[Fan Fiction] The Same Motorcycle

the same motorcycle_1

Author: gue lah, sapeh lagi?! #eh?

Cast: Mark Tuan, and the OC (maybe you?)

Genre: fluff, school life.

Rating: Teen

Length: Ficlet (written in 887 words)

Oh god, pendekar perak dari kerajaan mana yang telah kau kirimkan untukku malam ini? Dia sangat baik, parasnya tampan, tidak kalah dengan artis-artis di TV Show.

.

.

“Baiklah, sampai di sini materi hari ini. Segera lah pulang, karena ini sudah malam, arraji?” tutup Ryu sonsaengnim dan segera meninggalkan kelas. Fuh~ akhirnya kelas tambahan di malam hari berakhir juga. Aku pun melangkahkan kaki menuju gerbang untuk menunggu Jinyoung oppa menjemputku.

“Sudah dijemput belum?” tanya salah seorang teman sekelasku.

“Belum, mungkin kakakku masih di perjalanan. Kau?” aku balik bertanya.

“Ayahku masih beli bensin dan aku disuruh menyusul ke pom. Aku pergi dulu ya?”

“Oke, sampai jumpa besok!” ucapku sambil melambai-lambaikan tangan ke arahnya.

Angin kencang menerpa wajahku, dengan tangan yang gemetaran, aku pun menggosok-gosokkan tangan untuk menghangatkan tubuh. Di cuaca sedingin ini, sudah jelas aku akan menjadi mudah lapar. Apalagi siang tadi aku belum makan. Entah mengapa, tapi hari ini kesialan bertubi-tubi menimpaku. Di pagi hari, uangku sudah dipinjam oleh Jaehwan, dia janji akan mengembalikannya setelah jam istirahat, tapi nyatanya ia malah pulang karena katanya sakit. Alhasil aku tak makan karena tak sanggup membayar makan siangku pada petugas kantin. Setelah jam istirahat, aku pun menyadari pulsaku habis. Jadinya, sekarang aku tak bisa menelepon Jinyoung oppa dan menanyainya sudah sampai mana.

Oh, ayolah… kalau terus-terusan seperti ini, aku bisa mati kelaparan!

Tiba-tiba saja kulihat motor yang melintas dan berhenti di depan sebuah rumah dekat sekolahku. Ya! Jinyoung oppa kenapa memberhentikan motornya di situ, sih?! Karena geram, aku pun segera menghampirinya dan langsung memukul lengannya.

YA! Ke mana saja kau? Aku sudah lama menuggu tahu!” omelku. Aku pun langsung menaiki jok motornya. “Oppa tak bawa jaket atau helm, huh? Ah, sungguh tidak pengertian! Adikmu ini kedinginan, tahu!” timpalku. Jinyoung oppa yang menutupi kepalanya dengan helm pun berusaha menoleh ke arahku dan mengendikkan bahunya.

“Sudah, sudah, cepat jalan! Aku sudah lapar nih,” kataku. Ia pun segera menginjak gasnya dan melaju dengan kencang.

Kecepatan tinggi laju motor Jinyoung oppa membuat rambutku berterbangan. Tapi rasanya agak aneh, tidak biasanya ia mengendara dengan sebrutal ini. Jinyoung oppa kan biasanya berkendara dengan kecepatan sedang. Entahlah, atau mungkin hanya perasaanku saja. Punggung dan tubuh Jinyoung oppa jadi lebih kecil. Padahal saat tadi pagi kulihat, gestur dan perawakannya masih seperti itu-itu saja.

Bip… Bip… Bip…

Tiba-tiba saja ponselku berdering, pertanda ada sms masuk. Segera kubuka pesan itu. Saat kutahu siapa yang mengirim itu, mataku pun terbelalak.

From: Jinyoung Oppa

Heh, bocah! Kau di mana? Jalan ya sama pacarmu? Aku gondok tahu menunggumu dari tadi!

 

Jika sms ini dari Jinyoung oppa, sedangkan sedari tadi pria yang kusangka sebagai kakakku ini terus terfokus pada jalanan dan sama sekali tidak bermain dengan ponsel, maka… SIAPA LELAKI INI?!

Aku pun sedikit membuka bagian kerah jaket yang pria itu kenakan, terlihat jelas rambutnya yang kemerah-merahan. Kemudian kutengok spion, seseorang berhidung mancung dan bibir yang agak tebal tengah terfokus pada jalanan. JADI… DIA BUKAN JINYOUNG OPPA?!

“Kau siapa, GYAAAA~” teriakku histeris dan membuat ia memberhentikan motornya kemudian menepi ke jalan. Aku pun langsung turun dari jok motornya.

“Maafkan aku, maaf… Aku salah orang, maaf…” ucapku sambil membungkuk-bungkukkan badan saking malunya. Ia pun melepas helmnya dan kemudian menatapku.

Never mind.” balasnya tanpa sedikit pun senyum terulas di bibir. Tapi sumpah, ekspresi wajahnya benar-benar cool!

“Kukira tadi kau adalah kakakku. Habis… motornya sama,” jelasku dengan wajah merunduk ke bawah. “Memangnya rumahmu di mana?” ucap pria itu menimpali penjelasanku. “Rumahku di sekitar perempatan Lawson.” jawabku.

“Oh… Ya sudah, naik saja. Biar kau kuantar sampai rumah.”

“Tidak, tidak perlu. Aku akan pulang sendiri.”

“Aihh~ daerah ini jauh dari halte. Sudahlah, daripada saat pulang terjadi hal yang tidak-tidak padamu?” katanya.

“Hmmm, terima kasih. Tapi sebelum mengantarku pulang, boleh aku pinjam ponsel? Pulsaku habis, dan aku harus menghubungi kakakku agar tak menungguku di sekolah.”

“Oke.” pria itu pun mengeluarkan ponselnya dari saku jaket dan memberikannya padaku.

To: xxxxxxxxxxx

Oppa, aku pulang bersama teman. Maaf ya sudah membuatmu menunggu. Aku akan memberikan es krim di kulkas sebagai permohonan maafku.

Setelah mengirim pesan singkat itu, aku pun langsung mengembalikan ponsel pada lelaki tersebut. “Terima kasih…” ucapku.

“Apa kau kedinginan?” tanya pria itu setelah mengantungi kembali ponselnya.

“Hmmm, iya…” jawabku ragu. Tiba-tiba ia melepas jaketnya dan menyisakan kaos oblong yang melekat di badannya.

“Pakai ini!” suruhnya.  Aku membelalakkan mata. “Jeongmal?

Sure,

Oh god, pendekar perak dari kerajaan mana yang telah kau kirimkan untukku malam ini? Dia sangat baik, parasnya tampan, tidak kalah dengan artis-artis di TV Show.

Ia pun benar-benar akan mengantarku sampai rumah. Saat sampai di depan Lawson, pria itu bertanya, “Setelah ini belok ke mana?”

“Belok kanan, rumah berpagar hitam nomor 14.” jawabku.

Kami pun akhirnya sampai. Ia mengerem motornya dan aku segera turun dari jok.

“Oh, di sini rumahmu?” celetuknya.

“Iya. Terima kasih ya–” aku memotong ucapanku. Niatku sih ingin berterima kasih dengan menyebut namanya. Tapi aku lupa kalau aku belum tahu nama pria baik hati ini.

“Mark.” sahutnya.

“Ya, terima kasih, Mark-ssi…”

“Lain kali jangan ceroboh lagi ya? Konyol sekali tahu!”

“Ehehe… Ah, aku jadi malu!” ucapku sambil memegangi leher.

“Baiklah, aku pulang dulu ya?”

Ne, terima kasih banyak, Mark-ssi…” kataku lagi-lagi. Ia pun menunduk singkat dan kembali memakai helmnya. Setelah itu, ia menginjak gas dan kembali melaju dengan kecepatan tinggi.

Saat ia sudah agak jauh, aku langsung tersadar, hey! Ia lupa mengambil kembali jaketnya yang masih kukenakan. Bodoh! Kenapa aku bisa benar-benar tak memikirkannya?!

Tapi, tunggu! Mungkin keteledoranku ini bisa jadi alasan agar aku dapat menghubunginya. Jinyoung oppa pasti punya nomor ponselnya di daftar kotak masuk. Oh yeah!

You are impressive, Mark-ssi!

– END –

Huuuaaa… FF GOT7 pertamaku! Ya, kalau GOT7 sih pertama ya, kalau tentang JJ Project entah ini yang ke berapa. Inget tuh, si JR nyempil walopun sedikit.😛

Pertama kali mikir setelah FF ini jadi ialah… IGE MOYA?! Udah lama soalnya gak bikin FF fluff kaya begini. Jadi entah kesan ‘manis’nya masih melekat atau nggak.

Udah lama pengen bikin FF dengan alur ini, cuman bingung aja siapa castnya. Sedikit curhat ya… (lah, jadi dari tadi yang lo sampein apa’an kalo bukan curhat, Lel?!) Aku kepikiran ide ini tuh pas pulang dari takbiran Idul Adha pas nunggu bapak njemput. Tapi ya yang jelas yang jemput beneran bapak dan bukan cogan-_-“ Ahaha, entahlah kenapa bisa sampe mikir ke sini.

Intinya, ide itu bisa datang kapan saja dalam situasi apa saja.

Bwakaka, sudahlah… kurang lebihnya mohon maaf karena itu datangnya dari Allah SWT. (Lo kira ceramah buat Maulid Nabi?!)

10 thoughts on “[Fan Fiction] The Same Motorcycle

Comment Is Free of Charge (*^▽^*)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s