Udah Beruntung. Sumpah, Beruntung!

Halo, nawak-nawak… Rasanya sudah lama sekali ya nggak curhat di blog? Huehehe, nggak ada alasan khusus, sih… Hanya memang lagi males aja. Padahal, untuk masalah pengalaman, hampir setiap hari selalu dapet yang berkesan.

Sempet kapok juga curhat-curhat di blog, karena postingan yang terlupakan judulnya, (beneran lupa karena emang nggak ada niatan untuk mengingat) aku jadi sempet bertengkar sama temen seorganisasi (BDI). Nggak mau sebut namanya, tapi panggil saja dia dengan sebutan NisaKyu. *itu namanya, woyy!*

Salahku sih, kenapa pake nyindir-nyindir dia. Untunglah kami sudah berdamai.

#jangan sok polos kamu, Lel!!

Tapi emang dasarnya sukaaaaaaa banget berbagi pengalaman *padahal juga nggak ada yang butuh* Kali ini mau curhat lagi, dan tetep akan membahas tentang dunia fangirl yang aku jalanin.

Sek, bentar… Kenapa ini, lagi-lagi akunya sok imuuut, pake bahasa ‘aku-kamu’. Padahal biasanya ‘lo-gue’ biar greget. Pengen terlihat lebih sopan, tapi emang nggak asik sumpah. Oke, pakai yang biasa, ‘lo-gue’ aja, oke? Siip!

Gue dibesarkan dilingkungan yang nggak elit-elit banget. Ya… perkampungan gitu deh, tapi jangan samakan perkampungan gue sama sinetron Diam-Diam Suka di SCTV! Kampung gue nggak sekumuh dan senorak itu juga keles… *ketahuan banget kalo suka nonton*

(PS: nggak suka sih, cuman kadang buat nunggu Cinta yang Sama main harus liat tuh sinetron alay-_-)

Belakangan ini, arti kampung emang mengalami peyorasi* dan artinya jadi lingkungan tempat tinggal orang-orang yang tidak berada. Tapi kalo menurut gue, kampung itu lingkungan tempat tinggal yang nggak di komplek perumahan. Udah, itu aja. Catet tuh, CATET! #contoh gadis yang tak pernah ingin dipandang rendah-_-

Pertama-tama, gue mau bahas tentang ebes (karena nyebut ‘bokap’ itu sudah mainstream). Gue selalu percaya kalau hal yang paling penting untuk seorang ayah ialah anak, bukan istri. Dan ya, memang… Apa mungkin perasaan gue aja? Ya bodo, ah!><

Bapak begitu gue selalu memanggil ayah gueadalah penggila musik Al-Banjari dan Rock, nggak matching memang, tapi… ah, sudahlah! Beliau juga orang yang paling sering protes ketika gue nyetel lagu Jepang, “Suara dan musik kaya anak kecil, apa bagusnya?!” begitu lah beliau berpendapat.

Tapi ya nggak sampai mencela sedemikian rupa, kalau gitu doang ya masih maklum lah… Namanya juga produk jaman dulu #eh. Tapi… bapak ini jjang abis lah! Beliau tuh nggak pernah pelit kalo missal gue minta dibeliin DVD drama korea. Tapi ya dengan gue yang harus berperilaku baik, rajin ibadah, dan pinter terlebih dahulu, lah. Nggak susah, kok!

Hampir semua DVD drama dan film korea yang gue punya itu bapak yang beliin. Dan yang nggak pernah gue lupa, bapak adalah orang yang selalu dengan ikhlas nganterin gue buat pergi ke event-event Jepang, dan yang paling mengharukan… bapak lah yang nganterin gue ke kota sebelah buat nonton konser JKT48. Oh my god, oh my way, oh my no!!! Beliau mulia sekali, bukan?

Sekarang beralih cerita tentang… emes gue!! Tumpuhan hidup yang sangat gue sayangi dan sangat sering gue bantah nasehat-nasehatnya. I’m so sorry, mom… *nangis bombay*

Karena bapak adalah tulang punggung keluarga, dan sudah jelas bapak yang menghasilkan uang, ibu bertugas sebagai pengelola keuangan. Jangan harap deh dikasih duit kalau cuman buat beli merchandise yang gak penting (menurut ibu). Ya, beliau bener, kok! Tapi pas jaman2 newbie, gue hobi banget beli tabloid gaul dan cuman ngambil posternya, ibu sering banget beliin, hehehe… Tapi pada akhirnya gue sadar dengan sendirinya kalau majang poster banyak2 di kamar itu nggak baik. Jadi terkesan rumah bocor. Rumah bocor itu rumahnya orang yang nggak kaya.

Jadi, kesimpulannya… Kalo rumah lo banyak poster, lo bukan orang kaya!

#HukumLely

#IniSesat

#JanganBunuhGue

Hahaha, bercanda ya, kawan… Aku kan humoris :3

Intinya, ibu biasa aja dengan anaknya yang hobi korea. Walaupun terkadang beliau suka banget nyanyi lagu korea pas lagi ngerjain kerjaan rumah. Refleks aja gitu, lah!

 

Ya sih, mereka emang bukan tipe orang tua yang sangat mendukung anaknya ngefans sampe-sampe ngerelain gue nonton konser idolnya di Jakarta. Karena gue juga nggak pernah minta untuk nonton. Ya lu gilak! ==”

Mereka juga bukan tipe orang tua yang sangat melarang anaknya untuk mengagumi sesuatu, asal itu tidak melenceng dari kaidah agama yang gue anut, Islam.

Ada kalanya mereka marah dengan sikap gue, ya karena memang gue yang salah.

Gue beruntung punya mereka, orang tua yang bisa mengerti apa yang baik buat gue, apa yang bisa bikin gue seneng dan terkadang jadi lebih dewasa dengan kesedihan.

 

Memang, mereka nggak bisa ngasih gue harta yang bergelimpangan hingga gue bisa nonton konser apapun yang gue inginkan. Tapi dengan itu, gue bisa lebih mengerti betapa indahnya menabung, mengorbankan sesuatu untuk menggapai apa yang gue inginkan, dan juga mengabulkan harapan dengan jerih payah dan usaha keras yang udah gue jalanin.

 

Gue bersyukur, Tuhan sudah meletakkan gue di posisi yang sangat tepat.

Don’t look for something that is not there in front of you.

But, share what you have with those around you.

One thought on “Udah Beruntung. Sumpah, Beruntung!

Comment Is Free of Charge (*^▽^*)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s