[Fan Fiction] The Miraculous Cat

The Miraculous Cat

Author: Mingi Kumiko^^

Cast: Jun Kyung Min, Kunpimook Bhuwakul (Bambam)

Genre: Fantasy, comedy, etc.

Leght: Oneshot

Rating: PG-13 (akhirnya saya tobat juga-_-“)

Summary:

Jun Kyung Min adalah seorang gadis penyendiri yang sangat membenci binatang –terutama kucing karena punya pengalaman buruk dengan hal tersebut.

Suatu hari, ada seekor kucing yang tidur dan mengusap-ngusapkan kepala di kakinya setelah ia pulang dari kerja paruh waktu. Awalnya ia agak risih dengan kucing itu dan langsung menendangnya agar menjauh dari rumah. Namun kucing itu tetap kembali walaupun Kyungmin telah bersi keras mengusirnya.

Akhirnya dengan berat hati ia pun mengurus dan memelihara kucing itu. Tapi tanpa Kyungmin tahu, kucing yang ia pelihara itu bukanlah seekor kucing biasa.

.

.

Bel pulang berdentang nyaring. Segera lah kubereskan buku, menyandang tas, dan melangkah keluar ruangan untuk meninggalkan sekolah lalu pergi ke Café tempatku bekerja.

Oi, biar kuperkanalkan diriku terlebih dahulu. Jun Kyung Min, gadis mandiri berusia 18 tahun. Hobi membaca buku, tentu saja. Begini lah sehari-hari, selain sibuk belajar, aku juga harus mencari uang. Bukan karena aku berlatar belakang dari keluarga miskin, hanya saja aku malas jika harus menggantungkan hidup dari kedua orang tua yang telah bercerai. Di rumah aku pun tinggal sendiri. Entahlah itu bisa dianggap sebuah kebebasan, atau malah sebuah pengabaian dari kedua orang tuaku.

“Kyungmin-ah, kau datang lebih awal hari ini…” Ucap Euibong-ssi –sang pemilik café tempatku bekerja.

Ne, Euibong-ssi… Kebetulan hari ini guru yang mengajar di jam terakhir tidak masuk. Jadi aku bisa langsung menuju ke mari.” tukasku.

“Sepertinya sift-mu masih lama, Youngjae belum pulang. Bagaimana kalau kau membantuku saja?” tawar boss-ku.

“Hmmm, membantu apa?” tanyaku. Segera lah mengangkat sebuah kotak besar dan membukanya. “Tolong kau mandikan kucingku ya? Aku sedang sibuk menghitung keuntungan yang didapat kemarin,”

“APA?! Memandikan kucing? Tapi kan saya–”

“Sudah, jangan membangkang! Nanti honormu hari ini akan kunaikkan, oke? Terima kasih, Kyungmin!” sahut Euibong-ssi dan langsung menyodorkan keranjang kucingnya itu padaku.

YA! Euibong-ssi…” Aku berseru tertahan, namun tak digubris sama sekali oleh boss-ku itu.

Beliau tidak tahu apa? Aku ini kan benci dengan kucing. Dulu, pernah sekali aku berkunjung ke rumah paman yang memelihara kucing. Tipenya angora dan itu sangat lucu. Bulunya tebal dan halus. Saat aku hendak mengelusnya, tiba-tiba saja kucing itu mengerang dan memberontak, kemudian mencakar pipiku.

Aku sempat malu untuk keluar rumah dalam waktu beberapa minggu. Tiap pergi ke sekolah aku selalu menggunakan masker penutup wajah. Jika temanku bertanya apa alasannya, aku cuma menjawab, “Aku takut terkena virus flu babi.”

Sejak saat itu, aku benci sekali pada kucing. Mendekatinya saja aku sudah takut duluan. Dan sekarang, dengan teganya Euibong-ssi menyuruhku memandikan kucingnya. Oh god, semoga kucing miliknya ini tak akan mencakarku seperti kucing milik paman!

Setelah sampai di kamar mandi dengan menggendong kucing itu, aku pun mendadak bingung. Apa yang pertama kali harus kulakukan? Di mana sampo kucing biasa diletakkan? Dan… bagian mana yang terlebih dahulu harus dibasahi?

“Kyungmin-ah, ngapain ngelamun di depan kamar mandi?” tanya Youngjae yang langsung memecah lamunanku. “Ano… Aku bingung, bagaimana cara memandikan kucing. Euibong-ssi menyuruhku memandikan kucingnya. Kau bisa tidak?” ujar Kyungmin.

“Kau lupa ya, aku punya 3 ekor kucing peliharaan di rumah.” kata Youngjae.

“Oh ya? Bukannya lupa, tapi memang aku baru tahu. Kau bisa kan? Ya sudah, kau saja ya yang mandikan!” pintaku.

“Maaf, aku harus menjaga kasir.” tolak Youngjae dengan halus.

“Tenang, biar aku saja yang gantikan. Dan upah mamandikan kucing dari Euibong-ssi akan kuberikan padamu, bagaimana?”

“Wah, boleh! boleh!” Youngjae mengangguk pertanda setuju.

“Nah, begitu…”

Aku pun segera berganti baju seragam pelayan dan langsung menuju kasir untuk menggantikan Youngjae. Ah~ akhirnya bisa terhidar dari kucing!!

***

Sudah jam sepuluh malam, asyik!! Waktunya pulang. Aku pun membalikkan tulisan di pintu yang awalnya ‘open’ menjadi ‘close’. Kemudian langsung menuju ruang belakang untuk kembali memakai seragam.

Sesampainya di rumah, aku langsung merebahkan tubuhku di kasur. Hari ini tak terlalu melelahkan, hanya saja sangat membosankan. Besok ada PR apa ya? Hey! Kenapa aku mendadak ingat hal tak penting bernama PR itu? Haha, itu bukan gayamu, Kyungie…

Miaw… miaw…” baru saja aku berhasil memejamkan mata dan kehilangan kesadaran, tapi mendadak kudengar kucing mengeong dan membangunkanku. Sialan, kucing siapa sih itu?!

Miaw… miaw…” lagi-lagi suara itu terdengar, cih!

Aku pun beranjak dari kasurku dan berjalan sampai ke pintu depan. Kubuka pintu dan merunduk ke bawah. Kemudian… tadda!!! seekor kucing kampung sudah ada di depan kakiku yang telanjang. Kucing itu mendongak, seakan menatapku. “Miawww…” kucing tersebut kembali mengeong.

Aigo…” aku menghembuskan nafas, mendengus kesal. Saat hendak menutup pintu, kucing itu pun tiba-tiba mengambil langkah dan menerobos lewat selipan pintu dengan bingkainya.

YA!!” jeritku saking kagetnya. Aku pun kembali membuka pintunya dan menendang kucing itu agar keluar dari rumahku. “Miaww…” lagi-lagi ia mengeong, tanpa kuduga sebelumnya, kucing itu pun langsung menidurkan kepalanya di kakiku.

Ige mwoya?!” heranku sekaligus panik. Kucing ini susah sekali dipindahkan. Oh, haruskah aku mengangkat dan meyentuh bulu-bulunya yang tentu saja kasar itu?

Kucing itu seperti menyenyakkan tidurnya di kakiku. “Hoaaamm…” tanpa sengaja aku menguap. Ya sudah lah, apa boleh buat? Kuangkat saja kucing ini dan kutidurkan di lantai kamar yang berlapis karpet. Semoga dia tidak mengganggu, apalagi mencakarku!

***

Jam enam pagi, aku pun terbangun dari tidurku semalam. Huh, masih ngantuk! Mendadak kurasakan ketidaknyamanan saat aku menarik nafas, rasanya ada bulu kasar yang ikut terhirup di hidung. Saat kutarik otot mataku ke bawah, aku pun mendadak terkesiap. Kucing yang semalam kutemukan itu tengah tidur di atas dadaku.

Perlahan-lahan kugeser tubuhnya agar tak lagi meniduri tubuhku, risih juga lama-lama. Dia berat pula! “Miaww…” Ia pun bangun dan langsung mengeong dengan lucu. Secara refleks, kugerakkan tanganku untuk mengusap kepalanya.

“Kau ini kucing yang lucu sih, tapi sayangnya mesum. Berani-beraninya kau tidur di dadaku, huh?!” ucapku pada kucing itu. Tak peduli ia bisa mengerti atau tidak, aku juga cuma asal bicara.

Ah, lagi-lagi harus sekolah! Malas. Banyak PR yang belum kukerjakan pula! Tapi kalau di rumah saja, aku juga bosan harus melakukan apa. Bermain dengan kucing ini? Mana mungkin! Huh, pada akhirnya aku juga akan ke sekolah…

Saat hendak membuka pintu, tiba-tiba kurasakan bulu-bulu kasar pada betisku. Aih… pasti kucing kampung itu lagi! Saat kutoleh kebelakang, ternyata memang benar.

“Iya, iya, aku tahu kau lapar… Tapi kau juga harus mengerti, pemilik rumah ini juga belum sarapan.”

Miaww…” kucing itu hanya mengeong. Tentu saja, karena hanya itu kan yang bisa dia lakukan?

“Hufff… Iya, iya, kucing rewel! Kau tunggu sebentar, aku akan membuatkanmu susu,”

Susu yang kujanjikan pun selesai kubuat, kuletakkan mangkok sebagai wadah susu itu di lantai.

“Kirr… Kirr…” panggilku pada kucing itu. Tunggu, bukan kah yang barusan kukatakan adalah cara memanggil ayam? Lalu, bagaimana cara memanggil seekor kucing agar mau mendekat? Entahlah, aku juga tidak tahu.

Kuperhatikan lamat-lamat ketika kucing itu menjilati susu putih yang kubuat.

“Hmmm, sudah ya? Kau di sini dulu! Aku mau sekolah, setelah itu kerja. Pulangnya malam, jangan kangen!”

***

Hari ini Youngjae mengantarku pulang dengan motornya. Bukan karena apa-apa sih, hanya saja aku yang memang memintanya. Habis aku malas pulang dengan naik bis. Sekalian katanya itu balasannya karena telah memberinya upah memandikan kucing.

Aku pun memasuki rumah dan lagi-lagi kucing kampung ini menyambutku. Aku pun berjongkok, kemudian mengelus kepalanya. “Menugguku ya? Kekeke…”

Karena sudah ngantuk berat, aku pun langsung tiduran di kasur. Tiba-tiba kucing itu ikut menaiki kasurku dan duduk di sampingku. Sepertinya kebencianku terhadap kucing sudah mulai hilang. Aku sama sekali tak ragu untuk mengelusnya, atau bahkan jika nanti ia tidur di dadaku lagi, rasanya tak masalah.

Aku mengelus kucing itu sambil bermonolog.

“Hey, kucing… aku lupa, kau kan belum kuberi nama. Hmmm, kira-kira apa ya nama yang cocok untukmu? Bagaimana kalau… Bam? Karena aku menemukanmu di malam hari.

“Eits, tunggu! Rasa-rasanya, nama itu sungguh tak enak di dengar. Kalau Bam-Bam? Karena aku memberi nama setelah dua hari aku bersamamu. Aihh, malah kesannya lebih aneh!

“Hmmm, bagaimana kalau memanggilnya dengan lidah western? Bem-bem… ahh, jadi terdengar seperti suara knalpot motornya Youngjae!”

Aku pun mengacak rambut frustasi, rasanya tak ada nama bagus yang terlintas di otakku.

“Baembaem…” secara tak sadar aku mengucapkan nama itu.

“Ya, kucing kampung, sekarang kau punya nama. Yaitu, Bambam, tapi bacanya Baembaem. Keren dan unik bukan?”

“Ya sudah, ayo kita segera tidur!”

.

.

Sekitar pukul 2 malam, aku pun terbangun dari tidurku yang nyenyak karena mendengar suara berisik. Aku tak tahu dari mana suara itu berasal, yang jelas itu sangat menggangguku. Tapi aku terlalu malas untuk menoleh dan membuka mata. Ah, tetap saja! Aku dirundung rasa penasaran. Si Bambam yang tadinya tidur di sampingku pun mendadak hilang. Tapi paling-paling juga sedang berkeliaran keliling rumah.

Eonnie, beri aku baju dong?” tiba-tiba terdengar suara yang demikian di telingaku. Suaranya agak cempreng dan kelewat polos. Karena penasaran, aku pun mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan. Dan aku pun mendapati…

“GYAAAAAAAAA!!!” aku menjerit sejadi-jadinya tatkala melihat sesuatu di depan kasurku. Langsung kutarik selimut dan bergelung kemul, menutupi seluruh bagian tubuh agar tak dapat melihat apapun.

Bukan, bukan hantu berwajah seram yang kulihat. Tapi… seorang pria cungkring yang sedang telanjang.

“KAU SIAPA?!” tanyaku dengan memekik.

Eonnie, tolong beri aku baju!” pintanya lagi.

“Iya, iya, bersembunyilah di balik meja dulu. Pastikan aku tak bisa melihatmu!” jawabku panik.

“Baik…” ia menurut.

Setelah dirasa ia telah bersembunyi, aku pun melepas selimutku dan segera menuju lemari pakaian untuk mengambilkannya baju.

“Nih, pakai!” kataku sambil melempar pakaian untuknya ke meja tempat ia bersembunyi.

Eonnie, bagaimana aku bisa pakai bawahan tanpa celana dalam terlebih dahulu?” tanyanya. Aku pun menghembuskan nafas terlebih dahulu sebelum mengambilkannya celana dalam. Tentu saja itu milikku. Mana mungkin aku menyimpan celana dalam milik laki-laki.

Kulemparkan celana dalamku padanya.

Eonnie, kenapa celana dalam yang kau berikan bermotif stroberi? Aku kan laki-laki.” kembali, lelaki asing ini membuatku menghela nafas.

“BERISIK! ADANYA ITU, PAKAI SAJA!” aku mengomel dengan intonasi tinggi.

“Maafkan aku, eonnie…” ucapnya gemetaran.

Setelah sekiranya berpakaian dan tak telanjang lagi, ia pun keluar dari tempat persembunyiannya, kemudian duduk di kasurku.

Ya! Siapa suruh kau duduk di sini, huh?!” omelku.

“Bukannya tadi ini memang tempatku?” jawabnya.

“Apa?! Kau pikir aku cabe-cabean? Mana pernah aku membawa masuk lelaki sampai kamar!” aku mengelak dan tak terima.

“Ini aku, eonnie… Aku Bambam, kucingmu itu!”

“Tunggu, kau ini laki-laki, kenapa terus saja memanggilku eonnie?!”

“Karena itu lebih imut. Ya, ‘kan?”

“Seperti menjatuhkan harga diri. Hmmm… well, kau benar-benar Bambam kucingku? Kenapa bisa menjelma jadi manusia? Wah… kau ini siluman ya?!”

“Bukan, eonnie… Dulu, aku ini manusia. Aku sudah mati dan berenkarnasi menjadi seekor kucing.” jelas Bambam.

“Renkarnasi? Amboi… ada-ada saja!” aku menggeleng keheranan.

“Aku sungguh-sungguh, tahu!” ia pun menggerutu.

“Oke, maaf. Tapi sepertinya ini menarik. Kenapa kau bisa mati?”

“Aku mati karena kecelakaan, kala itu aku berniat menyelamatkan Ern. Tapi sialnya, aku sendiri yang malah tertabrak.”

“Ern? Siapa dia? Orang Jepang?”

“Bukan! Dia cinta pertamaku, orang Thailand.”

“Haddeeehh, konyol sekali! Oh, jadi… kau orang Thailand ya? Pantas saja, mukanya sedikit asing untuk mataku.”

“Iya, nama asliku Kunpimook Bhuwakul, hehe…” ujarnya sambil terkekeh.

“Memangnya aku peduli?”  aku menunjukkan sifat acuhku.

Eonnie, jangan marah! Tadi kan aku tidak sengaja, namanya juga kucing, masa pakai baju?”

“Hufff… Iya, lagian tadi aku lihatnya juga samar-samar kok! Ya sudah, cepatlah kembali jadi kucing!” suruhku.

“Tidak bisa…”

“Lalu, bagaimana caramu bisa berubah jadi manusia tadi?”

“Aku tidak tahu, mungkin karena eonnie yang telah memberiku nama. Kata dewa memang begitu, aku akan kembali menjadi manusia setelah ada seseorang yang memberiku nama.”

YA! Lalu bagaimana? Tidak mungkin kan aku menampung seorang lelaki di sini?”

Eonnie, ayolah… Hanya kau yang kukenal sekarang, hanya kau yang bisa menolongku. Tolong ya? Anggap saja aku ini adikmu, ya?”

“Memang berapa usiamu?”

“16 tahun, masih kecil kan?”

“Dasar bocah! Hmmm… Ya sudahlah, kau boleh tinggal di sini. Tapi tolong berhenti memanggilku eonnie. Panggil aku noona!”

“Iya, Kyungmin noona…”

“Ya sudah, tidur sana di ruang tamu!”

“Baiklah, noona…”

– END –

Huuaaa, akhirnya setelah sekian lama bertapa di gua Hira(?) dapet juga ide untuk bikin FF ber-cast Bambamku tercintah. Ending gantung? Bahasa yang absurd? Alur nggak jelas? Oke fine, cacian macam itu akan saya terima dengan ikhlas u_u

16 thoughts on “[Fan Fiction] The Miraculous Cat

  1. Lel do you know what I feel? Ini NC lel, ini NC!!!! *gakterimo*
    Do you know? Pas adegan kucing tidur di dada bener” tak bayangin yang asli “……….” Adegan favoritku tuh u,u
    Ini anak bikin orang senyum” sendiri di kamar. Sumpah. Pas bambam telanjang opo maneh.
    Eh ada typo, pas “Haddeehhhh”. Itu bahasa Jawa lel ._.
    Diganti “Haduhhh” mungkin bisa lebih mathuk.
    Trus jujur aku jengkel sama kamu. Kamu mesti ngending pas seru”ne. Sumpah aa -_-!
    Kata-kata END iku mending gak usah ada di dunia ini -_- lanjut lel lanjut. Lek nggak bambam gawe aku :p
    Btw aku suka banget sama yang ini >.<
    Kocak + bikin pikiran menghayal kalo tidur sama bambam huaaa ㅠㅠ
    Keep writing! Gue tunggu karya lo selanjutnya!
    *pengisruh bubar*

    Suka

    • Niatku kan mau bikin semua orang yg baca ketawa, ehh…, malah trnyata mereka pda mikir mesum. Cheonsong hamnida yeorobeun-..-
      Entahlah Nis, mungkin karena ini FF comedy jdi bahasa yg aku gunain jadi ngasal,
      makasih udah komen huhuhu~~

      Suka

  2. Haii eonnie lely!
    Ya amvunn -,,,,,,- Endingnya gantung bangett atuh, lanjutin lanjutin ya? *kedip kedip*
    Trus ada bagian mesumnya itu -.-

    Suka

Comment Is Free of Charge (*^▽^*)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s