya. Ia menyandang tasnya dan hendak beranjak pergi. Tapi sebelum itu, ada hal penting yang ingin ia sampaikan.

“Sepertinya…, aku menyukaimu, oppa.”

***

Di kelas,

“Sebelum kau bercerita tentang Seokjin sunbae, aku sama sekali tak pernah mendengar nama itu. Wajahnya saja tak begitu familiar untukku. Memangnya dia sependiam itu ya?” celoteh Hyejung setelah Yoobi menceritakan sepenggal pengalamannya kemarin ketika berkunjung ke rumah Seokjin.

“Walaupun pendiam, tapi dia baik, kok!” ucap Yoobi.

“Jadi kau benar-benar suka padanya?”

“Aku tidak tahu, tapi tiap berada di dekatnya, aku merasa senang, saat dia sakit aku juga sangat khawatir. Aku tahu kalau dia merasa sikapku kemarin berlebihan. Tapi mau bagaimana lagi. Aku ingin merawatnya sampai sembuh!”

“Ayolah, Yoobi…, apa sih bagusnya dia? Katanya kau ingin punya kekasih yang pintar dan berprestasi? Tapi Seokjin sunbae, rajin belajar pun tidak.”

“Darimana kau tahu?”

“Kau bilang posisi duduknya di kelas adalah tempatnya para pemalas, bukan?”

“Iya, sih… Tapi kan, walau begitu…”

“Apa?”

“Dia itu baik, saat aku menabraknya dan membuat tangan serta punggungnya sakit, ia sama sekali tak menyalahkanku. Malah, dia menyuruhku untuk melupakannya saja.”

“Oke, aku tahu…, kau memang sangat menyukai pria lugu seperti Nobita Nobi.”

“Jadi, wajar-wajar saja kan kalau kubilang, aku berhasil menemukan alasan mengapa aku bisa suka padanya?”

“Alasan diterima, Nona Han.”

“Yoobi-ya, ada kakak kelas mencarimu, tuh!” Re-eum yang baru saja masuk kelas berteriak pada Yoobi. “Kakak kelas?” bingungnya.

“Paling juga senior yang mau memberimu pekerjaan.” celetuk Hyejung. Yoobi mendengus, memangnya tugas tadi pagi masih kurang banyak?

“Aku ke sana dulu ya?” ucap Yoobi pada Hyejung.

Yoobi keluar dari kelas dan mendapati Seokjin lah yang tengah bersandar pada dinding di depan kelasnya sambil menyedekapkan tangan di depan dada.

“Seokjin oppa?” panggil Yoobi dan membuat Seokjin sontak menoleh. “Wah, oppa sudah sembuh dari flu rupanya? Syukurlah…”

“Dan…, Maaf aku belum sempat ke loteng. Ada beberapa urusan yang harus kuselesaikan di kelas. Oppa terlalu lama menunggu ya?”

“Tidak juga…, justru aku ke sini karena ingin menemuimu. Aku bosan kalau ke loteng terus.”

“Me, menemuiku? Kalau bosan ke loteng, oppa makan mau makan di mana?”

“Ayo, ikut aku!” ajak Seokjin dan langsung meraih pergelangan Yoobi untuk digandengnya.

Oppa, tunggu! Aku harus mengambil kotak makanannya dulu…,” Yoobi segera mencelos pergi menuju kelas, namun dengan gerakan cepat Seokjin merengkuh pinggangnya dan membuat Yoobi tersentak mundur. Bahunya menabrak dada bidang Seokjin.

Oppa?” heran Yoobi atas tindakan tiba-tiba Seokjin.

BRAK!

Salah seorang siswa terjatuh tepat di depan perpustakaan. Ketika Yoobi menoleh ke sumber suara itu, ia pun akhirnya mengetahui alasan mengapa secara tiba-tiba Seokjin menarik pinggangnya. Rupanya ia ingin menghindarkan Yoobi dari tabrakan dengan murid yang dengan sembrono memainkan sepatu roda di lantai yang licin dan kini dengan sialnya terjatuh itu.

Seokjin segera melepaskan rengkuhannya dari pinggang Yoobi. Takut-takut nanti kalau terlalu lama, akan timbul kesalahpahaman.

“Terima kasih, oppa …” ucap Yoobi sedikit canggung. “Aku ambil bekalnya dulu ya?” ia pun kembali melanjutkan langkahnya menuju kelas.

“Tidak perlu, akan kutunjukkan sesuatu padamu.” Seokjin mengurungkann langkah Yoobi menuju kelas dan langsung menggiring gadis itu agar mengikutinya.

Sampailah mereka di taman belakang sekolah, satu-satunya tempat yang hampir tak pernah dikunjungi siswa selain loteng. Seokjin menyuruh Yoobi untuk duduk di bangku yang ada di depan kolam ikan. Yoobi langsung terkejut tatkala mendapati beberapa kotak plastik yang telah terisi dengan makanan.

Oppa?” Yoobi menatap Seokjin dengan raut kebingungan.

“Memangnya kau saja yang bisa masak? Aku juga, tahu!” celoteh Seokjin dan dengan iseng mencubit gemas hidung Yoobi.

“Jadi…, ini semua oppa yang buat? Aku meragukannya.”

Seokjin lantas mengambil posisi duduk di bangku yang sama. “Kau sudah sering memasak untukku, sekarang gantian aku yang masak untukmu.” kata Seokjin.

“Aku boleh mencobanya?” tanya Yoobi. “Tentu saja!”

Yoobi mengambil sumpit dan menjumput salah satu masakan Seokjin. Ia masukkan makanan itu ke dalam mulutnya dan meniliti rasanya benar-benar. Sudah seperti chef handal yang akan mengomentari masakan dari peserta ajang memasak saja!

“Kenapa tak pernah bilang padaku kalau oppa itu pandai memasak?”

“Jadi masakanku enak ya?” Yoobi membalas dengan anggukan dan melanjutkan makannya.

“Mulai besok, aku sudah boleh melepas gipsku dan tak dianjurkan minum obat lagi.” ucap Seokjin dan sedetik kemudian Yoobi sudah mendongakkan kepalanya karena terkejut.

Remuk seketika menghujam relungnya. Kenapa begitu cepat? Bukannya Yoobi tak senang jika Seokjin akhirnya bisa sembuh. Sungguh bukan. Tapi kalau ia sembuh, itu artinya Yoobi akan berpisah dengan Seokjin dan tak akan ada lagi seorang pria yang walaupun kelihatannya begitu kaku dan susah didekati, namun begitu hangat di kala jam istirahatnya.

“Jadi…, aku sudah tidak perlu memasak untuk oppa lagi ya?” Yoobi tak sanggup membendung buliran air mata di pelupuknya. Ini sungguh memalukan. Pasti detik ini juga, Seokjin menganggapnya gadis aneh yang tiba-tiba menangis tanpa alasan yang jelas.

Seokjin menangkup wajah Yoobi dengan kedua tangannya. “Siapa bilang kau tidak perlu memasak untukku lagi?” ucap Seokjin seraya menyeka air mata yang berlinang di pipi Yoobi dengan ibu jarinya.

Setelah mata Yoobi sudah tak sembab lagi, tangan Seokjin berdalih menjumput sepotong kacang panjang, ia gigit bagian ujungnya dan menyuapkannya ke bibir Yoobi. Ia membalas tindakan Yoobi beberapa waktu lalu dengan hal yang sama.

“Aku ingin kau memasakkanku makanan yang enak setiap hari.” kata Seokjin seraya membelai kepala Yoobi dengan lembut.

“Aku menyukaimu, Han Yoobi…” ungkapnya, walaupun ia sedikit ragu untuk mengatakannya sekarang. Yoobi tertegun, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Seorang Kim Seokjin, ternyata juga merasakan hal yang sama dengannya?

“Aku juga menyukai oppa…” ucapnya malu-malu.

Tangan Seokjin mulai menggeladik dan meraih jemari Yoobi untuk digenggamnya. Seulas senyuman sendu terukir di bibirnya. Demi apapun, rasanya ia hendak melompat kegirangan saat itu juga. Mengetahui bahwa ternyata Yoobi juga menyukainya merupakan sebuah kebahagiaan terbesar untuknya saat ini.

“Bisakah kita selalu bersama dan berbagi kebahagiaan seperti saat ini?” tanya Seokjin. Yoobi balas mengangguk.

“Terima kasih, Yoobi…”

– END –

FF Jin BTS, BTS fan fiction, kim seokjin ff, fan fiction, ff bangtan boys, ff romance pg-15 bts

6 thoughts on “[Fan Fiction] Bon Apetite

  1. Duh, kudet. Baru baca😄.
    berharap jadi kenyataan #yoGakk
    Bagus sih, tapi entah, kurang ngefeel gitu. sorry lho. pendapatku aja sih.
    mending padat tapi feel nya dapet. Keep writing ya!

    Suka

Comment Is Free of Charge (*^▽^*)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s