#FF : My Unrequited Love

Author : Park Min Gi

Cast : Lu Han, Han Hwae Ji, Ryu Hye Joo, Kim Min Seok.

Genre : Angst, romance, friendship, hurt, school life.

Rating : G

“Aku mencintaimu..

Biarlah aku yang memendam rasa ini sendiri tanpa kau ketahui.

Aku akan selalu membahagiakanmu karena hanya dengan itu aku bisa mengutarakan rasa cintaku padamu yang tak kan pernah terucapkan dan tak kan pernah kau mengerti.

Biarkan aku memendam rasa ini sampai matahari tenggelam lalu terbit lagi, dan sampai aku menutup kedua mata ini selamanya..”

 ******

– Hwaeji POV –

“Hwaeji-ya, nanti ulangan matematika tolong beri aku salinan pekerjaanmu ya..” pinta Luhan berbisik lembut padaku dengan nada memaksa. Dengan gugupnya aku hanya menunduk, walaupun ini bukan pertama kalinya ia meminta salinan jawaban padaku. Mungkin aku gugup karena perasaanku yang tak pernah ia ketahui.

 

“Luhan-ah, bisa kah kau menemaniku membeli buku nanti sore, kau belum membeli buku yang disuruh Park sonsaengnim juga kan?” tanyaku.

“Emmm.. memang belum, tapi aku sudah ada janji dengan Hyejoo untuk membeli buku itu sore nanti.” Jawab Luhan.

“Bolehkah aku ikut, orang tuaku tak bisa mengantarkanku ke toko buku itu..” pintaku. Kemudian Luhan mendekat padaku.

“Maaf, tapi kau tau kan perasaanku padanya. Aku menyukainya dan aku akan menganggap ini kencan. Jika kencan ada pihak ketiga ku yakin tak akan nyaman, kau tau maksudku kan?” tanya Luhan.

“Maksudmu aku mengganggu, begitu?” tanyaku.

“Tidak begitu. Hanya saja, aku ingin lebih dekat dengan Hyejoo tanpa ada seorang pun yang mengganggu.” Jawab Luhan.

“Ne, aku bisa mengerti..” kataku gelagapan.

 

Sejak dulu, dan entah kapan akan berakhir. Luhan tak pernah ada habisnya memuja Hyejoo. Dia sempurna. Cantik, jenjang, dan cerdas. Menambah kesempurnaan dirinya ketika ia dicintai dengan tulus oleh seorang namja keren bernama Luhan.

 

Aku mencintai Luhan, sangat mencintai Luhan. Aku tak tau kenapa rasa ini tiba-tiba datang. Entah dari sisi mana aku melihatnya hingga aku bisa mencintainya. Aku mencintainya dengan tulus. Walaupun terkadang cinta ini membuatku terluka.

 

Berbuat baik padanya adalah rutinitas yang menjadi hobiku. Tentu saja itu ku lakukan karena aku begitu mencintainya, walaupun ia tak kan pernah tau. Berkali-kali aku berniat mengungkapkan perasaanku padanya, hanya berniat dan itu tak pernah ku lakukan. Aku takut jika ia menganggapku yeoja konyol yang berani mencintainya tanpa alasan yang jelas.

 

Kalian dengar sendiri jika ia bilang tak mau diganggu acara jalannya dengan Hyejoo bukan? Oh sungguh, hatiku sangat menangis. Ia tak pernah sadar dengan perasaanku. Mungkin ini juga salahku yang dengan betahnya menahan rasa cintaku pada Luhan sendirian.

 

******

Saat berjalan menyusuri jalan depan taman, ku lihat yeoja yang berjalan gontai dengan pandangan kosong. Mataku terbelalak ketika melihat adanya mobil yang siap menerpa. Ku segerakan berlari ke arahnya untuk menyelamatkannya.

*Brakk*

Aku terjatuh menimpanya, fyuh.. untung dia selamat.
“Ah, kamsa hamnida kau telah menyelamatkanku. Andai saja aku fokus pada jalan pasti kau tak akan terluka karena menyelamatkanku..” ujarnya lirih.
“Ne, cheonmaneyo.. Lain kali kau harus hati-hati..” ucapku.
“Ryu Hye Joo imnida, bangapta..” katanya memperkenalkan diri. Aku tau itu, dialah Ryu Hye Joo gadis beruntung yang bisa dicintai oleh Luhan.
“Joneun Han Hwae Ji imnida.”
“Kita satu sekolah kan, seragam kita sama..” katanya.
“Ne..” aku mengangguk.
“Aku berutang nyawa padamu. Bolehkah kita menjadi teman baik?” tanya Hyejoo ramah.
“Tentu!” jawabku yakin.

 

Sejak peristiwa itu aku sangat dekat dengan Hyejoo, kami sering bertukar cerita masalah pribadi. Masalah pribadinya? Tentu saja ada Luhan di beberapa ceritanya. Mulai dari ia bilang Luhan yang ramah dan menggemaskan, romantis, dan selalu membuatnya tertawa. 180o berbeda denganku yang selalu ia buat menangis, maksudku ia membuatku menangis setelah mendengar cerita Hyejoo.

Ia juga sempat kaget ketika tau aku teman sekelas Luhan. Dengan kedaan yang seperti ini ia memanfaatkannya dengan selalu menanyakan kabar Luhan padaku. Luhan juga begitu, karena Hyejoo yang sering datang ke kelas untuk menemuiku mengajak ke kantin atau perpustakaan bersama membuat Luhan penasaran tentang hubunganku dengan Hyejoo. Setelah tau aku berteman akrab dengannya ia selalu rajin mengirimiku pesan atau bahkan bila dia habis membeli pulsa ia selalu menelponku menanyakan info lebih rinci tentang Hyejoo. Sakit? Sangatlah sakit..

Aku menutupi tangisan hatiku yang sedih dengan senyum bahagiaku. Bukannya teman yang baik harus bahagia ketika ada temannya bahagia? Walaupun dalam hatiku ini benar-benar terisak menahan iriku pada Hyejoo yang bisa diperhatikan sedemikian rupa oleh Luhan.

 

******

 

3 bulan kemudian…

Hari pengumuman kelulusan telah tiba. Aku benar-benar telah mempersiapkan ujian dengan baik dan konsentrasi, jadi ku harap apa yang aku lakukan tidak akan sia-sia. Ku harap doaku telah disampaikan malaikat kepada tuhan agar tuhan lekas mengabulkannya.

Ku lihat papan pengumuman dengan sangat gugup sambil memejamkan mata sejenak membatin, “tuhan menyayangiku dan tau yang terbaik untukku..” aku membuka mata dan melihat papan pengumuman kelulusan itu.

 

Tadaaaa.. aku berada di peringkat 6 tertinggi. Syukurlah, tuhan benar-benar mengabulkan doa panjangku yang tiada akhir. Lalu siapa yang ada di peringkat 1? Mataku jahil menengok, dan ‘wow!!!’ Luhan? Dia benar-benar hebat. Sekarang aku tau berapa sudah nilaiku, karena ku rasa kegiatan di sekolah hari ini selesai ku putuskan berbalik arah.

 

“Chagi-ya.. aku peringkat 1, aku bangga padamu!” terdengar seruan bahagia milik Hyejoo, siapa lagi jika bukan untuk Luhan?

“Ne, kau pun tak kalah hebatnya.. kau peringkat 12 bukan?” tanya Luhan.

“Ah, kau jauh lebih hebat!” Hyejoo menyangkal.

“Kau tetap hebat di mataku, saranghae..”

“Nado saranghae..”

 

Adegan Hyejoo dan Luhan pun selesai. Apakah aku sudah cerita jika tepat 2 bulan yang lalu mereka resmi menjadi pasangan kekasih? Belum kah, hmmm.. baiklah, biarkan aku sedikit menceritakan hal itu. Hyejoo dan Luhan bisa menjalin hubungan seperti itu dengan ‘mak comblang’ adalah diriku. Siapa lagi yang memaksaku kalau bukan Luhan? Lagi-lagi aku mengalami kepedihan mendalam.

 

Rasa sakit timbul di dada ketika melihat mereka bersama. Waktu Hyejoo yang mengaku sebagai teman dekatku pun berkurang karena ia sibuk dengan Luhan. Setelah kehilangan harapan untuk mendapatkan namja yang ku sayang, kini malah temanku yang paling baik dan paling membuatku sakit direbut oleh namja yang ku sayangi.

 

– Hwaeji POV End –

 

– Author POV –

 

            Persiapan menjelang pesta kelulusan yang Luhan buat karena ia mendapat nilai tertinggi dalam ujian tengah dilaksanakan. Ia meminta Hyejoo, yeojachingunya untuk membantunya mempersiapkan ini semua. “Siapa saja yang harus ku undang?” tanya Luhan pada Hyejoo.

“Undanglah teman sekelasmu.” Saran Hyejoo.

“Hmmm.. aku malas, mereka kurang akrab denganku walau sekelas.”

“Kau mengundang Hwaeji kan?” tanya Hyejoo.

“Untuk apa? Dia tidak masuk list kawan dekatku.”

“Kau tak boleh lupa jika dialah yang membuat kita sampai sedekat ini. Dia juga kawan baikku. Aku mohon..” rengek Hyejoo memanja.

“Jangan memasang ekspresi wajah selucu itu. Membuatku ingin menciummu saja!” kata Luhan bercanda sambil mengelus rambut halus milik Hyejoo.

“Kau jadi mengundangnya kan?” tanya Hyejoo.

“Ne, ne.. asal kau senang..” jawab Luhan.

Dengan segera Hwaeji mengambil ponselnya untuk menghubungi Hwaeji agar ia datang ke pesta Luhan nanti malam.

“Yoboseyo.. Bisakah kau datang ke pesta yang Luhan adakan nanti malam? Kau harusnya bisa datang! Kau harus datang! Aku tak menerima penolakan! Baiklah, datang ya.. terima kasih..” terdengar obrolan Hyejoo dan Hwaeji yang ada disana.

 

******

 

“Yoboseyo.. Aku tidak bisa.. tapi aku sibuk nanti malam.. iya, aku usahakan.” terdengar obrolan Hwaeji dan Hyejoo yang ada disana.

“Kau ngobrol dengan siapa?” tanya Minseok yang ada di sebelah Hwaeji menemani Hwaeji belanja di pasar untuk kebutuhan makan malamnya nanti. Sebenarnya Hwaeji mengundang Minseok untuk makan malam bersama nanti malam merayakan kelulusannya.

“Hyejoo. Ia menyuruhku datang ke pesta yang Luhan buat. Padahal nanti malam aku harus makan denganmu dan Jinri..” jawab Hwaeji.

“Lalu, kau datang?” tanya Minseok.

“Aku masih bilang akan ku usahakan..”

“Datanglah, tak apa.. membuat kemunduran waktu untuk makan malam juga bukan masalah besar.”

“Ah, aku tak enak. Tapi..” kata Hwaeji terputus.

“Tapi kenapa? Kau tak mau melewatkan kesempatan ini kan? Mumpung Luhan mengundangmu ke pestanya.” Celoteh Minseok menggoda Hwaeji.

“Kau benar, tapi yang mengundangku bukanlah Luhan sendiri, melainkan yeojachingunya. Aku takut jika Hyejoo memaksanya untuk mengundangku sedangkan Luhan tak ikhlas mengingat Hyejoo sangat dekat denganku..”

“Kenapa kau sangat betah memendam perasaanmu padanya, nyatakanlah!” paksa Minseok.

“Ani, aku kan yeoja tak mau menembak namja lebih dulu..”

“Kalau begitu terus kapan cintamu bisa tersampaikan?” gerutu Minseok.

“Biar saja, yang penting Luhan bahagia..”

Luhan benar-benar beruntung bisa dicintai olehmu, tapi ia masih buta dan tak sadar keberadaanmu. Kasian kau, Hwaeji-ya..” batin Minseok sambil menggelengkan kepalanya.

 

“Oh iya, temani aku mencari kado untuk Luhan, kau mau kan?” tanya Hwaeji. “Baiklah, mari ku temani.” Kata Minseok.

 

Satu jam kemudian..

 

“Akhirnya kita menemukan hadiahnya juga..” kata Hwaeji lega.

“Satu jam berkeliling hanya dapat ini?” kesal Minseok menunjuk kamus elektrik yang Hwaeji beli. Hwaeji sangat ingat ketika Luhan bilang orang tuanya tak memberi uang untuk membeli barang impiannya itu. Andai saja ia punya ia tidak perlu kesal-kesal mencari di kamus manual.

“Kau lelah, mari ku traktir bubble tea..” ajak Hwaeji.

“Bubble tea kan mahal, apa uangmu tak habis? Kamus elektrik itu kan mahal.” Tanya Minseok.

“Uang tabunganku masih ada.” Kata Hwaeji.

“Mwo? Jadi kau mengambil uang tabunganmu hanya untuk membeli kado semahal itu yang akan kau berikan pada orang yang sama sekali tak pernah menganggapmu lebih dari teman?” tanya Minseok terkejut dengan ketulusan cinta yang dimiliki yeoja ini.

“Kebahagian Luhan adalah kebahagiaanku juga..” ucap Hwaeji.

“Aku tak bisa melihatmu tersiksa dengan perasaanmu yang tak berbalas ini Hwaeji-ya.. aku kasian padamu. Bagaimana jika aku memberitau Luhan tentang perasaanmu ini?” saran Minseok.

“Tidak perlu, aku tak mau merusak hubungan baikku dengan Hyejoo, kau tau kan aku dan Hyejoo berteman sangat dekat? Oh iya, aku peringatkan padamu ya, jangan pernah sekali pun kau menyebarkan perasaanku ini pada Luhan, arraji?” jawab Hwaeji sambil menyedot bubble teanya.

“Ne, ne. Arraseo.. Dasar keras kepala.” Cibir Minseok.

 

******

 

Malam yang Hwaeji tunggu akhirnya datang, dimana ia akan datang ke pesta yang Luhan adakan. Bagaimana dengan dandanannya, ia berniat untuk tampil spesial. Tapi mendadak teringat Hyejoo, jika ia berdandan yang benar-benar spesial dan menunjukkan kecantikan tersembunyinya ia takut Hyejoo akan curiga. Hwaeji memang suka berpikir berlebihan.

 

Ia berjalan menyusuri jalan sekitar perumahannya dengan sangat tergesa-gesa. Ia takut terlambat. Sambil mencincing rok panjangnya dan membawa kado yang dibungkus sangat rapi ia berlari menuju jalan raya untuk mencari taksi.

 

Lampu menyala hijau membuatnya ia harus berhenti dan mengurungkan niat untuk menyebrang. Mendadak hujan turun dan memburamkan penglihatannya. “Aigo, hujan.. jika aku basah kuyup akan sangat memalukan!” pikirnya.

 

Dengan tergesa-gesa ia kembali mencincing rok panjangnya dan melindungi kado untuk Luhan di rompinya tanpa memikirkan kepalanya yang akan pusing jika terkena hujan. Bisa dibayangkan betapa besar cinta gadis ini untuk pujaan hatinya itu? Hanya orang bodoh yang tak akan tau.

 

Tanpa memperhatikan rambu-rambu lalu lintas dengan ugal-ugalannya mobil melintas menghindari lampu merah. Tak memikirkan ada orang yang tengah menyebrang. Apalagi bertujuan memberikan kado spesial untuk pujaan hatinya.

*Ciiiiittt…* *Braaakkkk*

 

Suara mengerikan itu terdengar. Dengan cepatnya tubuh jenjang Hwaeji terkapar di tengah jalan setelah insiden tabrak lari itu terjadi. Seketika orang-orang mengerumuni tubuh Hwaeji yang tak berdaya dan tak sadarkan diri.

“Ottohke? Tersangkanya kabur, kita harus membawanya kemana?” tanya seseorang yang ada di lokasi.

“Coba rogoh sakunya, mungkin ia membawa ponsel.” Saran rekannya. Ia pun menurutinya dan mengambil ponsel di saku kanan rok Hwaeji. Saksi itu melihat pesan masuk dari Minseok yang belum Hwaeji buka. Mungkin saat Hwaeji sibuk berlari Minseok mengiriminya pesan dan Hwaeji tak menyadarinya. Pesan itu berbunyi,

Ternyata aku juga diundang oleh Luhan, sampai jumpa di rumah Luhan ya..

 

“Mungkin namja ini bisa dihubungi..” pikir sang saksi dan langsung menekan tombol hijau di handphone Hwaeji.

“Yoboseyo.. kawanmu yang memiliki nomor ini kecelakaan di jalan **** jika kau mengenalnya datanglah kemari!” kata saksi itu singkat dan langsung menup panggilannya.

 

Di sisi lain..

 

“Yoboseyo.. mwo? Jinhcayo dia kecelakaan?” panik Minseok setelah mendengar penjelasan saksi. Belum sempat ia masuk rumah Luhan ia segera kembali menuju lokasi insiden dimana Hwaeji berada.

 

Kini Minseok telah sampai di jalan tersebut. Betapa kagetnya ia melihat keadaan Hwaeji berlumuran darah di sekitar kepalanya. “Hwaeji-ya!!!” panggil Minseok panik dan langsung menghampiri raga Hwaeji.

“Bawa dia ke rumah sakit, aku mohon!” Minseok panik. Saksi yang kini diketahui bernama Yixing itu memeriksa nadi Hwaeji.

“Kenapa tak ada denyut, apa dia tewas?” gumam Yixing lirih.

“Mwo? Kau jangan bercanda!” hardik Minseok.

“Aku tak pernah bercanda dengan kematian orang!” balas Yixing.

 

Minseok pun memeriksa juga denyut nadi Hwaeji, memang benar tak ada denyutan. “Tak mungkin.. tak mungkin jika ia pergi secepat ini!” pikir Minseok masih tak percaya. Ia terus saja mencubiti dirinya sendiri memastikan ini hanya halusinasi, namun hasilnya nihil. Ini kenyataan.

 

Terdapat di tangan Hwaeji kado yang terbungkus sangat rapi, ia langsung berspekulasi bahwa itu untuk Luhan.

“Panggillah ambulance!!!” pinta Minseok.

“Ne..” Yixing mengangguk dan segera lepas landas memanggil ambulance.

 

******

 

Sehari setelah itu…

 

“Terbaring dengan tenang, Han Hwae Ji..” disambut isak tangis keluarga terdekat atas kepergian teman, keluarga, dan saudara mereka, Han Hwae Ji. Isak tangis membanjiri taman pemakaman. Hyejoo, teman yang isakannya paling deras di pelukan Luhan.

 

Terdapat Minseok dan Jinri juga disana. Jinri tak kalah terisaknya dengan Hyejoo.

“Aku benar-benar tak rela ia pergi..” kata Jinri.

“Begitu juga denganku..” sahut Minseok menahan tangisnya karena ia adalah seorang lelaki. Walaupun sesungguhnya lazim untuk siapapun menangis ketika kehilangan orang yang dikasihinya, tapi Minseok enggan melakukan itu.

 

Beberapa saat setelah itu, Minseok datang menghampiri Luhan yang tak merasakan apapun. Kehilangan pun hanya sedikit ia rasakan.

“Luhan-ah..” panggil Minseok, Luhan pun menoleh.

“Ada apa?” tanya Luhan. Minseok pun memberi bungkusan kado yang sedikit rusak karena hujan kemarin untuk Luhan.

“Untukku?” tanya Luhan menunjuk dirinya sendiri.

“Ini dari Hwaeji, ia tertabrak saat menyebrang agar sampai ke rumahmu, hanya untuk pestamu!” Minseok melakukan penekanan pada 3 kata akhir.

 

Luhan membukanya bungkusan itu, ia terkejut setelah tau jika isi bungkusan itu adalah kamus elektrik, benda impiannya sejak dulu. Bahkan itu merk yang bagus dan terkenal mahal. Terdapat tulisan yang menyelip dalam bungkusan itu.

Luhan-ah, selamat ya atas keberhasilanmu. Kau sangat hebat. Semoga kado dariku ini bermanfaat..🙂” seketika Luhan terharu dengan kado dari Hwaeji, bagaimana Hwaeji bisa tau apa yang dari dulu Luhan inginkan.

 

Satu yang menjadi misteri bagi Luhan sekarang dan untuk selamanya tak akan terjawab, kenapa Hwaeji selalu menaruh perhatian berlebihan padanya?

 

– TAMAT –

 

Haloooo… #lambai2 -_-”
Brodeul < bahasa apha’an nih? Gue dateng dengan FF genre angst. Cuih, bergaya banget pengen sok bisa bikin sedih.

Ho’oh, gue pengen mencoba hal yang baru, setelah sukses dengan genre yaoi sekarang pengen angst. Plotnya biasa aja sih ya, akhir-akhirnya mati. Innalillahi wainnailaihi roji’un.. #nadahin tangan.

Gimana nih FF, keren ngga? Bilang keren donk biar gue seneng #maksa.

Castnya Luhan, iya gue pengen ngenesin dia😛

Mohon ya yang udah baca jangan langsung kabur, dosa loe gedhe banget sumpah.

15 thoughts on “#FF : My Unrequited Love

  1. quotesny yakin sumfeeh bagus banget jleb di dasar hati yang terdalam.. pas baca..
    #hening..
    ga bisa dpt feelny T.T duh, ngebayangin km yg buat ff ini, aku jadi ngakak malah -_- feel sadny kok ga bsa aku rasain T.T #cacat..
    yakin deh, apalagi km orgny kocak kok ga cocok gt nulis ff angst .___. #tendang.. duh, maaf ya😥
    haha😄 tp, aku hargai km mencoba buat fic angst🙂 AYYOOOK, TERUS BERKARYA😀 #capsjebol ._.

    Suka

  2. Ping-balik: #FF : My Unrequited Love | YEHET!

Comment Is Free of Charge (*^▽^*)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s