[Fan Fiction] Sunbae, Annyeong!

index1-1

Cast: Kim Tae Hyung, and the girl (you?)

Genre: school life, crime (??)

Rating: general

Length: Vignette

PROLOGUE

Setelah sekian lama menunggu di pemberhentian, akhirnya bis yang kunanti sedari tadi datang juga. Kulangkahkan kaki untuk menaiki bis tersebut. Setelah masuk, kudapatilah seluruh kursinya telah terisi penuh. Aku menghela napas singkat, melangkah gontai dan hanya bisa pasrah. Baiklah, tak apa jika kali ini harus berdiri lagi. Toh, tidak duduk selama kurang lebih 20 menit juga tak akan membuat tubuhku lemas total, bukan?

 

Bis kembali berhenti saat sampai di halte berikutnya. Beberapa orang pun segera menaiki bis. Tiba-tiba ada seorang penumpang yang berdiri di sebelahku. Aku dengan iseng menarik otot mataku untuk menatapnya dari ujung kaki hingga kepala. Seketika aku terperangah. Bukan karena sosok atau parasnya. Tapi apa yang tengah ia kenakan, itulah yang menarik perhatianku.

 

Almamater berwarna putih bersih, dasi kotak-kotak warna hijau tua dan hitam, serta bawahan yang bermotif senada dengan dasinya. Kakak ini, dia pasti berasal dari SMA Renaissance!

Annyeong haseyo, sunbaenim…” celetukku padanya tiba-tiba. Ia pun sontak menoleh, nampaknya ia menerima rangsangku dengan baik.

“Kau bicara padaku?” ia melongo seraya menolehkan kepalanya ke segala arah, memastikan kalau memang benar dia yang aku sapa.

“Iya, aku bicara denganmu.” Aku membenarkan.

“Kau memanggilku sunbaenim? Apa kita satu sekolah? Tapi…, seragammu–”

“Saat ini aku memang masih SMP, tapi kujamin, aku akan jadi juniormu di tahun ajaran baru nanti.” Jelasku. Lelaki itu terlongo setelah mendengar penjelasanku dan memasang air muka, what gotten into you?

 

Ia lantas mengganti ekspresi terkejutnya dengan senyuman simpul. “Bagus, aku menghargai kepercayaan dirimu itu, hoobae! Semoga kau lolos tes untuk masuk ke SMA Renaissance ya? Semangat!” lalu ia menepuk pundakku pelan. “Ne, aku akan berjuang.” Hardikku yakin sambil mengangguk.

 

Manik mataku sekali lagi dengan iseng melirik lelaki ini. Aku berusaha mencari tahu namanya dari nametag yang terpasang di almamaternya. Dan…, BINGO! Aku berhasil menemukannya. Tertera dengan jelas di sana. Oh, jadi nama sunbae ini adalah Kim Tae Hyung?

 

***

3 months later…

Suasana begitu gaduh setelah kepala sekolah turun dari podium dan meresmikan dibukanya Masa Orientasi Siswa baru.

 

Ya, setelah berjuang dengan segenap kemampuanku, akhirnya aku diterima di SMA Renaissance, sekolah lanjutan impianku sejak dulu. Rasanya benar-benar seperti terbang melintasi gumpalan awan putih yang berarak, sungguh menakjubkan!

 

Aku mempersiapkan semuanya dengan matang kemarin. Pakaian kucuci bersih, kusetrika rapi, dan kusemprot dengan pewangi yang amat melimpah. Tatanan rambutku juga tak kalah kerennya. Aku sampai bela-belakan menatanya ulang kemarin.

 

Kami–para peserta didik baru–digiring ke tengah lapangan oleh para senior. Cuacanya cerah dan sinar matahari tak begitu menyengat. Oh sungguh, kami benar-benar beruntung. Mereka kemudian menyuruh kami untuk duduk di tanah tanpa menggunakan alas apapun. Lantas, salah satu dari mereka, kalau dilihat dari wajahnya sih ia nampak galak, mulai berkelakar tidak jelas. Bukan maksudku mengatainya bicara hal yang tidak penting, tapi ucapannya memang tak jelas mengingat aku ada di deretan terbelakang.

 

Semilir angin yang sejuk menerpa wajahku. Sungguh, ini memabukkan. Tanpa sadar aku menguap dan lupa menyumpal mulutku dengan tangan. Jujur aku memang sangat ngantuk karena kemarin kurang tidur demi mempersiapkan hari ini. Dan bodohnya, aku malah mendapat perhatian karena kecerobohanku barusan. Semua murid yang awalnya berkonsentrasi menyimak ucapan senior yang tengah berdiri di depan itu pun seketika mengalihkan fokusnya padaku. Mereka menatapku heran dan hampir semua menunjukkan mimik yang menyiratkan, you are indeed crazy!

 

Aku lantas menunduk. Aduh, bagaimana ini? Kenapa aku bisa sepayah ini, sih? Rasanya aku ingin menggigit lidahku kuat-kuat hingga memuncratkan darah kemudian tak sadarkan diri dalam kurun waktu yang lama saja. Bantu aku, Tuhan…

“Hey, kau yang tadi menguap, cepat berdiri dan lekas maju!” kali ini senior tersebut menggunakan pengeras suara. Seketerlaluan itu kah aku hingga caranya memanggilku begitu istimewa? Aku hanya bisa menunduk dalam-dalam seraya menggigiti bibir. Rasa kalut dengan hangat menyelimuti diriku saat ini juga.

“Kau tidak tuli, ‘kan?” tandas senior itu lagi. Aku berusaha berdiri dengan kakiku yang bergetar hebat. Saat berjalan, kurasakan banyak pasang mata tengah memperhatikanku. Siapa lagi kalau bukan mereka yang satu angkatan denganku?

 

Sesampainya aku di depan, senior itu membalikkan tubuhku dan membuat seluruh peserta MOS dapat dengan jelas melihat wajahku.

“Coba jelaskan, apa maksudmu melakukan hal tidak sopan seperti tadi?” celetuknya.

Cheonsong hamnida, sunbaenim…” ucapku terbata-bata saking gugupnya.

“Kami butuh jawaban, bukannya permohonan maaf!”

“Aku…, mengantuk, sunbae. Aku terlalu antusias menyiapkan keperluan untuk hari ini hingga kurang tidur.”

There’s no one who trusts your weird reason, girl…, cobalah mencari alasan yang lebih rasional.” Katanya.

“Aku tidak bohong, sunbae…”

“Baiklah, baiklah. Tapi kami tetap harus memberimu hukuman atas tindakan tidak sopanmu barusan, dik…” aku mengangguk pasrah mendengar ucapan kakak senior tersebut.

 

Ia menoleh ke belakang, menatap kawan-kawannya untuk meminta pendapat mengenai hukuman apa yang layak ditimpalkan padaku. Setelah berdiskusi dengan bisikan panjang, akhirnya ia pun kembali untuk mengumumkan hukuman buatku.

“Kalau boleh aku berpendapat, kerapianmu adalah yang terbaik di antara semua siswa baru. Benar-benar bersih dan mentereng. Geurigo…, bagaimana kalau kita buat itu menjadi makin bersih, hm?” tandasnya yang masih melipat tanda tanya di otakku. Membuat pakaian yang kukenakan tampak lebih bersih? Maksudnya apa?

 

Earthworm dance! Earthworm dance! Earthworm dance!” seru kakak-kakak senior di belakang dengan gaduhnya. Seketika teman-teman di hadapanku pun melongo, tak percaya dengan hukuman yang dijatuhkan padaku. Oh sungguh, bahkan itu terdengar lebih konyol dari alasan tentang aku yang mengantuk karena terlalu ribut menyiapkan keperluan MOS.

 

“Bukan kah mereka yang malah tidak rasional pada gadis itu?” terdengar decakan pendapat dari beberapa murid yang ada di hadapanku. Semoga para senior tak mendengar ucapan mereka barusan.

“Hey, tunggu apa lagi? Segera lakukan earthworm dance seperti yang kusuruh tadi!” gertak senior itu. Aku tersentak kaget dan terhuyung mundur karena bentakannya barusan. Dengan ragu, aku mulai bersendeku dan menempelkan tempurung lututku ke tanah yang berkerikil. Setelah itu tanganku pun menyusul untuk ditempelkan ke tanah pula. Aku sudah seperti orang yang hendak membuat versi cover dari ‘Something’-nya Girl’s Day! Jika kalian ingin tahu.

 

Aku mulai menengkurapkan tubuh. Sekelebat pertanyaan mengenai mampu kah aku melakukannya berkecamuk di pikiranku. Ini berat, agaknya mustahil kalau gerakan earthworm dance-ku sempurna.

 

Kuhentakkan tanganku ke lantai dan mendorong pinggulku agar bisa memantul ke atas. Ini baru langkah pertama, tapi tulang kemaluanku sudah merasakan sakit yang teramat sangat. Kemeja putih yang kukenakan pun tak luput dari debu dan sudah jauh dari kata bersih.

 

Langkah ketiga saat melakukan gerakan tersebut, kini payudaraku yang mendadak merasakan sakit. Tulang kemaluanku juga rasanya mau pecah. Kedua sikuku tergores kerikil, daguku terbentur tanah, rasanya sakit. Sungguh sakit.

“Kalau tidak kuat jangan dipaksakan!” teriak salah satu murid yang mungkin tidak tega melihatku terlalu “bersemangat” menjalani hukuman.

“Berhentilah, nanti kulitmu bisa infeksi.” Ucap teman di depanku dengan suara yang lebih kalem dari murid sebelumnya. Aku cuma bisa tersenyum. Habis mau bagaimana lagi, kakak senior itu belum menyuruhku berhenti.

 

YA! APA-APAAN INI?!” pekik seseorang dan membuat seisi lapangan memutar kepala ke arahnya.

“Mampus, itu kaicho!” semua anggota senior tersentak oleh kehadiran lelaki itu. Dia yang mereka panggil dengan sebutan ‘kaicho’ itu pun segera berlari dan menghampiriku. Ia membantuku bangun, lantas bertanya, “Neo gwaenchana?” raut khawatir jelas terlihat di wajahnya.

 

Tunggu, rasanya wajah lelaki ini nampak familiar di mataku. Hidungnya mancung, itulah yang paling kuingat. Yak! Dia ini kan…, Kim Tae Hyung sunbaenim!

 

Tanpa perlu basa-basi, ia membantuku berdiri dan mengalungkan tangan kananku di lehernya. Ia menuntunku berjalan pelan-pelan. Namun sebelum itu, terlebih dahulu ia berhenti dan menatap jeri ke arah kawan-kawannya.

“Aku akan menyelesaikan urusanku dengan kalian sebentar lagi. Tunggu!” Tandasnya dan melanjutkan menuntunku melangkah.

 

Kami pun sampai di sebuah ruang bertuliskan ‘UKS’. Ia membuka pintunya dan mendudukkanku di salah satu ranjang. Taehyung sunbae beralih menuju kotak P3K untuk mengambil kapas dan cairan pembersih.

“Kau bersihkan sendiri ya? Kalau aku yang melakukan, takutnya nanti terlalu kasar dan kau malah tambah kesakitan.” Ucapnya seraya meyodorkan seplastik kapas dan botol cairan pembersih padaku.

Kamsa hamnida, sunbae…” aku meraih kedua benda itu dari tangannya.

 

“Kau tunggu sini sebentar ya, dik?” celetuk Taehyung sunbae tatkala aku tengah meniup lukaku agar lekas mengering. Aku sontak menoleh dan mengangguk singkat. Kuperhatikan lekat-lekat punggung yang perlahan-lahan hilang dari pandanganku itu. Wajahku terlipat kecewa, sepertinya Taehyung sunbae tidak ingat padaku, hiks!

 

Tak butuh waktu lama untuk menunggu, ia akhirnyakembali dengan membawa sekotak jus dan sebuah pakaian ditangannya. Kenapa kembalinya cepat sekali? Kukira dia hendak menghampiri teman-temannya yang kasar itu.

“Ini, untukmu.” Ucapnya dan memberikan kotak minuman itu padaku. Aku terlongo, memasang air muka, yang benar?

“Bajumu juga kotor, sedikit sobek juga,’kan? Kalau lukamu sudah agak kering, gantilah bajumu dengan seragam olahraga ini,” Timpalnya tanpa mengindahkan raut wajahku. Jadi tadi dia pergi untuk mengambil baju olahraganya? Dia benar-benar baik!

“Maafkan teman-temanku ya?” celetuk Taehyung sunbae lantas mengambil posisi duduk di sampingku.

“Ah, itu bukan masalah besar, sunbae…, oh iya sebelumnya, ada yang ingin kutanyakan. Tadi teman-temanmu menyebut kata ‘kaicho’ saat kaudatang. Maksudnya apa ya?”

“Itu bahasa Jepang, dalam bahasa Korea artinya pemimpin.” Jelasnya. Mendengar itu, aku pun langsung terlonjak kaget.

“Wah, jadi yang kuajak bicara di bis waktu itu adalah ketua OSISnya? Kenapa sunbae tak bilang padaku. Hm, tidak kah kau mengingatku, sunbae?” tanyaku ragu.

“Kita…, pernah bertemu sebelumnya?” ia memicingkan mata dan alisnya mengerut. Napasku terhela tanpa ia tahu, sungguh mengecewakan.

“Tunggu! Ya, kau gadis berseragam SMP yang menyapaku waktu di bis itu, ‘kan? Aku baru bisa mengingatnya. Wah, kau berhasil masuk sekolah ini. Selamat ya!” aku tersentak mendengar penuturannya tersebut. Dia mengingatku, yess!

 

“Masih sakit?” celetuknya. Aku pun memutar kepala ke arahnya. Kuangkat tanganku, dan menempelkan jari telunjukku pada ibu jari. “Hanya sedikit.”

“Dasar mereka, sudah kukatakan jangan pakai kekerasan pada adik kelas, tapi malah tak dihiraukan. Andai tadi aku di sana saat mereka menghukummu…,”

“Memangnya tadi sunbae ke mana?”

“Kami berbagi pekerjaan. Ada yang mengurus siswa baru di lapangan, ada juga yang membereskan aula yang barusan digunakan untuk pembukaan MOS.”

“Oh, jadi tadi sunbae membersihkan aula,” balasku garing.

“Kenapa kau tidak menolak saja saat dijatuhi hukuman? Gadis sepertimu…, tidak mungkin melakukan perbuatan kurang ajar pada senior, ‘kan?”

“Aku hanya tak sengaja menguap tadi. Tidak apa-apa. Masuk sekolah ini adalah impianku sejak dulu. Aku berjuang sangat keras untuk ini. Setelah aku dapat bersekolah di sini, aku merasa sangat gembira. Rasa sakit akibat tergores tanah atau tertusuk kerikil tidak akan bisa menyamai kegembiraan yang kurasakan.” Jelasku dengan senyum yang tak henti-hentinya terulas dari bibirku.

 

Saat aku menoleh dan hendak menatapnya, kudapati Taehyung sunbae yang tertegun setelah mendengar penjelasanku. “Ada apa, sunbae?” bingungku.

“Tidak. Tapi nampaknya…, kau berhasil membuatku kagum akan sikap pantang menyerahmu.” Dan lagi, ia menepuk pelan pundakku sambil tersenyum.

 

– END –

Anggap saja ini curahan hati setelah mendapat kabar kalau gue…, LULUS !! OI GUE LULUS OI !! b3b3 makasih ya buat visitors blog ini yang beberapa waktu lalu baca notice di widget dan do’ain saya, entah itu do’anya ikhlas atau gak sengaja do’a. Hehehehe~ Kalian luar biasa pokoknya!! 088088

Semoga ya nanti kalau di sekolah baru punya senior sebaik Taehyung di FF ini, hohoho~

oh ya, pada tau earthworm dance gak? yang kaya begini lho…

eartwormdance

Kalian gak percaya kalo ini susah? Coba sendiri deh, kalian ndlosor ke lantai, pantul2in badannya ke atas. Susah banget sumpah -_-

Makasih semua yang udah baca, n6n6n6

7 thoughts on “[Fan Fiction] Sunbae, Annyeong!

  1. Oh ini fanfic kelulusan? Haha.
    Yah semoga ketemu sama sunbae yang baik deh, tapi ogah kalo disuruh earthworm dance =_=
    Itu kakak senior yang jahat kok aku bayanginnya suga ya. Mungkin karna dia jahat banget wkwkw.
    Good job lel! I like it hehe.

    Suka

  2. Smoga FF ini kejadian sma aku, yang bagian ‘diterima disekolah impian’ amien^^
    Smoga FF ini gk kejadian sma aku, yang bagian ‘earthworm dance’ -_-
    God Job lel! FFnya very nice, saya suka saya suka😀

    Suka

Comment Is Free of Charge (*^▽^*)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s