Balas Dendam?

Untitled-1

Main cast: Son Na Eun and Kim Jong In

Genre: romance, school life, friendship

Rating: Teen

Leght: Oneshot

.

.

“Hyejung, kita putus saja  ya?!” kata seorang lelaki dengan sangat santai tanpa menjaga perasaan lawan bicaranya itu. “Apa, Jonginie, kenapa kauingin putus denganku?” tanya gadis tersebut dengan suara serak menahan tangis.

“Jangan panggil aku Jonginie lagi, aku sudah bukan pacarmu. Kenapa aku ingin putus? Tentu saja karena aku tidak mencintaimu lagi!” jawab lelaki itu dengan wajah tanpa dosa sedikit pun.

PLAK!

Tangan Hyejung pun mendarat di pipi sebelah kiri Jongin dan meninggalkan bekas merah.

Ia lalu pergi dan langsung berlari menuju tempat yang sangat sepi. Hanya terdapat pohon lebat dan satu kursi panjang berwarna putih.

“HUUUAAAA!!!! KAI, KENAPA KAUJAHAT SEKALI PADAKU!!!” teriaknya sambil menangis, dia bebas berteriak sesuka hatinya di sini karena hanya dirinya yang ada di tempat itu. Hyejung segera mengangkat ponselnya dan menghubungi teman baiknya.

“Naeun,cepat ke tempat biasanya, ada yang ingin kuceritakan,” katanya dan langsung menutup ponselnya.

Tak lama setelah Hyejung menelpon Naeun, ia pun langsung datang ke tempat sepi tersebut. Ia terkejut melihat wajah temannya kini telah banjir oleh air mata. Naeun pun langsung berlari menghampiri Hyejung.

“Hyejung, apa yang terjadi?” tanya Naeun penasaran.

“Jongin?” timpal Naeun tanpa menunggu jawaban dari Hyejung. Hyejung pun mengangguk meladeni pertanyaan Naeun.

“Tuh kan, sudah kubilang, playboy itu tidak baik untukmu. Kenapa kaumasih mau menghabiskan waktumu untuk melakukan hal yang tidak penting bersamanya?” celoteh Naeun.

“Karena dia terlihat sangat baik saat mendekatiku.” balas Hyejung sambil mengusap air matanya. “Entahlah kau itu gadis keberapa yang sudah jadi korbannya.”

“Sepertinya aku harus membalas sakit hatimu!” kata Naeun.

“Bagaimana maksudmu?” tanya Hyejung bingung.

“Aku akan mencoba mendekatinya, kemudian membuatnya jatuh cinta padaku, lalu aku akan meninggalkannya supaya dia tahu bagaimana rasanya disakiti.” jelas Naeun. “Tidak perlu!” kata Hyejung.

“Aku bukan hanya membelamu, tapi temanku sudah banyak yang disakiti olehnya, dia harus tahu bagaimana rasanya disakiti!” kata Naeun tetap teguh pada keputusan awalnya.

***

  ~ Na Eun POV ~

Son Na Eun, apa kautidak sadar dengan apa yang barusan kau katakan? Kau mencoba balas dendam pada orang yang tidak pernah berbuat salah padamu sekali pun? Tapi, dia telah banyak menyakiti teman baikmu, perbuatanmu ini bertujuan baik supaya tidak banyak lagi gadis yang disakiti oleh Kim Jong In sialan itu!

Aku bosan di kelas terus, lebih baik aku pergi ke lapangan basket.

Sesampainya di sana, kulihat keadaan sangat ramai, tumben sekali? Aku pun celingukan mencari apa yang membuat para gadis itu heboh.

Ah, pantas saja dari tadi semuanya berteriak-teriak histeris, rupanya Jongin sedang bertanding. Cih, dasar gadis-gadis bodoh! Apa kalian tidak mengerti kalau dia itu playboy, suka seenaknya sama perempuan! Masa hanya karena bibir sensualnya kalian bisa buta?

Karena di sini satu-satunya tempat yang paling ramai, lebih baik aku di sini saja melihat pertandingan ini, walaupun sebenarnya aku tidak tahu apa-apa.

Saat sedang serius menonton…

BRUKK!

Tiba-tiba saja aku terjatuh karena terkena bola basket yang entah dilempar oleh siapa.

~ Jong In POV ~

Ah, sial bolanya kulempar terlalu keras sampai mengenai seorang gadis. Aku dan teman-teman pun menghampirinya.

“Kai, dia pingsan.” teriak Sehun.

“Apa, pingsan katamu? Tidak mungkin, lemparan bolaku tidak terlalu keras, mungkin dia hanya pura-pura.” balasku menanggapi ujaran Sehun.

“Kaubodoh, hah? Bagaimana caranya dia bisa pura-pura pingsan, cepat angkat dia ke UKS, sebelum terjadi apa-apa!” bentak Chanyeol padaku.

Menyusahkan sekali gadis ini, kenapa fisiknya sangat lemah? Terkena lemparan bola yang tak seberapa kerasnya saja sudah ambruk. Sekarang aku yang repot harus menggendongnya ke UKS. Chanyeol hyung juga, tak biasanya ia membentakku hanya karena masalah sepele seperti ini!

Saat sudah sampai di UKS aku segera membaringkan tubuhnya di kasur yang ada di UKS itu. Chanyeol hyung juga menyuruhku untuk menungguinya sampai ia sadar. Menyebalkan, bukan? Untung saja aku membawa mp3 player-ku.

Aku penasaran dengan identitas gadis ini, kulihat di nametag-nya bertulikaskan Son Na Eun. O, jadi itu namanya… Cantik juga gadis ini, mungkin dia akan cocok jika menjadi pacarku. Hahaha~~

Tiba-tiba ia tersadar dari pingsan panjangnya itu. Ini lah saat yang aku tunggu, agar bisa segera pergi. Bosan tahu menungguinya sedari tadi.

“Kim Jong In, sedang apa kau di sini?” tanyanya sambil sedikit menjauh.

“Kau mengenalku?” tanyaku heran. “Tidak, aku hanya asal tahu namamu.” jawabnya sinis. “O, begitu…” balasku singkat.

“Jawab pertanyaanku, kenapa kau di sini?” tanyanya lagi.

“Chanyeol hyung yang menyuruhku membawamu ke sini, karena tadi aku yang melemparkan bola dan tidak sengaja mengenai kepalamu.” jelasku.

“O, jadi kaulelaki ceroboh itu?” sindirnya.

“Kau menghinaku ceroboh? Bukannya kauyang ceroboh karena berdiri di tempat yang salah?” balasku atas ejekannya.

“Kenapa menyalahkanku? Kausaja tidak becus melempar bola!”

“Terserah ! Aku tidak punya banyak waktu meladeni gadis tidak jelas sepertimu, aku pergi!” balasku langsung menghentikan pembicaraan dan beranjak pergi dari kursi tempat aku duduk tadi.

“Kai-ssi!” panggilnya. “Apa lagi?” tanyaku lalu berhenti sejenak “Terima kasih sudah menolongku…” ucapnya lembut. “Oke.” jawabku dengan sedikit senyuman.

 

~ Na Eun POV ~

Dia yang membawaku ke sini? Bagaimana caranya? Jangan-jangan dia membawaku ke mari dengan cara… memanggul?!

Mampus! Itu tidak mungkin, apa yang tadi ia lakukan selagi menungguiku, jangan sampai dia… Ah, Son Na Eun! Singkirkan pikiran anehmu itu! Positive thingking, okay?

Sepertinya kondisiku sudah pulih walaupun masih sedikit pusing. Lebih baik aku keluar dari tempat membosankan ini. Aku memutuskan untuk menuju kantin sambil melamunkan apa yang terjadi barusan. Bagaimana bisa kebetulan aku dicelakai olehnya, padahal baru kemarin aku berniat membalaskan sakit hati teman-temanku. Sepertinya tuhan memang sudah mengatur semua ini.

***

“Naeun, apa kau serius mau membalas perbuatan Jongin kepada mantan-mantannya?”

“Kau tahu darimana?”

“Aku tahu dari Hyejung… Aku mohon bantuanmu!”

“Eh, bantuanku? Apakah kau ini-”

“Ya, aku mantan pacarnya. Dia meninggalkanku tanpa alasan yang jelas kemudian berpacaran dengan gadis lain.”

“Astaga… kenapa Kai bisa sekejam itu? Kautenang saja! Aku akan membantumu.”

“Terima kasih, Naeun… Aku mengandalkanmu.”

***

Jam istirahat, seperti kebiasaanku, aku selalu ke kantin untuk memesan suatu makanan. Eh.. tidak, ini lebih tepat disebut camilan, aku duduk di pojok kantin sambil melahap camilan ringan yang kubawa di tanganku.

Saat sedang asyik menguyah, tiba-tiba saja seseorang menyambar camilan yang aku bawa, mengambilnya dan melahapnya.

“Apa yang kaulakukan?” bentakku karena tidak terima oleh perlakuannya.

“Aku hanya minta sedikit, tapi reaksimu sudah separah itu. Bagaimana jika camilan ini kuhabiskan semuanya?” sindirnya.

“Tentu saja aku marah, kau mengambil camilanku seenaknya tanpa permisi, kalau kau minta baik-baik pasti akan kuberi,” balasku dengan suara keras.

“Oke, maaf. Aku hanya bercanda. Ini, kukembalikan camilanmu!” katanya sambil menyodorkan camilanku yang tadi ia rampas. “Setelah memakannya apa kautidak berterima kasih?” tanyaku.

“Hm, terima kasih, Son Naeun!” ucapnya sedikit terpaksa.

“Naeun, besok kaumau ikut aku tidak?” tanya Jongin.

“Ke mana?” aku balik bertanya. “Jogging bersamaku.” jawabnya santai.

“Apa? Jogging bersamamu?” sentakku kaget. “Kenapa, ada yang salah?” tanya Jongin lagi. “Aku tidak suka olah raga.” jawabku blak-blakan.

“Yang benar? Lalu bagaimana bisa kaudapat tubuh setinggi ini?” tanya Jongin pura-pura kaget.

“Anugrah dari tuhan.” jawabku asal.

“Ya sudah kalau tidak mau, aku bisa ajak yang lainnya.” kata Jongin dengan dingginnya. Dan ia pun langsung bergegas pergi.

Tapi, Naeun-ah, bukannya ini awal yang bagus untuk balas dendam? Lebih baik aku menerima tawarannya!

“Jongin!” panggilku. “Berubah pikiran?” tanyanya dan langsung berbalik. “Ya, kapan jogging-nya?” tanyaku padanya.  “Minggu besok jam 07.00 tepat!” jawab Jongin. “Lalu?” tanyaku. “Tenang, aku akan menjemput tepat di rumahmu!” jawabnya. Bagaimana dia bisa tahu apa yang aku pikirkan, Jongin benar-benar ajaib!

***

Ya, saat yang aku tunggu, hari ini aku akan jogging bersama Jongin. Entah kenapa firasatku campur aduk, antara senang, risau, dan khawatir. Dandananku hari ini sederhana saja, rambut dikepang kuda dan handuk yang menggantung di leher, siapa tahu saja keringatku banyak bercucuran nantinya.

Tok! Tok! Tok!

Terdengar seseorang mengetuk pintu, aku pun langsung berlari membukakanny. Setelah dibuka, ternyata itu Jongin.

“Jadi, ‘kan?” tanyanya. “Kautidak lihat aku sudah berpakaian seperti ini, tentu saja jadi.” jawabku. “Let’s go!” ajaknya.

Kami berlarian kecil mengitari komplek perumahanku. “Bagaimana kaubisa tahu rumahku, Jongin-ssi?” tanyaku karena masih penasaran.

“Sudahlah, kau tidak perlu tahu!” jawabnya dingin.

“Hemat kata-kata sekali sih, sampai tidak mau menjawab pertanyaanku!”

“Jangan marah Naeun-ah, ayo kita lanjutkan larinya!” ajak Jongin. Aku dan Jongin pun melanjutkan jogging tanpa menggubris kembali pertanyaanku barusan.

Setelah sekitar 1 jam berlari aku pun merasakan lelah.

“Kai, berhenti sebentar, istirahat dulu ya?” kataku sambil berhenti berlari. “Kau lelah?” tanya Jongin.

“Tentu saja, kita sudah mengelilingi komplek ini 3 kali putaran tanpa berhenti!” pekikku sambil menghela nafas. “Oke, mari kita duduk dulu,” katanya sambil menunjuk bangku berwarna putih di bawah sebuah pohon.

Kami duduk bersebelahan, mau bagaimana lagi, bangku di sini hanya satu. Tiba-tiba Jongin memandangiku. Apa yang dia lakukan? Aku merasa canggung dengan apa yang dia lakukan sekarang.

“Kau berkeringat.” katanya. Lalu ia mengusap keringat yang ada di keningku dengan handuk yang ia bawa. Ada apa dengannya, kenapa tiba-tiba perhatian seperti ini? Jangan-jangan….

“Kai, apa yang kaulakukan?” tanyaku sambil menepis tangannya dari dahiku.

“Hanya mengusapkan keringatmu, apa itu perbuatan kurang ajar?” balasnya dengan wajah polos. “Tidak juga sih, tapi perbuatanmu terlalu berlebihan. Aku sudah bawa handuk. Percuma saja jika tadi aku membawa handuk dari rumah kalau kausudah mengusap keringatku!” omelku dengan wajah sinis.

“Hanya karena itu? Baiklah, kau ambil saja handukku ini, lalu kau beri handukmu padaku supaya kau tidak menyesal telah membawa handuk.” candanya sambil menyodorkan handuknya.

“Tidak perlu selebay itu!”

“Kausendiri yang berlebihan, masa hanya karena aku mengelap keringatmu kau marah-marah?” balas Jongin.

Okay, forget it now!” kataku yang tidak ingin percakapan menjadi panjang lebar dan tiada akhir.

“Jongin-ah, ayo kita pulang saja, aku sudah lelah,” bujukku.

“Lelah? Padahal ini belum 2 jam, loh!” balasnya menanggapi keluhku.

“Ayolah, badanmu itu sudah sixpack, mau se-sixpack apa lagi dengan olah raga berlama-lama?” tanyaku mencari alasan yang aneh.

“Hahaha, jadi menurutmu aku sixpack?” balasnya. “Semua tahu itu!” jawabku dengan datar. “Baiklah, ayo pulang!”

Aku berjalan santai bersamanya sembari menuju rumah. “Naeun-ah!” panggilnya lirih. Aku menoleh ke arahnya. Kulihat ia yang menatapku sambil memberikan killer smile. “Ww.. wae??” tanyaku gagap karena tatapan anehnya itu.

“Tidak jadi!” balasnya menghentikan pandangan aneh tersebut. Oh, aku tahu apa maksudnya! Jadi tatapan itu yang membuat banyak gadis memuja dan bertekuk lutut padanya, kemudian banyak korban berjatuhan. Rupanya dia mencoba melakukan itu padaku, tapi kurasa tidak akan bisa, hahaha~

“Apa yang kaurasakan?” tanya Jongin.

“Rasa lapar!” jawabku asal.

“Bukan itu maksudku.” gerutunya.

“Lalu,apa?”

“Sepertinya kautidak paham dengan pertanyaanku, lupakan saja lah!”

“Apa, tadi kau bilang lapar? Bagaimana kalau kita makan?” ajaknya.

“Di mana?” tanyaku.

“Ke kedai kecil yang tadi kita lewati saat berlari.”

“Tidak usah, ibuku sudah memasak, untuk apa aku membuang uang untuk makan di luar?” tolakku.

“Jadi, kau menolaknya?” tanyanya sambil memasang raut muka sedih.

“Kenapa kaumendadak sedih seperti itu, apa kau makan di rumahku saja?” tawarku.

“Apa boleh?” tanya Jongin tiba-tiba menyingkirkan wajah sedihnya itu. “Aku bukan orang yang pelitnya keterlaluan, tentu saja boleh!”

Annyong..” salamku saat memasuki rumah, walaupun rumah ini kosong. Ibuku sedang pergi ke rumah Bibi Ahn dan ayahku sibuk mengurus bisnis kecilnya ke tetangga sebelah.

Aku mempersilahkan Jongin untuk duduk di kursi meja makan.

“Benar aku boleh mulai makan sekarang?” tanya Jongin tidak yakin. “Jongin-ah, tentu saja boleh, jangan sungkan!” jawabku dengan sedikit bercanda.

“Kau tidak makan juga?” tanya Jongin. “Nanti saja.”

“Ayolah kau makan juga, tidak enak jika aku makan sendirian, di rumah orang pula!” ujar Jongin yang memaksaku. “Baiklah, aku makan juga.” Aku pun meladeni permintaannyanya.

“Selamat makan…” ucap kami berdua serempak dan menikmati makanan di piring masing-masing.

“Aaahh.. kenyang!” kata Jongin setelah melahap makanan yang ada di piringnya.

“Enak?” tanyaku. “Enak lah, kan gratis, hehe..” jawabnya sambil tertawa kecil.

“Naeun-ah, terima kasih atas makanannya, aku pamit pulang ya!” katanya sambil beranjak dari kursi meja makan. “Dasar SMP!” cibirku.

“SMP? Maksudnya?”

“Sudah Makan Pulang.”

“Hahaha, habis… mau bagaimana lagi,  aku tahu kautak seberapa suka padaku. Kalau aku terus-terusan di sini, aku takut… Ya, begitulah, kaubisa teruskan sendiri.” ujarnya dan menurutku itu sangat tidak jelas.

“Iya, iya… Aku cuma bercanda, kok! Pulanglah, biar kuantar.”

Saat ia sudah agak jauh dari rumah, aku pun menutup pagar rumah dan masuk kembali ke rumah. Aku segera mandi, walaupun tadi pagi aku sudah mandi tapi keringatku sangat bercucuran karena jogging dengan Jongin tadi, baru kali ini aku merasa seberkeringat ini!

.

.

Kenapa aneh begini, kenapa tadi dia memberi tatapan yang sangat aneh padaku? Apa arti tatapan itu, saat aku tanya apa maksudnya dia malah bilang tidak jadi. Huh, Jonginie, kau menyebalkan!

Hey,tunggu! Apa barusan? Aku memanggilnya Jonginie? Ah, ralat… maksudku Jongin!

***

Aku memasuki gerbang sekolah, tiba-tiba saja Jongin langsung menghadangku.

“Naeun-ah!” sapanya dengan aegyo. “What the hell?” tanyaku sambil melipat tanganku. “Tidak apa-apa, hanya ingin mengajakmu bersama-sama masuk kelas.”

“Kita beda kelas, Kai!” kataku. “Memang kalau jalan bersama harus satu kelas, gitu?” tanyanya. “Kenapa kau percaya diri sekali, kau pun belum bertanya aku mau atau tidak.”

“Aku tidak perlu susah-susah bertanya karena kaupasti mau. Ya, ‘kan?” jawabnya dan langsung menggandeng tanganku. “Kai ,kau apa-apaan sih? Lepaskan aku! Kaumau aku dikroyok penggemar-penggemarmu itu, huh?” teriakku sambil berusaha melepaskan gandengannya tapi tidak bisa, ia terlalu kuat.

Akhirnya kami sampai di kelasku dan aku langsung melepaskan gandengannya.

“Cih, aku heran dimana-mana cewek yang agresif, kenapa dunia berputar menjadi cowok yang agresif?” sindirku.

“Seharusnya kau bersyukur, cowok tampan sepertiku bisa memperlakukanmu dengan agresif!” balas jongin.

“Kautampan? Kurasa masih lebih tampan Chanyeol sunbaenim!” kataku.

“Jadi kau mengidolakan lelaki galak seperti dia?” tanya Jongin sedikit mencibir.

“Yang penting dia sopan dan pintar, tinggi besar pula!” sahutku.

“Tinggi besar? Aku kan juga tinggi besar, aku dan Chanyeol hyung hanya berjarak 3 cm!” desah Jongin dengan nada kesal.

“Terus saja memuji-muji dirimu sendiri, aku tidak ada waktu untuk melakukan hal bodoh seperti ini, lebih baik sekarang kausegera ke kelasmu!” paksaku kemudian mendorongnya agar cepat pergi dan aku pun bergegas masuk ke kelasku.

.

.

Materi yang dibawakan  Taekwoon sonsaengnim sangat membosankan. Matematika, aku sangat membenci pelajaran ini. Entah kenapa, padahal pelajaran ini tidak pernah membuatku jengkel layaknya Kim Jong In itu!

Jam istirahat berbunyi, aku merapikan buku-buku yang berserakan di meja. Kurasa hari ini aku cukup duduk saja tanpa keluar kelas satu kali pun kecuali saat pulang. Aku sangat malas bila nanti berpapasan dengan Jongin. Tujuan awalku mendekatinya kan untuk membuatnya jatuh cinta padaku dan balas dendam atas perlakuaannya pada teman-temanku. Tapi kenapa sangat sulit untuk melakukan hal itu?

eon machi chagaun machine

neoneun ma, ma, ma, ma, ma, machine
neoneun ma, ma, ma, ma, ma, machine
kalgachi areumdaun yeosin
neoneun ma, ma, ma, ma, ma, machine
neoneun ma, ma, ma, ma, ma, machine

Terdengar ponselku yang berdering, kulihat siapa yang menelfonku, nomornya tidak dikenal. Angkat tidak ya? Aku takut kalau itu hanya orang iseng. Tapi… tak apalah, kuangkat saja!

Yoboseyo?” sapaku mengawali pembicaraan.

“Naeun, kau di mana?” tanya seseorang di telfon ini.

“Ngapain tanya-tanya? Ini siapa?” heranku.

“Ini aku, Jongin!” jawabnya.

DEG!

Jongin yang menelfonku? Darimana dia dapatkan nomer ponselku?

“Naeun, kenapa diam?” tanya Jongin menyadarkanku dari lamunan.

“Aku di kelas.”

“Baiklah, aku segera ke sana.” kata Jongin dan langsung menutup pembicaraan.

Mwo? Dia mau kemari? Mampus! Bukannya tujuan awalku di kelas agar tidak bertemu dia, tapi aku malah memberi tahu di mana keberadaanku sekarang, baka!

“Naeun! Aku datang…” ucap Jongin mengagetkanku dari balik pintu dengan aegyo yang sangat childish tanpa malu.

“Ya, ada perlu apa?” tanyaku lesu. “Nggak ada apa-apa, kok! Aku hanya–” katanya terpotong. “Mau apa?” tanyaku penasaran.

“Ah, tidak jadi!” balasnya. “Jongin, kenapa setiap kau mengajak bicara serius, selalu saja memotong pembicaraan itu dan bilang tidak jadi, dasar!!” gerutuku kesal.

“Memangnya kenapa sih kalau aku potong?” tanyanya dengan wajah polos. “Tentu saja aku jadi penasaran!” jawabku. “Oh, kau penasaran? Nanti akan aku beri tahu.” katanya.

“Kapan?” tanyaku  “Nanti sore, datanglah ke taman dekat komplekmu itu.” jawab Jongin dan langsung pergi.

***

Sedari tadi aku masih bertanya-tanya, dari mana ia mendapatkan nomor ponselku, dan tetap, aku juga masih bingung, dari mana dia tahu rumahku. Ini benar-benar aneh, apa dia punya kekuatan telepathy sehingga tahu tentangku tanpa menanyakan padaku langsung?

Aku merasa ini bukan gayaku, kenapa tiba-tiba aku ingin balas dendam kepada orang yang tidak pernah melakukan kesalahan padaku, kenapa aku sangat peduli dengan urusan teman-temanku. Aku tahu sebagai teman yang baik aku juga merasakan kesakitan hati mereka, tapi bukan begini pula caranya! Baiklah, keputusanku sudah bulat, akan kuurungkan niat burukku untuk balas dendam dan menyakiti hati Jongin!

Lagipula, untuk saat ini Jongin selalu baik padaku. Tapi entahlah jika suatu saat nanti ia akan mendepakku seperti apa yang ia lalukan pada kawan-kawanku. Dan, heyyy! Apa yang baru saja kupikirkan? Jongin yang akan mendepakku? Sama saja dengan aku yang berkhayal untuk menjadi pacarnya. Bodoh! Kautak boleh berpikiran seperti itu lagi, Son Na Eun!

Ternyata sudah jam 4, aku kan ada janji dengan Jongin, hampir saja aku lupa! Aku pun langsung bergegas menuju taman dekat komplek rumahku, dengan berjalan kaki tentunya!

Saat sudah sampai, kulihat seorang lelaki berkemeja garis-garis sedang duduk di sebuah bangku taman, kurasa itu Kai. Aku pun menghampirinya.

“Kai!” panggilku, ia sontak menoleh. “Naeun, kau sudah datang rupanya, duduklah!” katanya dengan tersenyum tipis. “Oke.” jawabku sambil mengangguk kecil dan langsung duduk.

“Jadi begini, sebenarnya–” kata Jongin dengan suara lirih. “Hemm.. sebentar, sebelumnya aku ingin mengatakan sesuatu padamu.” ujarku. “Apa?” tanya Jongin terlihat penasaran. “Tapi kuharap kautidak marah.”

“Tenang saja, aku cowok yang sabar, kok!” balas Jongin yang lagi-lagi memuji dirinya sendiri. Kalau memang sudah kebiasaan, susah sekali ya dihilangkan?!

“Jadi begini, sebenarnya… Tujuan awalku mendekatimu adalah untuk membalaskan dendam teman-temanku yang kau sakiti hatinya. Tapi aku sadar itu perbuatan tidak baik. Maka dari itu, aku menghentikannya.” jelasku sambil menatap Jongin. Tapi Jongin hanya menatapku sambil terdiam. “Jongin, kau marah?” tanyaku ragu.

“Hahahahahaha, Naeun-ah,kau sangat…sangat, sangat, dan sangat lucu!” katanya sambil tertawa terpingkal-pingkal.

“Maksudmu?” tanyaku. “Tentu saja, kausangat aneh, balas dendam? Hahahaha~” jawabnya dan lagi-lagi ia tertawa terpingkal-pingkal.

“Kai, kenapa sih?” tegurku mulai jengkel. “Haha, kau mengira aku ini playboy apa? Sampai kaumau balas dendam?!”

“Tentu saja, kau kan cowok terkenal di sekolah, tidak lazim jika kaubukan playboy!” jawabku sedikit mencibir.

“Maaf ya, aku ini cowok baik-baik dan polos, mereka saja yang terlalu agresif dan mengejar-ngejar cintaku. Bahkan ada salah satu dari mereka yang mengancam akan bunuh diri kalau aku tidak mau jadi pacarnya. Aku tidak suka cewek seperti itu! Mangkannya aku putuskan mereka.” jelas Jongin.

“Lalu cewek seperti apa yang kausuka?” tanyaku.

“Kamu!” jawab Jongin yang mebuatku sangat kaget.

“Aku?” tanyaku sedikit gagap. Dan Jongin hanya membalas dengan anggukan. “Kau menyukaiku?” tanyaku lagi.

“Sudahlah, tidak usah dibahas!” kata Jongin yang mengalihkan topik pembicaraan.

“Lalu apa yang ingin kaukatakan tadi?” tanyaku.

“Aku–” jawabnya yang lagi-lagi dipotong.

“Kai, kenapa kauselalu memotong pembicaraan yang serius?! Tidak ada gunanya aku ke mari, lebih baik aku pulang!” bentakku yang tidak tahan lagi dengan sikapnya yang sangat membuat jengkel.

Aku beranjak pergi dari bangku di taman itu, tapi tiba-tiba Jongin berdiri dan langsung mendekapku. “Kai, apa yang kaulakukan?” tanyaku.

Be mine!” bisiknya. “Maksudmu?” tanyaku yang masih tidak paham dengan perbuatan anehnya ini. “Saranghae,” bisiknya lagi.

Ia lalu melepaskan pelukannya padaku. “Aku tahu ini memang terlalu cepat, tapi aku tidak bisa menahan rasa ini lagi, Naeun…” ujarnya.

“Maksudmu tidak bisa menahan?” tanyaku. “Apa kaumasih belum paham juga kalau aku mencintaimu, itu sebabnya aku bersikap agresif padamu!” ujarnya dengan wajah sebal. “Kau mencintaiku?” tanyaku.

“Apa perkataanku kurang jelas, Naeun?!” balas Jongin mulai kesal dengan pertanyaanku yang berbelit-belit.

“Haha, aku hanya meyakinkan diriku sendiri kalau aku tidak sedang berdelusi.” ujarku. “Would you be mine?” tanya Jongin sambil berlutut di hadapanku.

“Walaupun menurutku ini juga terlalu cepat Kai, tapi kurasa aku merasakan hal yang sama denganmu.” jawabku.

“Artinya kau mau jadi pacarku?” tanya Jongin mengulang pertanyaanku.

“Iya…” jawabku malu-malu.

“Terima kasih, Naeun…” kata Jongin lalu mendekapku lagi.

“Ini bukan jebakan supaya kaubisa balas dendam dan akan meninggalkanku saat kita sudah serius, ‘kan?” tanya Jongin dan aku yakin ia cuma bercanda.

MUACH!

Aku mendaratkan bibirku di pipi Jongin. “Apa bila sudah seperti ini, masih terlintas di otakku untuk balas dendam?” tanyaku.

“Aku yakin kau tak akan sejahat itu.” jawab Jongin dengan senyuman simpul.

– END –

Ini tuh FF EXO pertama yang saya bikin, ya… pas jaman-jaman masih newbie di dunia FF gitu lah! Pernah dipublish di EXO Fanfiction dan ini adalah revisi terbaru. Maklum lah, dulu kan masih belajar… Jadi banyak banget kesalahan, dan sekarang kesalahan itu bisa agak dikurangin.

Tapi untuk masalah alur, hanya sedikit yang dirubah. Semaksimal mungkin bikin alur ngga kerasa kecepetan, sama ada part di mana mantannya Kai muncul sebagai bukti kalo Kai emang suka mainin cewek.

Lucu juga sih pas melakukan hal kaya gini, di tiap bagian yang -sekiranya- salah, pasti mikir, “Haduh… bodo banget ya dulu, kok bisa nulis dengan tata bahasa seburuk ini?”Dan, jadi agak terharu, ternyata saya belajar banyak hal dari awal sampai sekarang. Usaha keras itu memang ngga akan pernah menghianati :’)

2 thoughts on “Balas Dendam?

  1. Aaaaaaw~~ kai naeun !!! Couple faforit di exopink heheh….
    Alurnya mnrtku dah gak kcepetan kok thor, juga adegannya sweet banget aww~~ lucu jg sama tingkah kai yg ngasih aegyo ke naeun aw~~ pokoknya sip deh. Lanjutkan karya2 mu ya thor 👍👍

    Suka

Comment Is Free of Charge (*^▽^*)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s