Good Deed In My Birthday

birthmikuuu

Author: Mingi Kumiko

Cast: Lu Han, Ryu Ki Yeon (OC)

Genre: fantasy, family, friendship

Rating: General

Leght: Oneshot

 

Aku ingin berarti untuk seseorang di hari ulang tahunku…

***

Kupejamkan mata sekuat-kuatnya, berusaha agar rasa kantukku muncul dan bisa segera tidur. Namun, sudah 3 jam kucoba aku tak kunjung terlelap. Jika diingat-ingat, aku sama sekali tak melakukan aktivitas aneh apapun. Tak secangkir pun kopi kuminum, harusnya tengah malam begini aku sudah tidur.

 

Jam 12 kurang lima menit. Besok sudah tanggal 20 April. Tanggal kelahiranku. Tidak ada yang spesial dari hari itu. Yang membuat berbeda hanya beberapa orang yang memberiku ucapan selamat dan beberapa harapan mereka untukku kedepannya. Yang aku pikirkan ketika menerima ucapan tersebut adalah, apakah itu tulus dari hati mereka, atau hanya sekedar ucapan basa-basi demi sopan santun?

 

Aku tak pernah terkesan dengan ulang tahun, untuk apa? Menyusahkan saja! Aku akan bertambah tua, jika tua sudah tua, kekuatan fisikku akan menurun. Menurun, dan terus menurun. Dan akhirnya sisa umurku habis.

 

Itu lah yang membuatku heran ketika ada seseorang yang dengan suka ria merayakan ulang tahun. Membuang uang banyak untuk membeli kue tart, lalu ditumpahkanlah kue tart itu ke wajah orang yang ulang tahun. Kurasa, masih banyak fungsi uang daripada hanya untuk melemparkan kue tart ke wajah seseorang

 

CLECK!

Terdengar suara knop pintu yang dibuka pelan-pelan. Siapa yang membutuhkan bantuanku malam-malan begini? Sekejap setelah itu, segeralah aku pura-pura tidur. Agar tak ada yang menggangguku!

 

“Happy birthday to you..

Happy birthday to you..

Happy birthday dear my friend..

Happy birthday to you..” 

Terdengar senandung dari mulut yang diiringi tepuk tangan. Siapa sih yang menyanyi? benakku membatin penasaran.

 

“Luhan, Luhan.. bangunlah!” pinta seseorang sambil menggoyang-goyangkan pundakku. Aku pun berpura-pura membuka mata perlahan-lahan.

“Ada apa?” tanyaku pura-pura bodoh.

“Selamat ulang tahun, Luhan..” ucap seisi ruangan kecuali aku.

 

Aku pun bangkit karena penasaran dengan siapa yang telah mengucapkan “selamat ulang tahun” kepadaku. Terlihat Sehun yang duduk di atas ranjangku, mengingat dia yang telah mengusik tidurku. Ada juga Kai yang memegang kue tart berbentuk bundar dan sepertinya itu adalah kue black forest. Ada Suho, Chanyeol, dan Kyungsoo di belakang Kai.

“Semoga sehat selalu ya..” kata Kyungsoo sambil tersenyum.

“Iya, terima kasih.” balasku dengan balik menunggingkan senyum.

 

Aku melihat Kai yang sedang mengobrol pelan dengan Chanyeol, ia tersenyum licik, Chanyeol terkekeh kecil. Aku mencium gelagat mencurigakan, apa mereka akan melakukan sesuatu?

“Luhan, kami akan memberimu kejutan,” kata Kai dengan nada berkelok. Ah, aku paham sekarang!

Stop! Sampai situ saja!” pekikku dengan memberikan angka lima di depan wajah Kai.

“Daripada kau lemparkan kue itu ke wajahku, alangkah baiknya kalau kita makan bersama-sama saja!” tukasku tegas.

“Kau mengerti rencana kami ternyata? Baiklah, karena kau yang minta. Kita akan makan bersama-sama.” balas Chanyeol dengan ekspresi malu. Ia malu mendapat perlakuan tegas dariku.

“Kita makannya besok saja. Tidak baik makan yang manis di tengah malam seperti ini.” kata Suho.

“Ya, oke. Malam ini kalian akan menginap di sini, kan?” tanyaku.

“Kalau kau memberi izin…. boleh juga!” sambar Sehun.

“Iya, boleh. Nonton film, yuk!” tawarku.

“Film apa? NC, bukan?” sambar Kai.

“Heh! Kau ini, aku tahu kita sudah dewasa, tapi kalau ketahuan mama nonton yang seperti itu, aku bisa tidak diberi makan 2 hari!” ocehku sedikit kesal.

“Ehehe… ya sudah, terserah kau saja.”

 

“Ya sudah, film aku yang pilihkan. Genre tragedy saja ya?”

“Menangis? Oh god….” keluh Sehun tiba-tiba.

“Sekali-sekali, kau juga harus menguji perasaan.”

“Boleh juga, sih!”

.

.

 

“Lu, besok itu weekend, untuk merayakan ulang tahunmu, bagaimana kalau kita jalan-jalan?” tawar Suho.

Yeah, the great sound!” sambar Sehun.

“Yang aku tawari itu Luhan, bukannya kau!” cibir Suho ketus.

“Iya, iya, besok kita jalan-jalan. Tapi ke mana?” tanyaku santai.

“Bagaimana kalau museum fosil dinosaurus?” saran Chanyeol.

“Wah, iya… Boleh!” ucap Luhan kemudian girang.

“Jam 9 pagi kami akan menjemputmu. Tunggu ya!”

 

***

 

Pagi hari yang Suho janjikan untuk menjemput Luhan agar pergi ke museum fosil dinosaurus bersama Kai, Sehun, dan Chanyeol pun datang.

 

Suho membunyikan klakson mobilnya sebagai alarm pertanda untuk memberitahu Luhan kalau mereka sudah datang. Terlihat lah Luhan yang bergaya fashionable membuka pagar rumahnya dan segera berlari menghampiri mobil Suho.

Are you ready?” tanya Sehun.

I always ready, bro!” jawab Sehun semangat.

“Berangkaaaaaaatt!!!” seru semuanya.

 

“Kau dapat apa di ulang tahun ke 23mu ini?” tanya Kai pada Luhan.

“Ucapan selamat dan black forest dari kalian.” jawab Luhan.

“Dari orang tuamu?” tanya Chanyeol.

“Hanya ucapan selamat dan doa setulus hati.”

“Kau tak minta apapun lagi?”

“Tidak. Aku tidak ingin menerima banyak hadiah dari orang lain. Aku ingin berguna bagi yang lain untuk hari ini saja. Suka ria hari ulang tahun itu sudah mainstream.” tutur Luhan.

Ecieeehh, makin tua makin bijak!” sindir Sehun.

“Apa kau tahu bagaimana cara berguna bagi orang lain? Maksudnya…. kalau ada aku, hidup orang itu akan berubah banyak dan orang itu tak akan melupakan kebaikanku.” tanya Sehun dengan siapa pun yang bisa menjawab pertanyaannya.

“Apa ya? Kau beri saja kami uang yang banyak. Dengan begitu kami tak akan lupa kebaikanmu.” jawab Chanyeol asal saja.

Aish, kau! Bukan yang kaya gitu…..”

“Ah, kau ini aneh-aneh saja. Mendingan sekarang nikmati perjalanannya.” sabar Kai.

“Iya sih, pertanyaanku barusan memang sangat konyol.”

 

Sesampainya di Museum Fosil Dinosaurus..

“Fosil ini umurnya sudah berapa ratus tahun ya?” gumam Sehun saat melihat rangka Brontosaurus yang sangat besar.

“Yang jelas lebih tua dari kakekmu, hahaha…….” tawa Chanyeol langsung keluar.

“Kalau itu sih aku sudah tahu.” sungut Sehun seakan tak puas dengan jawaban Chanyeol barusan.

 

Di sisi lain, Luhan selesai melihat-lihat fosil dinosaurus pemakan tumbuhan, ia pun menuju tempat dimana fosil T-RAX berada.

 

Sesampainya di tempat tujuan, segera lah ia berkeliling dan membaca setiap rincian informasi yang ada di setiap fosil. Saat sedang asyik membaca informasi tentang salah satu fosil, matanya tak sengaja melihat seorang gadis duduk di bangku yang ada di museum itu. Gadis itu menunduk sambil menangis tersedu-sedu.

 

Luhan pun menghampiri gadis itu, saat jarak di antara mereka sudah lumayan dekat, Luhan pun menyapanya, “Hai…”

 

Gadis itu mendongak, memperlihatkan wajahnya yang pucat pasi karena terlalu banyak melinangkan air mata di pipinya.

“Kenapa kau menangis?” tanya Luhan, kemudian ia pun duduk di sebelah gadis itu.

“Kau bisa melihatku?” gadis itu balik bertanya dan menatap Luhan kaget.

“Tentu saja, aku kan tidak buta.” jawab Luhan.

“Bukannya begitu…. Apa hari ini kau berulang tahun?”

“Bagaimana kau bisa tahu?”

“Oh begitu ya… Jika kujelaskan, apa kau akan percaya?”

“Maksudmu apa?” Luhan memasang ekspresi bingung.

“Hari ini tepat 3 tahun aku meninggal dunia, dan yang bisa melihatku hanyalah orang yang tanggal lahirnya sama dengan tanggal kematianku.” jelas gadis itu.

Are you kidding me?” Luhan terbelalak mendengar perkataan gadis yang ada di sebelahnya itu.

“Aku tak pernah memaksamu untuk percaya, yang jelas aku telah berkata jujur.”

“Jadi…. itu benar?” tanya Luhan sedikit gagap. Ia terlalu kaget dengan apa yang ia alami sekarang. Bagaimana bisa kisah yang hanya ada di novel atau buku cerita anak-anak akan terjadi pula padanya? Gadis itu hanya mengangguk dengan pertanyaan terakhir Luhan.

 

“Lalu, kenapa kau ada di sini?” tanya Luhan lagi.

“Aku rindu pada ibu, aku ingin bicara dengannya. Tapi tidak bisa. Hanya ada satu cara untuk melakukan itu. Apa kau mau membantuku?”

“Membantu apa?”

“Bisa kah aku pinjam tubuhmu?”

“Pinjam bagaimana maksudmu…… tolong jelaskan dulu! Aku masih bingung.”

“Jadi nanti aku akan masuk ke tubuhmu, aku akan membawa tubuhmu ke rumahku. Ketika ibuku membuka rumahnya, aku akan mengaku sebagai kawanku. Pasti ibuku mengizinkan aku masuk.”

“Oh begitu…… ya sudah, aku akan membantumu. Kapan? Apa sekarang?”

“Kau izinkan sekarang? Memang boleh?”

“Boleh. Tapi…. apa aku boleh tahu namamu?”

“Oh iya, aku Ryu Ki Yeon. Kalau kau?”

“Aku Lu Han.”

 

“Kau siap untuk kumasuki arwahku?” tanya gadis yang sekarang diketahui bernama Kiyeon itu.

“Sangat siap.” jawab Luhan mantab.

Setelah mendengar jawaban Luhan yang yakin seyakin-yakinnya itu, Kiyeon pun memejamkan matanya, ia berkonsentrasi sekuat pikirannya untuk masuk ke tubuh Luhan.

 

Jadilah kini, satu tubuh yang bisa dibilang sempit itu diisi dua roh –Luhan dan Kiyeon-.

“Geseran dong, sesak tahu!” oceh Luhan pada roh Kiyeon.

“Kau pikir aku tidak sesak juga apa?” balas Kiyeon dengan ocehan yang tidak kalah rewel.

“Sudah, hentikan bicaranya! Kau tidak tahu apa, daritadi tubuh seorang Luhan ini dilihati banyak pasang mata sebagai lelaki muda yang gila karena bicara sendiri. Bicaranya di tempat sepi saja, biar aku tak dikira orang tidak waras.” omel Luhan pada roh Kiyeon.

 

Kiyeon pun diam tak menjawab sama sekali. Tentu saja, jika ia membalas omelan sengit dari Luhan, ia ragu, akankah orang yang ada di museum ini masih menganggap Luhan adalah pria yang waras.

 

Kiyeon terus menuntun tubuh Luhan berjalan menuju rumahnya yang tak jauh dari museum fosil dinosaurus itu.

“Kiyeon, kalau boleh kutahu, kau meninggal karena apa?” tanya roh Luhan.

“Menyelamatkan ibuku dari rampokan preman.” jawab roh Kiyeon.

“Heh?” Luhan sangat terkejut dengan pernyataan blak-blakan roh Kiyeon.

“Ya, ibuku dihadang preman di depan pintu masuk museum itu, dengan cepat aku menghampiri ibuku. Aku menyuruh ibuku lari, awalnya ibuku tidak mau. Tapi aku memaksanya. Aku menghadapi preman itu dengan tangan kosong, senjataku hanya nekat dan keberanian.

“Aku mendelik ke arah preman itu, tapi sepertinya ia tak terima. Jadilah ia menusuk perutku dengan sebilah pisau tajam. Dan akhirnya darahku terus mengalir, aku mati.” jelas Kiyeon panjang lebar.

“Sesayang itu kah kau dengan ibumu?”

“Tentu saja! Apa kau tega membiarkan pahlawanmu dalam bahaya? Tidak, kan?”

“Wow! Aku kagum padamu… Lalu bagaimana dengan preman itu?”

“Aku tidak tahu. Tidak penting juga untukku!”

“Apa tiap hari kau ada di museum itu?”

“O, tidak.. Setahun sekali, di hari kematianku. Kau tahu, selama 3 tahun, cuma kau yang bisa melihatku. Mungkin kau satu dari sedikit orang yang mau merayakan ulang tahun di tempat bersejarah.”

“Aku hanya menuruti ajakan teman-temanku.”

 

Langkah demi langkah ditelusuri oleh satu tubuh yang diisi dua roh itu. Perbincangan panjang juga sudah mereka bahas. Satu yang Luhan pelajari dari kisah Kiyeon, sosok ibu sangat berarti baginya. Demi ibunya, ia rela mati.

 

“Ini rumahku, cepat masuk!” kata Kiyeon saat tubuh Luhan ada di depan rumah berwarna hijau pupus.

“Oh ya, apa pun yang aku katakan nanti, jangan kau tanggapi. Nanti ibuku malah akan merasa ada yang janggal denganmu.”

“Iya.. iya.. aku paham, kok!” balas Luhan mengangguk-angguk.

 

Tok! Tok! Tok!

Kiyeon mengetuk pintu rumahnya yang tak pernah ia injak lantainya selama 3 tahun. Rasa rindu mengalir deras di jantungnya. Buliran air mata ingin sekali ia linangkan sederas rasa rindunya mengalir. Tapi itu tak akan mungkin. Ia tak berani melinangkan setetes pun air mata di pipi bersih milik Luhan.

 

“Iya, kamu siapa?” tanya ibunya Kiyeon. Ibu… ternyata, kau masih sangat cantik. Wajahmu tetap bersinar.. batin Kiyeon. Mendadak dadanya sesak, rasa rindunya benar-benar berkobar, ingin sekali ia mencium pipi dan mendekap erat wanita yang ia anggap pahlawan itu. Namun, mengingat ia yang kini meminjam tubuh Luhan, bahkan ibunya juga tak sekali pun pernah bertemu Luhan. Ia urungkan keinginan itu dan hanya menunggingkan senyum.

“Aku Lu Han.. Teman dari Kiyeon.” jawab Kiyeon.

“O… silahkan masuk, nak!” ibunya Kiyeon mempersilahkan Luhan masuk.

 

Kiyeon pun meletakkan tubuh Luhan dengan posisi duduk.

“Kau kenal Kiyeon dari mana, nak?” Tanya ibunya Kiyeon seraya memberikan Luhan secangkir teh hangat.

“Aku kenal Kiyeon dari temanku, saat kami pergi ke museum bersama-sama.”

“O begitu. Bibi merasa tidak pernah melihatmu ke mari,”

“Iya, aku baru datang dari Cina kemarin, setelah datang, aku menanyakan di mana Kiyeon pada temanku. Aku baru dapat kabar dia meninggal. Maaf, aku baru bisa berkunjung, bi…”

“Tidak apa-apa. Hari ini tepat 3 tahun kematiannya. Aku menyesal, dia mati karena aku yang kurang waspada kepada preman. Bodohnya aku malah menuruti paksaannya untuk cepat pergi meninggalkan dia melawan preman-preman kejam itu. Aku bukanlah ibu yang baik.” tiba-tiba ibunya Kiyeon pun terisak. Roh Kiyeon yang bersembunyi di dalam tubuh Luhan pun tertimpa kepanikan yang parah. Apa yang harus ia katakan? Apa ia harus terus terang kalau sebenarnya yang tengah berbincang dengannya itu adalah Kiyeon, anaknya sendiri.

 

Tapi niatnya kembali ia urungkan, ia tak mau ibunya kemudian pingsan mendengar penjelasan konyol yang jatuh dari langit.

“Apa yang bibi bicarakan? Dia bangga punya ibu seperti bibi. Bibi itu pahlawannya.” jelas Kiyeon menenangkan ibunya itu.

 

“Oh iya, bi… bolehkah aku memeluk bibi?” Tanya Kiyeon agak ragu. Mana mau ibunya memeluk seseorang yang baru dilihatnya, laki-laki pula! Hatinya terus bergemuruh demikian.

 

Tapi di luar dugaan, ibunya Kiyeon langsung mendekap tubuh Luhan sangat erat. “Aku merindukanmu, Kiyeon..” desahnya di sela pelukan itu.

“Kiyeon juga pasti merindukan bibi…” balas Luhan, yang sedari tadi hanya bisa diam seribu bahasa sesuai perintah Kiyeon sendiri.

 

Perlahan-lahan pelukan itu mulai terlepas, Ibunya Kiyeon mulai bisa mengendalikan air matanya agar tak berlinang terlalu banyak.

“Apa bibi sudah lega?” Tanya Kiyeon.

“Iya.” jawab ibunya Kiyeon. Kiyeon pun kemudian berdiri. “Bibi, aku pulang dulu ya, aku ada urusan.” ucap Kiyeon. “Kau mau pulang? Baiklah, mari kuantar.”

 

“Terima kasih sudah menyempatkan waktumu untuk ke mari. Hatiku jadi tenang, entahlah, tetapi aku merasa kau sangat mirip dengan Kiyeon.” ujar ibunya Kiyeon.

“Iya kah? Aku tak pernah sadar akan hal itu. Ya sudah, bi… Aku permisi. Sampai jumpa lagi.” salam Kiyeon menutup pertemuan mereka.

 

Saat di perjalanan, Kiyeon terus saja menari bahagia.

“Jangan banyak gerak, kau membuatku pengap!” oceh Luhan.

“O ya, maaf. Sekarang kau diam lah, aku akan keluar dari tubuhmu. Tapi hati-hati ya, beberapa menit setelah aku keluar, tubuhmu akan mendadak lemas.”

“Kenapa begitu?” Tanya Luhan heran.

“Tentu saja begitu. Tubuh itu harusnya dihuni satu roh, tidak logis kalau dua roh. Otomatis tubuhmu akan merasa keberatan, tak sanggup menopang kita berdua, jadi ya…”

“Iya, aku tahu. Ya sudah, siap-siaplah keluar.”

 

Kiyeon pun melakukan ritual yang sama dengan tadi, sebelum ia memasuki tubuh Luhan. Kini Kiyeon sudah berhasil keluar.

 

Buuufffff..” Luhan menggeleng-gelengkan kepalanya dengan bibir yang sedikit dimanyunkan.

“Pusing ya? Maaf..” ucap Kiyeon merasa bersalah.

“Tidak apa-apa. Akhirnya harapanku terkabul juga,”

“Harapan apa?”

“Di ulang tahun ke 23 ini, aku ingin sekali menjadi orang yang berguna bagi orang lain, aku ingin seseorang yang kubantu merasa senang.”

“Luhan-ah, aku sangat senang bisa bertemu dan dibantu olehmu. Kau sangat berjasa untukku. Aku bisa melepas rinduku pada ibu, aku bisa memeluknya erat. Padahal sebelumnya, aku transparan. Walaupun aku baru satu jam bertemu denganmu, tapi kau seperti teman lamaku. Kau orang baik. Terima kasih.”

“Sama-sama. Aku juga senang bisa membantumu, Kiyeon.”

“Baiklah, sepertinya aku harus pergi… Luhan, teruslah jadi orang baik. Aku menyayangimu, selamat tinggal.” kata Kiyeon dengan buliran air mata deras membasahi pipinya.

“Selamat jalan, Kiyeon.. Aku janji akan terus jadi orang baik, akan berguna bagi semua orang. Bahkan, aku akan membuat dunia menyesal karena tidak adanya aku. Selamat jalan, Kiyeon..” balas Luhan melambai-lambaikan tangannya pada Kiyeon yang terus berjalan ke depan. Air matanya pun terpaksa jatuh karena ia yang tak kuat menampung air mata di rongga matanya.

 

Kiyeon perlahan-lahan mulai hilang. Tak terlihat lagi. Secercah cahaya putih menyilaukannya. Itu lah jalan bagi Kiyeon untuk menuju dunianya yang sekarang. Dunia yang semestinya ia huni.

 

“Luhan!” panggil Kyungsoo keras sekali hingga ia berkedip dan tak lagi melihat cahaya putih menyilaukan itu. Kyungsoo dan keempat temannya berlari menghampiri Luhan.

“Kenapa bisa di sini? Kupikir kau diculik.” kata Sehun terlihat khawatir.

“Diculik? Ada-ada saja kau ini! Tidak.. aku baik saja, kok.” jawab Luhan santai.

“Kau kenapa tiba-tiba di sini?” tanya Chanyeol.

“Aku…. ya begitulah, yang jelas aku telah berguna untuk seseorang.”

“Eh, maksudnya?” sahut Kai masih bingung.

“Sudahlah, itu urusanku. Kau tak perlu capek-capek berpikir keras. ayo kembali ke mobil, matahari sudah terlalu terik, nanti kulit kita terbakar, lagi!” kata Luhan dan langsung menggiring kelima temannya itu ke mobil Suho.

“Hey, jelaskan dulu!” Kai memaksa.

“Tidak perlu. Kekeke…..” balas luhan lalu terkekeh kecil dan menahan tawa lebar.

 

end-logobyme

Huuuuoooo~ jadi juga nih FF n1n1

Khusus buat ultahnya Luhan. Ngebut nih suerr, sehari dapet ide, langsung ngetik, dan jadi di hari yang sama ketika dapet ide. -hari ini-

Jadi…. kalo ada typo, kata yang kurang dipahami, atau kesalahan jenis apapun mohon maklum ya, broh! Aku bukanlah penulis handal 40

Btw, baru kali ini lho, ada bias ultah, dibikinin FF khususnya.. *Luhan langsung GR* 636363

FF ini terinspirasi dari komik ‘Hai, Miiko!’ gak plagiat, modusnya beda! n7

Oke.. oke.. Yang udah baca, tahu dong pasti kudu ngapain??!! n6n6

Btw,

SELAMAT HARI NETES, LU HAN~ JANGAN LUPA PAJAK ULANG TAHUNNYA!!!

*sok kenal*

6 thoughts on “Good Deed In My Birthday

  1. huwwaaa~ ini fanficnya menggugah banget~!
    dalam waktu 1 Hari, harus bisa sebanyak-banyaknya memberi manfaat bagi orang lain, Aaah, aku suka idenya!

    Cuma, aku ngerasa ada bagian yang janggal ya? Kok Kiyeonnya cuma sebentar mampir di rumah? Padahal aku ngarepnya Kiyeon sama ibunya curhat-curhatan, peluk-pelukan.. Luhan, bantuin napa? Jangan diem doang! *digaplok*

    Dan aku bertekad sama seperti Kiyeon, jadi anak yang berbakti sama orangtua! :^)
    Btw, hari netes tuh apa un? :3

    Suka

  2. Ping-balik: (Soojung’s Birthday Project) Chemical Girl | Flawless Sheitte~

  3. Wahh FF-nya keren. Aku baru mengunjungi/? Blog ini wkwk maaf yaa~ aku kudet-_-
    Disini luhannya baik banget, jdi makin cinta/? Oke ini mulai gaje._. Terus bikinin FF Luhan yaa! Terus berkarya!

    Suka

  4. Waahh FF-nya keren banget><
    Maaf telat baca, aku baru mengunjungi(?) Blog ini
    Disini Luhannya baik bgt yaa jdi makin cinta(?) Banyakin bikin FF Luhannya yaa kkk~

    Suka

Comment Is Free of Charge (*^▽^*)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s